Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Desember 2019
Medium Account
Due to several things I finally made a Medium account and will be write more there (I hope so). Visit my Medium here!
Jumat, 11 Oktober 2019
Nags : Fatigue
Reading several last posts in my blog, I realize that I nagged so much these month, haha. Things come and go so fast until I'm sure no one has my whole story of everything that happened to me these days. Remembering that I always update my story to a person that I believe so much, enough describing how fast things change. To me who is not that flexible to changing, these moments can be so stressful.
Sometimes I can be so bothered about the reason why things around me happened. For example, when I feel uncomfortable in my society, I ask myself why people can be so unaware to the person near them. How could they don't care, why so self-centered. Things are so distracting these times. Like, when I'm still in my preparation for several things, world keeps rushing me and when I think I'm ready, everything's went away; like, why it's happened, and what Allah is trying to say to me.
As a person who often listen stories from people, I get to know more why people can be so annoyed only because of things that we think unimportant; because it's not that easy to be objective to see our own problems. Suatu masalah akan berbeda apabila dilihat dari orang yang mengalami dan orang yang mengamati. I once read, kita membutuhkan orang lain untuk menjadi mata elang dan melihat masalah kita dari ketinggian; dari sudut pandang yang lebih luas. Sedangkan, kita berada di dalam kondisi yang sulit untuk melihat sesuatu dengan lebih komprehensif. From that, we should know that sometimes we need another perspective to see our problem. The most important thing for me, is to take a break from thinking the problem, so we can think about it clearer. Sometimes, I hate myself for being too emotional, because it was so tiring (which not all of my friend realize that I can be that way). But now, I can accept myself more for being emotional because it's normal to be one in several conditions, denying it will make us stressful instead, as long as we got the line.
I'm not sure what I'm trying to say, but; good luck, self!
Sabtu, 05 Oktober 2019
Tentang Perfeksionisme
Kemarin, saya membaca Instastory dari salah seorang penulis favorit saya, Urfa Qurrota Ainy, mengenai perfeksionisme. Saya jadi ingat saat di mana saya banyak melakukan screening untuk organisasi di kampus. Saya melihat bahwa di mata teman-teman saya yang juga melakukan screening, perfeksionisme ditangkap senagai sebuah sifat dengan konotasi negatif. Mereka yang menggambarkan dirinya dengan sifat perfeksionis dianggap sebagai orang yang selalu menuntut kesempurnaan, tidak mudah diberi saran, dan egois pada orang lain. Padahal, menurut saya pribadi menuntut kesempurnaan dan egois adalah dua variabel berbeda. Setelah membaca Instastory tersebut, saya menjadi semakin menyadari bahwa memang, sifat apapun pasti memiliki dua kutub, jika terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menjadi negatif, termasuk pada sifat-sifat yang memiliki konotasi positif sekalipun. Baik misalnya, terlalu baik juga ditangkap sebagai sifat yang cenderung negatif bukan? Kadangkala, perfeksionisme hanya memerlukan wadah yang tepat. Urfa mencontohkan bahwa editor buku misalnya, memerlukan sifat perfeksionis tersebut. Jika tidak, tentu hasil pekerjaannya tidak akan begitu baik. Hm,jadi tertarik untuk terjun sebagai editor buku. Begitu pula dengan profesi lain seperti akuntan, graphic designer, dll.
Saya baru sadar beberapa tahun belakangan ini bahwa saya memiliki sifat perfeksionis dan bahkan telah menumbuhkannya sejak kecil. Ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya sering menyobek buku tulis sekolah saya ketika tulisan saya jelek, karena meskipun tulisan tersebut sudah dihapus dengan penghapus, akan tetap menimbulkan bekas pensil. Saya tidak suka dan saya menganggap itu jelek, jadi saya menyobeknya, haha. Pun ketika memasuki kehidupan kampus, saya cenderung mengisi posisi yang mengerjakan pekerjaan administratif dan kesekretariatan organisasi (yang mungkin) karena sikap perfeksionis tersebut. Namun pada beberapa hal, orang lain justru menganggap saya sangat toleran. Saya pun menyadari sifat toleran saya adalah pada orang lain, bukan diri saya sendiri. Saya menganggap kesalahan adalah hal yang wajar untuk dilakukan orang lain sebagai proses belajar. Namun, untuk diri saya sendiri, seringkali saya merasa bahwa salah itu sebisa mungkin sangat harus dihindari. Butuh beberapa waktu untuk saya bisa berdamai dan menakar perfeksionisme yang saya miliki dalam ukuran yang pas agar tidak menyusahkan diri sendiri maupun orang lain.
KIta kembali lagi pada pendapat klasik yang ternyata tidak semua orang bisa memahaminya dengan baik, bahwa kelebihan adalah juga sebuah kekurangan, dan kekurangan adalah sebuah kelebihan yang tersamarkan. Boleh jadi, orang pandai adalah orang yang bisa memahami kekurangannya. Namun, orang hebat adalah orang yang mampu menjadikan kekurangannya sebagai sebuah kekuatan. Coba beri ruang yang tepat, bisa jadi sifat yang kita anggap sebagai kekurangan itu justru menjadi kekuatan kita.
