Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Swastamita

- untuk Pekan Seni Mahasiswa Universitas Brawijaya - Selasa, 22 Maret 2016.

Lampu jalanan mulai menyala satu persatu. Kedai-kedai pinggir jalan tak pernah sepi oleh pembeli. Beberapa sudut dipenuhi oleh pasangan yang berdua-duaan, sudut lain dipenuhi oleh sekumpulan lelaki paruh baya yang bermain remi. Ada pula kelompok pemuda-pemudi yang mendiskusikan pemimpin yang telah menjabat begitu lama dan merekut rekan-rekan terdekatnya untuk duduk di kursi yang sama.
 
“Kebetulan bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ kata seorang pemuda di meja sebelah.

Satya menatap Laras, ia pernah mengucapkan kalimat itu. Sebagai anggota pers mahasiwa, Satya sering mendengar berbagai macam kalimat dari berbagai jenis individu. Hal itulah yang membuatnya mampu mengingat dengan tepat kalimat apa diucapkan oleh siapa. Begitu pula kutipan-kutipan yang pernah ia baca, apakah itu dari sebuah buku, cerita pendek atau puisi yang menjadi makananya sehari-hari.

Kenyataannya, konsep bahwa kebetulan adalah hasil dari sinkronisitas pernah didengar Laras dari sebuah orasi pada aksi pertama yang ia ikuti. Sejak mendengar konsep itu, ia tak lagi percaya akan adanya sebuah kebetulan. Sejak saat itu pula pekikan revolusi menjadi makanannya sehari-hari, pita merah yang tersimpul di lengan sebelah kanan selallu menjadi aksesori saat ia turun aksi.

Satya adalah lelaki paling perfeksionis yang pernah Laras temui, ia selalu terobsesi dengan keteraturan. Segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya. Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku yang disusun menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang berjalan sesuai dengan rencana. Laras menatapnya dan bertanya,

“Mengapa kau menyukai arunika, menyukai cahaya pagi?”
“Cahaya pagi itu menenangkan, arif, inisiatif. Ia membangunkan hari yang lelap. Awal dari segala muasal.” ungkap Satya singkat, menyaratkan rasa hormat yang kuat.
Laras mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lalu, mengapa kau menyukai swastamita, menyukai cahaya senja?” tembak Satya, menatap balik mata Laras lekat-lekat.
“Cahaya senja itu anggun. Ia adalah cara langit jingga mengecup gelap malam. Tidak terang dan tidak gelap. Tidak bangun, tidak juga lelap. Ia adalah perantara yang sempurna. Ia sementara, tapi mampu meninggalkan kesan yang nyata.” ungkapnya tenang, menyaratkan kekaguman.
“Jadi kita ada di tim yang sama, swastamita?” tanya Satya.
“Tentu saja. Jadi, itu kode nama kita? Arunika dan swastamita?” tanya Laras balik.
“Ya.” kata Satya, ia tersenyum.
Satya mengenalkan Laras pada sudut pandang yang berbeda. Pemikiran anggota pers mahasiswa memang tak seperti orang-orang kebanyakan, ucap Laras dalam hati. Di saat rekan-rekan kuliahnya mengajak ia berdiskusi mengenai revolusi, Satya mengenalkan keindahan propaganda melalui indahnya kata-kata. Di saat rekan-rekan kuliahnya menanamkan aksi nyata di depan gedung pemerintahan, Satya mengajarkan bagaimana menyusup dengan lembut namun mematikan. Mereka rutin menghadiri pementasan drama, pameran lukisan hingga pembacaan puisi. Tak jarang mereka sekadar menikmati keheningan dengan berjalan berdampingan atau saling mengisi sela-sela jari dan saling mengucap janji.

