Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Memang, Seperti Katamu

oleh Aslan Abidin

Memang pertemuan itu sepele saja
seperti dusta yang tak terencana, atau suara
tawa yang iseng. Seperti katamu. Tapi mengapa
tertinggal rindu yang memekik bagai suara
tuter yang ditekan tak sabar?

Memang cinta itu masih ada.
Seperti katamu. Tapi pada bagian mana
di hati kita ia tergeletak?

Percintaan kita sebentar saja memang.
Seperti katamu : bagai lolong anjing
di kejauhan. Hanya untuk kita merapatkan selimut.
Atau denting tiang listrik yang dipukuli orang
di ujung gang, sekadar untuk memperjelas larut.

Tapi mengapa kita
mencari-cari tempat melambai ketika
berpisah?

Memang pada saat itu, kita tak berkata apa-apa.

Makassar, 1996.

Senin, 04 Juli 2016

Bahagianya Merayakan Cinta

- Salim A. Fillah, dalam Bahagianya Merayakan Cinta.

Bagi mereka yang mengupayakan cinta
hanya ada iklim hangat dan iklim sejuk
meski ada godaan aurora dan pelangi khatulistiwa.

Bagi mereka yang mengupayakan cinta
setiap musim membagi cindera mata
kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasa hangat
juga payung dan layang-layang.

Bagi mereka yang mengupayakan cinta di tiap cuaca
cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat,
hujan menyanyi rezeki, badai mengeratkan peluk
dan tiba-tiba, surga mengetuk pintu rumah.

Sabtu, 28 Mei 2016

Ambang Batas Perbedaan

Lampu-lampu jalan dan detak-detak canggung ingin kau ada
yang perlahan redup karena kau bukan lagi orang yang sama.
Kita tak mampu membedakan maksud di balik niat manusia,
pun berani mencoba menebak apa arti dari tiap-tiapnya.
Sebab, kebohongan dan kejujuran terkadang hanya
dibatasi oleh hal-hal sesederhana kata-kata.

Setelah beberapa rindu yang kaubagi-bagikan,
kau akan kembali untuk menabung hal yang sama—
dan tetap saja dapat kutemukanmu di mana-mana;
sebagai dingin yang menyelinap di sela-sela jendela,
halaman-halaman buku yang belum selesai kubaca,
atau cerita lama saat aku sedang tidak ingin tertawa.

Mereka bilang kau sedang berusaha mencari dirimu,
baik dari sudut pandang jendela kereta, hari-hari lalu,
atau pandangan ke depan yang berjalan sesuai rencanamu.
Aku membayangkan kau bangun setiap pagi dan berkaca tanpa
menemukan siapa-siapa, meminjam bayangan siapapun yang ada,
dan tetap terlihat seperti tak pernah cukup dengan segala sesuatunya.

Sebab melepaskan kacamata bukan penyelesaian masalahnya.
Kau berubah samar namun tetap ada tepat di hadapan mata dan
memejamkannya makin membuatku tak mampu melihat apa-apa.
Sering kita lupa bahwa gelap juga merupakan sebuah penyelesaian
dari setiap kemungkinan, juga bagian dari harapan yang ditekan—
menolak untuk dijelaskan dan enggan muncul ke permukaan.

Aku bicara kepadamu dan kau tetap tak mendengar apa-apa.
Kau pergi dan kemudian muncul kembali sebagai orang yang berbeda.

Senin, 09 Mei 2016

Jangan Bertanya Kenapa

oleh Aan Mansyur dalam Tidak Ada New York Hari Ini

Jika kau ingin menyembunyikan kesedihanmu.
aku akan berada di dasar paling gelap lautan—
atau hidup, apa bedanya? —sebagai jutaan hewan
kecil yang bernapas dan bernyanyi untukmu dengan cahaya.

Jika kau ingin terbang tanpa angin tapi langit
membuatmu takut, aku akan jadi kebebasan
dan sayap yang tidak pernah lelah mengepak
di punggungnya.

Jangan bertanya mengapa. Setiap orang
memiliki satu jawaban yang menolak diberi
pertanyaan.

Kelak
kau tahu.

Senin, 29 Februari 2016

Inteligensi Embun Pagi

puisi pembuka dalam serial Supernova : Inteligensi Embun Pagi, oleh Dewi Lestari.
 