Another thought :
Rasanya, perfeksionisme tidak selalu identik dengan rapi, teliti, dan detail. Ketika perfeksionisme dianggap sebagai sebuah paham untuk menjadikan segala sesuatunya sempurna, kita perlu mengingat bahwa standar sempurna setiap orang berbeda-beda. Jadi, belum tentu orang yang sama-sama perfeksionis pasti dapat selalu bekerja sama dengan baik. CMIIW.
Rasanya, perfeksionisme tidak selalu identik dengan rapi, teliti, dan detail. Ketika perfeksionisme dianggap sebagai sebuah paham untuk menjadikan segala sesuatunya sempurna, kita perlu mengingat bahwa standar sempurna setiap orang berbeda-beda. Jadi, belum tentu orang yang sama-sama perfeksionis pasti dapat selalu bekerja sama dengan baik. CMIIW.
Jumat, 04 Oktober 2019
Being a Kindergarten Teacher : #1 Sparks
Bulan Oktober ini, memasuki bulan ke tujuh saya bekerja di taman kanak-kanak sebagai guru kelas. Lebih tepatnya, saya menjadi partner-teacher atau partner dari wali kelas (setiap kelas diajar oleh dua guru). Untuk pembelajarannya sendiri, sekolah kami menggunakan sistem sentra. Jadi, selain pembelajaran di kelas, ada pula sesi untuk sentra tersebut. Singkatnya, sentra merupakan sistem moving class di mana anak-anak berpindah sentra setiap harinya. Setiap sentra memiliki karakteristik dan fokus tersendiri dan dipegang oleh satu guru. Misalnya, sentra kisah, sentra kreasi, sentra alam raya, sentra atletik, dan lain-lain. Saya sendiri memegang sentra anak shalih yang cenderung berfokus pada nilai agama dan moral, yang tetap didukung oleh aspek-aspek perkembangan yang lain, yaitu fisik motorik, kognitif, bahasa, seni, kognitif, dan sosio-emosional. Banyak hal-hal ajaib yang saya alami setiap harinya semenjak hari pertama saya bekerja di taman kanak-kanak. Mulai dari murid yang menempel pada saya sejak hari pertama dan hingga kini selalu memeluk saya setiap kali kami berpapasan, hingga civil war yang sering terjadi saat pembelajaran di kelas. Iya, civil war. Hampir setiap hari selalu ada siswa yang menangis, entah karena dipukul teman, atau memang sedang cranky...
Saya teringat salah satu foto yang diunggah oleh dosen pembimbing skripsi saya di Instagramnya. Di sana, beliau menceritakan bahwa profesi pertamanya adalah menjadi guru taman kanak-kanak. Fyi, beliau adalah dosen dan psikolog di bidang psikologi perkembangan yang juga berfokus pada studi inklusivitas kampus. Mengetahui bahwa ternyata beliau juga memilih guru taman kanak-kanak sebagai profesi pertamanya, membuat saya semakin bersemangat mencari ilmu dan terinspirasi oleh beliau, plus menjadi bangga akan pekerjaan saya saat ini. Diantara stigma mengenai lulusan Psikologi yang (hanya) menjadi seorang guru taman kanak-kanak (entah stigma itu memang ada atau hanya di kepala saya saja), hal tersebut menjadi motivasi tersendiri.
Salah satu hal yang menjadi perhatian saya saat ini adalah bagaimana untuk menjaga diri agar saya tidak berangsur-angsur menjadikan aktivitas mengajar ini sebagai sebuah rutinitas saja, yang akhirnya saya lakukan sebagai sebuah formalitas saja; yang penting selesai. Namun, menjadikannya sebagai hal yang menyenangkan dan memunculkan sparks tersendiri setiap saya melakukannya. Ketika di kampus, kegiatan mengajar menjadi semacam rehat dari kesibukan akademik dan hiruk pikuk organisasi. Namun, ketika mengajar itu sendiri sudah menjadi sebuah profesi, rasanya berbeda. Saya sendiri menyadari bahwa secinta apapun kita pada suatu hal, ada kalanya hal tersebut menjadi menjemukan atau melelahkan. Namun, bagaimana caranya agar kita bisa menemukan penawar ketika perasaan jemu atau lelah itu muncul.
Semoga kita semua bisa selalu belajar dari segala aktivitas kita, dan tidak hanya terhanyut dalam rutinitas. I think I found one of mine. And you, have you find thing that spark a light in you?