Laras yang cerdas, lucu dan anggun di saat yang bersamaan membuatnya Satya luluh, bahkan tanpa ia sadari. Berapapun buku yang telah ia baca, diksi yang telah ia mengerti, ia tak mampu menggambarkan apa yang ia rasakan. Laras adalah hasil dari sinkronisitas sekaligus kekhawatiran dalam hidupnya. Sebagai seorang aktivis, Laras akrab dengan tembakan peluru, gas air mata, juga bentrok massa. Tak terhitung berapa pekikan revolusi  ia kumandangkan, sejalan dengan prinsip sosialisnya yang begitu kuat ia pegang.

“Tak perlu jauh-jauh ke uang, bahkan untuk makan pun terkadang kita masih cari gratisan. Mari bicara soal waktu. Sebab, pada hakikatnya, korupsi bukan hanya soal mencuri, melainkan menggunakan sesuatu sesuai porsi.” ucap Satya mantap.
“Namun, tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan itu dengan sempurna bukan? Selalu ada hal-hal yang luput dari perhatian; waktu-waktu sisa yang terbuang, rahasia-rahasia diantara setiap kemungkinan atau hal sepele seperti bagaimana membedakan aster dan krisan.” kata Laras sambil mengangkat bahu.
“Tidak. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna, kita hanya bisa berusaha untuk mencapai itu. Namun, jika kau menyepelekan waktu, uang seribu, apa lagi yang akan kausepelekan? Kerja keras ibumu?” ucap Satya.
Lagi, Satya mengecek arloji, seakan setiap detik telah ia perhitungkan, setiap kata telah ia rencanakan, seperti yang ia biasa lakukan. Laras bertanya-tanya, bagaimana cara Satya menghadapi spontanitas? Apakah ia akan kikuk serupa tikus yang meringkuk karena dingin atau ia justru percaya diri karena punya belasan rencana yang telah ia setting.
“Bukan hanya aparat, tetapi kau...atau kita yang biasa jingkrak-jingkrak demonstrasi di jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” tambah Satya.
“Apa yang harus dipertanggungjawabkan?” kata Laras sambil menggenggam lengan cangkir kopi di depannya.
“Korupsi bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil, kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak akarnya. Bisa jadi, kita salah satu dari akar itu.”  jawab Satya.
“Tapi seharusnya mereka mampu menahan hasrat itu bukan? Atau mungkin tidak. Hasrat itu memang menuntut untuk dipenuhi, namun mereka tidak melakukan upaya apapun untuk menekannya. Artinya, sama saja. Hasrat itu dipupuk dan dibiarkan bertumbuh. Semakin besar, semakin kuat, semakin susah untuk ditumbangkan.” kata Laras, naif.
“Wasana, kekuatan bawah sadar yang mempengaruhi karakter, berdampak pula pada perilaku. Terkadang ada beberapa hal yang kita lakukan tanpa mengerti alasan dibaliknya, ingin saja. Padahal ada kekuatan id yang ikut campur disitu. Mungkin mereka begitu, supergo dan ego mereka tidak cukup kuat untuk mengontrol id yang ada.” jawab Satya.
“Ditambah lagi, sesuatu yang mendapat penguatan pasti akan diulangi dan bisa terbentuk menjadi sebuah kebiasaan. Di sisi lain, sesuatu yang mendapat pelemahan belum tentu tidak diulangi. Ah, ini semua melelahkan” kata Laras sambil menopang dagunya.
“Semuanya kembali ke moral.” jawab Satya singkat.
“Kebetulan itu bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.” tanya Laras.
“Kau sudah pernah mengucapkan kalimat itu padaku.” kata Satya.
“Aku tahu. Artinya, kebetulan itu tidak ada bukan? Bahkan dibalik mengapa aku mengucapkannya dua kali padamu pasti beralasan.” kata Laras.
“Ya, aku berbincang disini denganmu pun adalah hasil dari sinkronisitas dan akan menghasilkan sinkronisitas yang lain.” kata Satya, memperjelas suasana.
“Kalau begitu, kutunggu sinkronisitas yang lain itu.” kata Laras, menggoda.
Satya tersenyum. “Tunggu? Buat! Besok? Setelah senja?”
“Setelah senja.” jawab Laras.
Mereka saling tersenyum. Satya menyelipkan helaian rambut Laras ke telinganya. Ada yang tersembunyi, namun mereka sama-sama mengerti.