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara

Kau hadir dalam ketiadaan
Sederhana dalam ketidakmengertian
Gerakmu tiada pasti
Namun aku terus disini
Mencintaimu
Entah kenapa

Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada

Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi

Tunggu aku,
yang hanya selangkah dari bibir jurangmu

Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan
segala jejak dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani antara duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap
saat Bumi bersiap diri untuk selamanya lelap

Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu

Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup

Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini
Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati

Dimensi tak terbilang dan tak terjelang
Engkaulah ketunggalan sebelum meledaknya segala percabangan
Bersatu denganmu menjadikan aku mata semesta
Berpisah menjadikan aku tanya dan engkau jawabnya
Berdua kita berkejaran tanpa pernah lagi bersua

Mencecapmu lewat mimpi
Terjauh yang sanggup kujalani
Meski hanya satu malam dari ribuan malam
Sekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku
Sekali mengenalimu menjadi tujuan hidupku

Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama

Bara yang membakar nadiku ini
Magi yang menyulap semestaku ini
Hanya singgah untuk musnah
Tersihir, tersiksa, tersia-sia
Di antara angkara
Dua kutub yang berbeda
Kita meregang
Tak berkesudahan

Di ufuk engkau terbenam, aku terbit
Di ufuk engkau tenggelam, aku pasang
Sejauh apa pun garis waktu engkau tempuh
Hadirku selalu di balik matamu
Seluas apa pun ruang yang engkau rengkuh
Cintaku selalu di luar sadarmu

Akulah awal dan engkulah akhir
Meniadakan kita berdua
Adalah satu-satunya cara kita bisa bersama

Kamis, 24 Desember 2015

Dalam Doaku

oleh Sapardi Djoko Damono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana.

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku.

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Kamis, 12 Februari 2015

Februari dan Es Krim Vanila

: Nyoman Ayu Tia Cindy

Pada waktu kita berusaha dewasa untuk saling menguatkan,
hingga satu dan dua langkah dari usia dua puluhan.
Kau yang bergitu keras, aku yang begitu bimbang.
Jalan-jalan yang kini kita lalui, persis seperti yang ada di dalam hati.

Kau tahu mengapa aku menjadi seperti sekarang,
aku tahu cerita-cerita yang menjadi alasan.
Kau yang serupa Februari dan aku mengingatmu
melalui pena tinta, es krim vanila serta warna ungu.

Berlama-lama di toko buku, bercerita hingga senja,
mengandaikan yang tak ada lalu tertawa.
We're happy, free confused in the best way.
It's miserable and magical just like Taylor Swift said.

Mulai dari pensil hingga penghapus—
apa yang menjadi milikmu akan kembali padamu.
Hingga kehadiran seorang sahabat yang tulus—
apa yang menjadi takdirmu akan menemuimu.

Selamat ulang tahun, Tia! As one of several persons who can make me be an extrovert in front of them, just in front of them, I thanked you.

Kamis, 13 November 2014

Mellema yang Lain

Dari sosok yang bisa tiba-tiba pergi seperti Herman Mellema,
dipadu sosok yang tak setegar Nyai Ontosoroh
kami ada.
Dari tawa canda pada masa-masa lama
menjadi derai air mata berkala
yang kini ada.

Namun, kami bersyukur tak jadi pembenci serupa Robert Mellema.
Kami menyayangi satu dan yang lain dengan
perbuatan tanpa kata.
Kami juga tak rapuh serupa Annelies Mellema,
malah semakin jelita setiap obat bius
meresapi nadi kami.

Aku bukannya menolak tahu jika itu melemahkanku.
Dia bukanya tak peduli jika itu tak ingin ia ketahui.
Kami hanya menolak kalah.
"Melawan, Minke. Dengan segala
kemampuan dan ketakmampuan." kata Nyai.
Maka kami bertahan.

Catatan :
Puisi diatas terinspirasi dari roman Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Nama-nama diatas adalah tokoh-tokoh dalam roman tersebut.

Kamis, 21 Agustus 2014

Peopohonan, Dedaun Gugur dan Matahari

Ketika kau ingin berhenti percaya dan
sudah tak tahan dengan segala rahasia,
bersabarlah, berdoalah, biarkan lalu.

Mungkin pepohonan akan terhuyung-huyung
menyampaikan pada Tuhan mereka
bahwa ada kita yang tak henti-henti berdoa.

