Selasa, 11 Oktober 2011

#12 Kita Putus Aja Deh

Ada seseorang yang begitu menyayangiku, sejak kapan tepatnya aku tak tahu. Dia sangat menyayangiku, aku tahu itu. 

Ia selalu ada untuk menghapus air mataku dan menepuk-nepuk punggungku saat aku mengadu. Ia tak pernah berkata tentang cinta, tapi dia selalu mengungkapkannya melalui pengorbananya? Romantis bukan? Aku berani bertaruh, tak ada orang dengan pengorbanan yang begitu besar selain dia.

Aku memang bukan kekasih yang baik, terkadang aku memang sangat manja, namun terkadang juga sok dewasa. Aku suka meminta hal-hal aneh yang tak tahu sikon. Dan suka cemberut saat ia membatalkan acara di malam minggu. Aku sering mengancamnya dengan kata putus dan kembali ia menyadarkanku bahwa ia masih menunggu sesuatu dariku.

“Ah, kita putus aja deh.”
“Loh kok gitu? Nyesel loh nanti.”
“Nggak akan!”
“Kalo putus, nanti yang nanda tanganin rapormu siapa?
Yang dateng pas kamu wisuda siapa?”
“Ah Ayah….”
“Yang jadi pacar kamu siapa?”

Meskipun kita putus, ayah tetap kekasihkku, bukan mantanku.

Ayah, percayalah
aku menyayangimu,
meski tak pernah mengatakannya
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.