 ---

Mimbar memang begitu menggoda, siapapun yang berkelakar diatasnya akan tertarik untuk mencari tepuk tangan dan pujian, seolah ada mantra yang membutakan. Begitu turun, mereka akan lupa apa yang telah mereka katakan. Mungkin itu efek samping dari mantranya.

Satya sedang berada di warung pinggir jalan kesukaannya ketika Laras sedang menyingsingkan lengan almamaternya. Diiringi bising kendaraan, Satya menuliskan puisi-puisi propaganda di secarik kertas, pekerjaan sehari-harinya.

Aku ingin mengajakmu tinggal di kota,
menjauh dari hukum-hukum rimba
yang berkedok meja bertaplak hijau
dipenuhi bising burung-burung yang berkicau.

Laras sedang mengepalkan tangan ke atas ketika Satya sedang melompati pagar yang digunakan sebagai pembatas. Diiringi kalimat-kalimat revolusi, dalam hati Laras bersumpah bahwa hari esok tak boleh sama lagi.

“Hidup rakyat Indonesia!”
“Hidup rakyat Indonesia!”

Kala itu, memang sedang ramai-ramainya orasi terbuka dan aksi demostran. Pedagang kaki lima di sekitar jalan sudah biasa mendengar pekikan bernada tinggi atau lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan sepenuh hati. Namun, siang itu berbeda. Aparat datang beramai-ramai dengan pelindung lengkap. Suara tembakan peluru terdengar tak beraturan seolah asal dilontarkan sesuai keinginan. Gas air mata membabi buta, memenuhi udara.

Dalam tiga jam, jalanan mulai sepi. Demonstran-demonstran yang memenuhi jalanan tak tahu kemana rimbanya. Begitupun Laras, ia yang berada di tengah barisan menghilang tanpa pesan, yang tersisa hanya pita yang tadi melingkar di lengan kanannya. Sumber pertama mengatakan ia ditangkap aparat karena dianggap sebagai provokator ricuh dalam aksi. Sumber kedua mengatakan ia dan beberapa demonstran lain dibawa ke unversitas luar provinsi karena dianggap menyusup dalam kelompok dan menimbulkan konflik. Entah mana yang dapat dipercaya.

Tak lama, cerita-cerita mengenai konflik antara aparat dan demostran yang pernah terjadi berhenti berhembus. Cerita yang tadinya memiliki banyak versi itu kini hanya memiliki satu versi, itupun tak banyak yang mampu mengingat. Mungkin cerita itu memang cepat terlupakan atau memaksa untuk dihilangkan.

---

Rumah itu cukup tenang, hanya sesekali terdengar suara pompa air, pagar yang berdecit dan celoteh-celoteh tentang korupsi. Setiap sore, laki-laki tua itu duduk manis di teras rumahnya dan menikmati cahaya senja. Setelah matahari terbenam, barulah ia berpindah ke ruang tamu. Seolah merasa tengah diamati, para tetangga yang lewat selalu menoleh sejenak.

“Bukan hanya aparat, tetapi kamu...atau kita yang jingkrak-jingkrak demonstrasi di jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” kata seorang ibu dengan daster bermotif batik.
“Ya, ya, ya. Itulah kata-kata yang selalu ia ucapkan. Memangnya ini jaman orde baru?” seorang ibu berambut ikal menimpali.
“Mungkin saat muda dulu ia aktivis.” kata ibu berdaster sambil meratakan bedak di dahi anak dalam gendongannya.
“Ia tinggal sendiri?” tanya ibu berambut ikal.
“Sekarang, ya. Dulu ia tinggal bersama orang tuanya, namun mereka sudah meninggal belasan tahun lalu. Ia membujang dan itulah alasan kenapa sekarang ia tinggal sendiri di usia setua ini.” jawabnya.
“Mungkin memang benar kalau kesepian itu bisa menggerogoti kesadaran.” kata ibu berambut ikal.
“Korupsi bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil, kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak akarnya.” kata suara dari teras rumah.
“Mulai lagi dia. Setiap sore selalu begitu.” kata salah satu ibu sambil berlalu dari depan rumah itu.