Hingga daun-daun gugur bergemerisik
pada Ia Yang Menjadikan Warnanya Pudar
bahwa ada hamba-Nya yang memilih diam
dan setuju untuk bersabar.

Mungkin matahari akan berkata
pada Ia Yang Menjadikan Sinarnya Nyata
bahwa kita pantas untuk bersama
pada waktunya.

Rabu, 09 Juli 2014

Elegi

oleh Rivai Apin

Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan
Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan
Janganlah kau bersedih dan mari kami lanjutkan
Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya.

Kami pun tahu, karena ada satu kata dari kau yang kami simpan
Satu pandang dari tanah retak menggersang, lalu sedu menyesak dada,
Ah, kenangan padamu kan terus memburu,
- menakutkan seperti bayang di pondok seloyongan,
bila pelita telah dipasang.
Tapi penuh kasih seperti Bapak yang mengulurkan tangan
Dan kau kembali, seperti hari-hari dulu
Ketika kau dan ini bumi mendegupkan hidup

Kami tak kan lupakan kau, ketika memburu dan ketika lari
- karena apa yang kami buru dan apa yang kami lari
untuk itu mau serahkan nyawamu
Dan kami yang menimbang jasamu
Pun tahu, seperti kau pun tahu, bahwa tak ada
Dewa atau Tuhan lain yang berharga untuk dihidupi selain itu
Berhembus pun topan di padang tandus ini
Tapi tampak kami yang tertanam di padang gersang,
di mana kau dalam terkubur
Melanjutkan nyala, dan kami yang tegak berdiri disini ialah api.
Kita tahankan hidup di ini malam, yang akan melahirkan siang.

Kita adalah anak-anak dari satu Bapak
Kita adalah anak-anak dari satu Ibu
Dan mati bagi kita hanyalah soal waktu
Tapi kita semua mempertahankan satu Tuhan

Adik yang akan datang, Kakak yang telah pergi
Kita angkutlah ini tanah-tanah yang retak,
ini tanah-tanah yang gersang.
Keberatan beban, kesakitan bahu memikul,
dan kepahitan hati akan kekalahan
Akan menyaratkan cinta pada kepercayaan
Yang kita peluk.

Majalah Siasat, 9 Januari 1949.

Kamis, 08 Mei 2014

Kupasrahkan Saja dalam Doa

Kita tak hidup dengan percakapan panjang
dan pertemuan-pertemuan berkala.
Cukup doa-doa rahasia
dan rindu yang sederhana.

Sebab tak ada dendam
kepada mereka yang saling menggenggam.
Aku justru bahagia disaat kita berjumpa
dan saling menundukkan mata.

Karena tak dapat kuungkapkan
kata yang paling cinta,
kupasrahkan saja dalam doa.
Selamat berjuang, selamat berpetualang.

Kalimat bercetak miring adalah baris dari puisi milik Sapardi Djoko Damono yang berjudul Karena Kata.

Sabtu, 26 April 2014

Homemade Opera

Pada suara gagang pintu pukul satu malam,
hati yang mendingin dan bibir yang terkunci diam,
izinkan aku menjadi lebih kuat
bukan hanya karena kebetulan sempat.

Serta sore dengan abu rokok yang lupa dibuang
dan gema tawa di meja makan yang telah lama hilang,
izinkan mereka tetap tinggal
meskipun dengan sosok yang tak lagi kukenal.

Izinkan aku menjadi lebih tabah
tanpa harus kehilangan arah.

Rabu, 01 Januari 2014

Salam Untukmu dari Tahun Baru

(bersama Ratu Beatrix Nandia)

Perjalanan dengan kursi-kursi kosong dan keramaian kota,
juga nama yang sama di ujung tahun berbeda.

Perlu kukatakan bahwa bunga api di langit itu
bagaikan senyumnya setelah lama
terhalang raksasa jarak yang telentang.

Seiring doa tentangmu yang mengudara
bersama letup kembang api yang hingar dalam dada,
selaju dengan para menit dan detik malam ini,
adalah aku yang menemukanmu lagi
dalam samudra ingatan.

Aku yang menantimu bersama pancang dermaga,
untukmu yang kan diantar Pemilik Alam Semesta.
Aku yang menunggumu pulang
sebagaimana keyakinanku seiring semesta
yang membahasakan para rinduku.

Begitulah aku berdoa,
untuk menjadi tempatmu berlelah; tempatmu merumah.

Rabu, 20 November 2013

Karnaval

Kita jalan-jalan ke pasar malam
dan naik bianglala.
Merasakan degup kencang kembang api
dari dada sebelah kiri.

Lalu membeli kembang gula,
juga balon merah muda,
menonton badut jenaka
yang bertanya alasan kita saling jatuh cinta.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Alasan Sederhana

Aku mencintaimu dalam keheningan;
sebab kaulah debar-debar
yang cukup membuat keramaian 
seperti lagu-lagu dalam pikiranku,
yang kian mirip dengan kata-kata 
dari bibirmu.

Irama dalam Pikiranku

Aku ingin tahu
mengapa bising lautan
pada hari-hari sendu begini,
yang berucap lewat ombak-ombak berdeburan
selalu bersenandung pada lagu-lagu cinta
yang mengingatkanku
pada hingar tawamu.

Sebab pada malam-malam asing begini
kau jadi teramat ramai
dalam pikiranku—
sedangkan aku pun tak punya cara
yang lebih baik
dari rindu yang masih ada
serta hati yang terjaga
untuk satu kali lagi
membawamu kembali. 

Selasa, 02 Juli 2013

Tuhan yang Menjaga Doa

Disini satu kalimat pernah kauperdengarkan
diantara lambaian tangan dan kata-kata perpisahan.
Tentang aku yang tenggelam pada senja di matamu,
kau yang menemukan aku dalam setiap pagimu.

Seperti bagaimana kita saling mengenali,
sesamar bayangan kabur tanpa lensa,
namun seperti rusuk yang dengan mudah
mengenali setiap patah demi patah bagiannya.

Kita akan sampai pada waktu-waktu yang jauh
dan mengenalinya dengan nama masa depan.
Akan ada sudut-sudut berairmata yang butuh pelukan,
juga hari-hari yang tak berjalan sebagaimana mestinya.

Maka kubiarkan janjimu melingkar di belakang telingaku
atau seperti aku pada gagang kacamatamu,
sebab Tuhan selalu tahu cara membuat doa
tetap selamat hingga sampai di tempat yang jauh.

Sabtu, 29 Juni 2013

Delayed Departure

Degup-degup ingin tahu yang dingin
dan rasa rindu yang menjadi bubur—
berputar kembali dalam siklus sama,
mengikuti alur tanpa petunjuk cara.

Lalu kupersiapkan kehilanganku sendiri
dan mengingat kau satu kali lagi—
berputar kembali dalam siklus sama
dan aku tetap jatuh cinta.

Selasa, 09 April 2013

Dini Hari dari Jok Sebelah Kiri

Aku akan terjaga selama kau betah menyetir
sepanjang perjalanan, sampai lagu terakhir dan
habisnya malam.

Kita akan bicara tentang acara favorit sepanjang pagi,
juga lampu jalanan yang satu-persatu mulai mati.

Jalanan yang tahu isi bagasi mobilmu;
waktu yang menebak apa isi kepalamu.

Sebab ia membuntuti kita dengan tergesa.
Tapi tenang saja; ia tak akan tahu kita sedang
jatuh cinta.

Selasa, 22 Januari 2013

Hal-Hal Yang Tetap Pada Tempatnya

Kita melihat orang-orang berbicara dengan 
dahi berkerut dan air mata, beberapa menutup 
mulut dengan sesak di dada. 
Begitupun suara derap langkah kaki yang 
semakin nyata dengan hingar suara sepi yang 
semakin ada, ia membuat petunjuk dengan 
jejak sepatu kalau-kalau kita tersesat dan 
ingin pulang buru-buru. 
Kita cerita yang tak akan pergi kemana-mana 
sebab tak seorangpun bisa memberi judulnya
Tuhan masih belum mau menuliskan epilog, 
mungkin Dia menyukai bagaimana 
masing-masing dari kita saling menerka. 
Kita sepasang yang sengaja melupakan selamat tinggal, 
sebab kita sama-sama tahu akhir adalah dimana 
kita memulai sesuatu yang baru.

Kutulis kau dalam setiap catatan kaki dari sebuah
cerita yang tak henti kubaca kembali.