Ia masih sama. Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku yang disusun menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang berjalan sesuai dengan rencana. Digenggamnya pita yang pernah ia temukan tergeletak di tengah jalan. Terdengar suara televisi memberitakan korupsi yang makin hari makin menjadi-jadi.

Pengalaman sebagai anggota pers kampus membuatnya akrab dengan cerita-cerita yang tak selesai atau akhir yang menggantung manja. Namun untuk yang ini, sama sekali ia tak memiliki daya.

“Kebetulan bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ ucapnya. Entah pada siapa.

Bukan sebab akibat, melainkan kecocokan sandi, ketepatan waktu dan semesta yang mengamini usahamu. Ia merasa ada satu sinkronisitasnya yang belum memberikan hasil.

“Kau kemana, swastamita?” kata lelaki tua itu pelan.

Kalimat itu terdengar kembali. Satya menikmati swastamitanya untuk yang terakhir kali.

Rabu, 09 Juli 2014

Satu Alasan

"Kamu cantik sekali, Aira. Apalagi kalau ditambah senyum." kata Ibu.

Aku pun tersenyum.

Ibu merapikan tudung di kepalaku. Aku tak mungkin menunjukkan rasa bimbangku pada senyumnya yang sedang mengembang. Di sudut lain rumah ini, laki-laki itu pasti merasakan kebahagiaan dengan porsi yang lebih besar dari yang dirasakan ibuku. Mungkin ia masih membersihkan sisa-sisa ragunya atau bahkan sudah siap dengan segala kepercayaan dirinya.

Kini, semua mata memandang kami. Sayup-sayup kudengar bisik-bisik bahagia dan mencela. Tak ada siapa-siapa di pikiranku. Tak laki-laki ini, tak laki-laki lain. Aku tahu pernikahan ini takkan bisa ditunda apalagi dihentikan dengan cara apapun. Hanya dengan sepatah kalimat yang akan ia ucapkan, tanggung jawab terbesarku akan berpindah dari orang tua menjadi pada lelaki ini, lelaki yang tangannya sedang menggenggam tangan ayahku. Begitu ajaib.

Aku tahu, Tuhan takkan memberikannya jika Ia tahu bahwa laki-laki ini tak baik untukku. Maka, aku mencoba percaya. Mencoba menerima. Aku hanya butuh satu alasan untuk merasa yakin. Kurasa aku telah menemukannya.

"Sah?"
"Sah!"

Air mataku menetes. Aku mencium tangannya.

Aku mencintaimu karena aku mencintai-Nya, itu cukup.

Kamis, 08 Mei 2014

Jika Istrimu Seorang Penulis

Apakah yang ada dalam pikiranmu jika kau mendengar kata penulis? Mungkin seorang kutu buku dengan kacamata tebal atau seorang pecinta aksara yang selalu terlihat bersama laptopnya. Mungkin juga seorang penghemat kata yang punya banyak diksi nyata atau seorang yang supel dengan idealisme tinggi.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, kau akan akrab dengan buku-buku lama atau nama-nama sastrawan yang tak kau tahu siapa. Mungkin kau akan menerka-nerka siapa itu Sutan Takdir Alisjahbana dan mengapa ia suka sekali membicarakannya. Mungkin kau akan penasaran siapa itu Abdul Muis dan mengapa ia menjadikannya panutan dalam menulis.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, kau akan menemukan satu waktu dimana ia sibuk di depan layar atau dikejar-kejar deadline editor. Kau juga akan menemukan satu waktu dimana ia harus pergi keluar kota untuk melakukan bedah buku atau promosi. Jika nanti kau menemukan waktu itu, tetaplah ingat bahwa kota-kota hanyalah nama seperti jarak kepada angka; dan rindu bukanlah alasan untuk khawatir.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, kau akan mendapati namamu dalam setiap kata pengantar buku tulisannya atau kebiasaan-kebiasaan kecilmu yang menjelma karakter ceritanya. Kau akan menemukan karya dimana seluruhnya berujung pada satu nama, yang tak lain kaulah pemiliknya. Namamu akan menjadi puisinya yang paling indah, yang tanpa alasan, yang tak mampu terjelaskan.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, kau akan menemukan satu waktu dimana kalian bedebat tentang paham masing-masing. Maka, pastikanlah kalian saling mendengarkan satu sama lain, tak hanya aspirasi yang dijelaskan berapi-api, tetapi juga celoteh-celoteh tengah malam ataupun rindu yang berdegup disaat kalian saling diam.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, aku yakin kau akan suka membaca. Tidakkah kau ingin tahu bagaimana manisnya ia menggambarkan sosokmu? Tidakkah kau ingin belajar bagaimana ia mengungkapkan sesuatu yang belum pernah kau dengar? Maka, membacalah.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, kau adalah dongeng yang tak bosan-bosan ia ceritakan sekalipun Putri Salju telah tertidur mendengarkan dan Peter Pan telah dewasa dibuatnya. Ia akan menulis cerita tentang kalian yang takkan pernah habis kau baca, serupa kehidupan kecil kalian yang ia harap akan lebih abadi dari selamanya.

Jika istrimu kelak adalah seorang penulis, ia akan tetap menjadi perempuanmu yang setia menunggu di rumah. Akan ia tunggu setiap pagi dengan secangkir kau yang manis dan hangat. Serta tiga detik senja yang berujung di matamu— juga ia yang tak pernah bosan terkagum dalam bisu. Lalu pakailah kacamatamu dan siapkan isi kepala, yang tak pernah mampu sempurna ia terka sekalipun mencoba sekuat tenaga. Ia akan menunggu dengan manis sampai kau pulang bekerja, sambil menulis dan tetap jatuh cinta.

Rabu, 15 Januari 2014

Surat Untuk (Calon) Anakku

Teruntuk anakku kelak,

Sebagaimana hari kemarin dan kemarinnya lagi, hingga entah berapa kemarin yang telah lewat diantara seribu satu pertanyaan yang hinggap, kau hadir sebagai satu tanya yang menetap. Kau yang belum dapat kubelai hitam rambutmu dan kau yang belum dapat kugenggam tangan mungilmu. Mungkin kau masih disana, di antara ruang dan waktu yang tertata sedemikian rupa, sebagai sebuah rahasia yang tak mungkin dapat diterka.

Anakku, aku janji akan memberikan ayah yang terbaik untukmu dengan cara memperbaiki diriku. Bukan lelaki yang paling tampan, bukan lelaki yang terkaya, tetapi lelaki yang akan menyayangiku sebagaimana ia akan menyayangimu dengan ikhlas. Sebab, mereka bilang kita cukup berkaca untuk tahu seperti apa jodoh kita, ia akan menjadi pantulan diri kita, apakah kita baik atau sebaliknya.

Aku mendamba saat dimana kita akan menjelma dalam satu jiwa, dimana kita bernafas bersama, bergerak bersama dan berbincang tanpa satu kata pun perlu kuucapkan. Kau akan lelap dalam tubuhku, mengecap apa yang kulahap dan merasakan apa yang kurasa. Dimana kau begitu dekat dengan tubuhku, dimana aku akan semakin tak sabar untuk bertemu denganmu.

Hingga saat kau tiba, duniaku tak akan lagi seperti sebelumnya. Aku akan menjadi manusia yang berbeda. Kau kan menjadi simbol lahirnya kehidupan baru. dengan kaki-kaki mungilmu, kau akan belajar menjajaki ibu pertiwi, mengenali arti hidup baru ini. Dengan genggaman tanganku, aku akan merawatmu dengan penuh kelembutan, memanjakanmu dengan doa-doa hingga kau dewasa. Kita akan sama-sama belajar, aku akan belajar mencintaimu -sebagai guru, juga sahabat terbaikku, sebagaimana kau belajar untuk mengenalku dengan jasad barumu.

Aku akan ada saat kau mengucap kata pertamamu, mendengar kau bernyanyi riang melantunkan lagu kesayangan, mengingatkanmu pada setiap lirik yang salah. Hingga akhirnya, pangkuanku akan menjadi tempatmu melepas lelah, dekapanku akan menjadi tempat ternyamanmu saat kau tak tahu kemana harus mengambil arah. Aku juga akan ada saat kau melangkahkan kaki di sekolah pertamamu, dimana kau tak hanya akan belajar membaca, tetapi kau juga akan tahu mengapa air mata boleh saja terjatuh asal tak terlalu lama.

Anakku, kita akan berada dalam sebuah siklus yang tak kita sadari. Setelah sekian lama aku membimbingmu, kau akan memapahku. Kau akan menjadi pegangan hidupku saat kakiku terlalu lemah untuk berdiri. Kau akan menjadi pengingatku saat aku tak mampu mengendalikan pikiranku lagi. Kau akan menjadi orang yang paling aku butuhkan, aku rindukan.

Hingga pada akhirnya yang tersisa padaku hanyalah kulit berkerut dan rambut yang memutih. Tak juga jiwa hanya tubuh yang ringkih. Perlu kau tahu bahwa kasihku padamu takkan habis tercurahkan, sekalipun raga kita belum dipertemukan. Gema tawamu akan selalu menggema di kepalaku sampai aku terlelap di pusaraku.

Sampai bertemu. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu disana untukku.
Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk saya kirimkan pada suatu challenge menulis di tumblr. Namun karena beberapa kesibukan, tulisan ini selesai tiga hari setelah deadline. Akhirnya, disinilah tulisan ini bertempat tinggal.

Rabu, 20 November 2013

Setelan Jas Perak dan Telur Dadar

Cerita pendek berikut pernah saya muat di blog ini dengan judul Telur Dadar dan Koper Besar sebagai versi berbeda. Untuk kepentingan tugas sekolah, saya menambahkan plotnya di beberapa bagian. Selamat membaca.
Pukul tujuh lewat enam belas malam.

Seorang wanita berdiri di sudut lobby sebuah kantor yang bernuansa cokelat. Sesekali ia menghela nafas panjang, entah karena lelahnya berdiri atau lamanya seseorang yang ia nanti.

"Disa! Maaf menunggu lama, mobilku sedikit bermasalah di parkiran tadi."
"Kukira kau lupa kalau kau punya janji dengan seseorang."
"Tentu tidak, aku bukan pelupa sepertimu. Selain itu aku juga tak manja sepertimu."
"Dasar kau!"
"Ternyata kau memang mudah dibuat jengkel, Disa. Kalau begitu, mari kita lanjutkan pertengkaran ini di kafe favorit kita."
"Jika aku tak mencintaimu, Ardhy, sudah kutancapkan hak sepatu ini di kepalamu sejak tadi."
"Ampun!"

Sebuah mobil sedan hitam melesat menuju tengah kota, membelah jalan raya dengan hingar tawa yang sesekali terdengar di dalamnya.

Pukul sembilan lewat delapan belas pagi. 

“Rara, empat hari lagi kan Ayah ulang tahun. Rara mau kasih apa?”
“Mau bikin syal rajut warna biru sama Bunda!”
“Loh, kemarin kan udah?”
“Hmmm, iya. Enaknya apa ya, Bunda?”
“Gimana kalo Bunda ajarin Rara masak. Bikin telur dadar.”
“Iya, mau. Mau Bunda!”

Esoknya, seorang gadis kecil belajar membuat telur dadar dengan bundanya. Ia mengorbankan waktu mainnya untuk bercengkrama dengan dapur dan segala isinya.

“Bunda, Rara yang mecah telurnya sama motong bawangnya ya?”
“Rara bisa? Nanti Rara yang ngocok aja.”
“Nggak mau! Rara kan pengen pinter masak kayak Bunda.”
“Iya deh, Rara kan udah besar, udah pinter.”

Pukul empat lewat tiga puluh sore.

"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada setelan jas hitam dan kemeja putih, Mbak?"
"Wah, maaf, untuk setelan tersebut kami sedang kosong. Tapi kami punya setelan jas perak dan kemeja hitam, yang ini termasuk favorit pelanggan kami."
"Oke. Saya ambil satu ditambah dasi perak dan dibungkus untuk kado."
"Baik. Kado ini ditujukan untuk siapa?"
"Tulis saja Ardhy Santoso."
"Baik. Silahkan ditunggu."

Pukul tujuh lewat sebelas malam.

Hari yang ditunggu tiba, sang Ayah berulang tahun. Rencana Rara untuk memasak bersama Bunda pun telah tersusun. Namun bagi Rara, kehangatan yang sama tak lagi ada semenjak terdengar adu teriakan ayah dan bundanya satu malam sebelumnya. Keduanya saling tutup mulut, berbincang pun hanya tentang hal penting dan basa-basi. Selebihnya, tidak sama sekali. Rara tahu, pasti ada yang terjadi.

“Bunda, ayo kita masak telur dadar! Kan Ayah ulang tahun.”
“Rara masak sama Ayah ya? Bunda lagi capek.”
“Tapi Bunda udah janji sama Rara.”
“Maaf ya sayang.”

“Ayah, Rara udah bisa bikin telur dadar loh!”
“Wah, anak Ayah hebat!”
“Ayah mau?”
”Wah, Ayah udah kenyang, sayang. Lain kali ya.”

Rara sedikit kecewa, namun kecupan Ayah pada keningnya membuat ia kembali ceria. Malamnya ia tidur berdua bersama Bundanya. Sang Ayah lebih memilih tidur di kamar depan.

Sepertiga malam ia terbangun. Hendak ke kamar mandi namun sang Bunda tak lagi di sampingnya. Terdengar adu teriakan itu lagi. Rara takut. Ia berjalan berjingkat menuju sumber suara, teras rumah. Ia mengintip dari sela pintu yang terbuka. Terlihat ayahnya menenteng sebuah koper, seakan hendak pergi entah kemana.

“Aku mau pergi. Nggak tahu sampai kapan dan kamu nggak perlu tahu kemana.”
“Beraninya kamu lari dari keadaan?”
“Aku nggak lari, aku cuma butuh sendiri. Tolong mengerti.”
“Sendiri? Atau ke wanita itu? Mana tanggung jawabmu?”
“Beraninya kamu menuduhku seperti itu. Ini bukan sepenuhnya salahku!”
“Apa artinya aku untukmu? Apa arti Rara buatmu?”
  
Gadis kecil itu menghapus air matanya. Surat perceraian tergeletak di meja.

Pukul tiga lewat sepuluh pagi.

"Ada apa kau kesini pagi buta begini, Ardhy?"
"Aku cuma ingin kaulah yang kulihat pertama kali di hari ini."
"Bagaimana dengan istrimu Widya dan anakmu Rara? Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tahu kau ada disini?"
"Istriku sudah tahu. Dia sudah menandantangani surat perceraian yang kuajukan. Kami hanya perlu menghadiri sidang terakhir minggu depan."
"Baik. Masuklah."

Tiga puluh empat menit kemudian ayam jantan berkokok. Matahari bangkit dari suakanya, jalanan kembali ramai, semesta mengakhiri cerita tentang setelan jas perak dan sebuah telur dadar.

Senin, 24 September 2012

Di Sebuah Kedai Kopi

"Kamu pesen apa?"
"Disini yang enak apa?"
"Coffee-lattenya enak. Ada juga irish coffee, terus macchiato, kopi tubruk juga ada."
"Kamu kok lebih cerewet dari waiternya sih?"
"Haha, udah langganan sih."
"Bakat jadi tukang obat kamu, pinter nyerocos"
"Jadi pesen apa?"
"Apapun yang kamu pesen, kaliin dua deh."
"Sialan, percuma dong aku jelasin."
"Haha, siapa juga yang minta dijelasin."
"Coffee-latte dua, tiramisu dua, mas."
"Coffee-latte dua, tiramisu dua. Ditunggu."

Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong
Why carry on without me?

Everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see you in my dreams
I see your face, it's haunting me
I guess I need you baby

"Eh, eh, dengerin deh!"
"Kamu kentut ya?"
"Bukan tau. Dengerin lagu ini, nih."
"Ah, aku tau nih, sering denger di radio."
"Lagu siapa coba?"
"Mariah Carey ya?"

"Ngarang!"
"Adele?"
"Bukan, Britney Spears tau!"
"Nah itu maksudku."

"Bilang aja nggak tau susah amat."
"Lagu galau, bukan seleraku nih."
"Dasar belagu."

**
I make believe
That you are here
It's the only way
I see clear
What have I done
You seem to move on easy

"Mbak, permisi, toko kami sudah mau tutup. Mbak bisa datang lagi besok."
"Oh, iya, maaf, mas. Terima kasih."

"Itu mbak-mbak yang suka ngobrol sendiri itu kan?"
"Iya. Terus pesen dua gelas kopi, tapi yang diminum cuma satu."
"Tiap hari kerjaannya nungguin toko tutup, kalau nggak ditegur nggak pulang."
"Kenapa ya tuh orang?"
"Tau, sakit jiwa kali."

Senin, 21 Mei 2012

Kepada W 5653 SF

Kepada W 5653 SF,

Pada suatu siang yang terik, aku sedang menerka-nerka apa yang dilakukan pemilikku ketika ia duduk santai di atas jokku hingga langit berubah menjadi kelabu, padahal tak ada yang sedang ia tunggu selain asap dan truk-truk berdebu.

Keesokan harinya, aku masih menerka-nerka apa yang dilakukannya ketika ia membawaku berputar-putar ke selatan yang jauh, hingga ban-banku ini terasa melepuh, padahal tak ada tempat yang ia datangi selain jalanan dengan spanduk lusuh.

Pada hari berikutnya di tempat yang sama, pemilikku melihat pemilikmu, berkacamata dengan kemeja biru, pernah ku lihat sebelumnya dan entah mengapa ia amati dengan saksama sambil sesekali membuang muka saat pemilikmu melihat ke arahnya. Lalu, aku mengerti akan sesuatu yang kurasa perlu ku sampaikan padamu.

Mungkin kau tahu saat pemilikku berusaha mencuri-curi pandang ke pemilikmu lewat kaca spionku sambil sedikit berpura-pura tidak tahu saat pemilikmu menoleh ke arahku. Atau saat ia mengamatimu dan menghafal deretan angka di bemper depanmu. Ku akui, dia gadis yang lucu, suka berpura-pura tidak tahu dan punya alasan seribu satu. Sederhana, tapi juga bisa terlalu. Dia bukan gadis penguntit, hanya ingin tahu sedikit.

Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah kau jarang kembali ke tempat itu lagi, mungkin tetap berusaha mencari atau menghentikan semuanya setelah menangis semalaman sebelumnya. Karena aku tahu, tak akan ada yang bisa ia sampaikan selain degupan rindu.

Jadi, katakan pada pemilikmu, bahwa pemilikku mencintainya, bahkan lebih dari kecintaannya pada kopi dan puisi-puisi favoritnya. Atau mungkin lebih dari keikhlasan pemilikmu menyeka air hujan yang singgah pada tubuhmu lewat cipratan air di jalan.

Katakan saja, meskipun salah satu dari kita harus rela tidak dikendarai beberapa lama jika mereka benar-benar bersama.

Tertanda,
W 6262 TR