"I believe a lot of our lives are spent asleep, and what I've been trying to do is hold onto those moments when a little sparks cuts through the fog and nudges you." - Rufus Wainwright.Seperti yang pernah saya tulis di akun Instagram saya, salah satu alasan saya memilih mengajar di taman kanak-kanak sebagai profesi pertama saya adalah karena saya menemukan banyak insight ketika berinteraksi dengan anak-anak (selain karena memang banyak hal yang bersinggungan antara psikologi perkembangan dan pendidikan anak usia dini). Dengan kata lain, banyak momen eureka yang terjadi ketika saya berinteraksi dengan mereka. Entah ide abstrak yang tiba-tiba muncul, atau pembelajaran hidup maupun akademik yang terlintas di pikiran saya. Saya banyak belajar. Selain itu, mengajar anak-anak adalah proses menanam. Banyak hal yang bisa kita tanam terlepas dari pembelajaran yang memang tercantum di kurikulum, banyak hal yang akan terinternalisasi dalam diri mereka hingga mereka dewasa, tanpa mereka menyadarinya. Rasanya pasti menarik jika bisa mengetahui ketika besar nanti mereka akan menjadi apa dan bagaimana. Namun, hal ini menjadi ancaman sekaligus tantangan tersendiri, karena kita selalu dilihat oleh puluhan bahkan ratusan anak-anak yang merekam setiap gerak-gerik dan kata-kata kita setiap detiknya, dan bisa saja berefek kepada mereka secara permanen. Memang yaaa, dealing with kids is no easier than dealing with adults.
Semoga kita semua bisa selalu belajar dari segala aktivitas kita, dan tidak hanya terhanyut dalam rutinitas. I think I found one of mine. And you, have you find thing that spark a light in you?
Minggu, 25 Agustus 2019
Akan Baik-Baik Saja
Hai kamu, sini —mendekatlah. Saat kamu sedang merasa tidak begitu baik, atau sebut saja; tidak baik. Duduk sebentar, biar kuberitahu beberapa hal.
Bahwa menerima memang tidak pernah semudah mengatakannya. Mengalaminya berkali-kali pun tidak selalu membuat semua menjadi lebih mudah. Tidak perlu selalu dengar apa kata orang. Mereka tahu apa.
Bahwa jika kamu sudah lelah menghibur diri sendiri, tidak apa-apa untuk merasa sejenak, meskipun terkadang kamu berpikir bahwa terlalu banyak merasa itu tidak baik. Seperti halnya kamu bersykur atasnya, kamu boleh merutuki hidup sesekali; sesekali saja ya, jangan terlalu banyak. Semoga kamu selalu ingat akan hal-hal baik yang hinggap di pundakmu setiap harinya.
Bahwa kamu bisa melarikan diri kapanpun kamu mau. Kamu juga bisa kembali ketika kamu siap. Tapi jangan lupa, tinggalkan sedikit pesan agar orang-orang terdekatmu tahu kemana harus mencarimu. Kamu bisa meletakkannya dimanapun; terang-terangan di atas meja dengan namamu di bawahnya atau sedikit tersembunyi di antara lembaran buku yang kamu suka.
Bahwa jika kamu tidak pernah bisa menemukan tempat yang terasa seperti rumah, kuberitahu satu hal; seorang pelaut bisa merasa pulang di tengah samudra yang asing dan luas sekalipun.
Kali ini, untuk kali ini; kamu boleh merasakan semuanya. Kamu boleh berbohong soal apa yang kamu rasakan kepada mereka. Tapi jujurlah pada dirimu sendiri, paling tidak; pada catatan kecilmu, pada sudut-sudut rahasiamu, atau pada kata-kata dalam hatimu.
Hidup memang tidak pernah semudah kelihatannya. Kita siapa? Cuma manusia. Namun, aku yakin; aku, kau, dan kita —akan baik-baik saja.
Selasa, 13 Agustus 2019
Entah ke Mana
Agustus, enam hari menuju dua puluh tiga. Siang dengan langit biru, cuaca yang hangat, dan angin sejuk. Baru saja tadi pagi aku merasa bersyukur, namun sekarang seakan dingatkan kembali bagaimana beberapa hal begitu berantakan, yang bahkan sudah terserak di mana-mana sebelum aku ada. Hal-hal baik seakan sulit mendekat, sesulit hal-hal bahagia datang. Perihal yang sama seperti sebelumnya, semenjak itu, aku menjadi semakin takut untuk tidak diterima, apalagi untuk berharap pada mereka yang baik —yang padahal aku sungguh-sungguh ingin membangun jalan setapak, menuju tempat yang tentunya semua orang shalih harapkan.
Kota sebelumnya terasa lebih menenangkan, meskipun melelahkan; mungkin itulah mengapa aku selalu ingin kembali —selain karena aku rindu orang-orangnya, hiruk-pikuknya, dan waktu-waktunya. Ketika kukatakan, aku yakin kau tidak akan percaya. Egoisnya, aku menolak bicara pada mereka yang kuanggap tidak bisa mengerti apa yang ada, meskipun mereka telah berusaha.
Aku tidak pernah berharap seorang teman datang untuk memperbaiki semuanya, tapi jika ada sedikit genggaman untuk menguatkan, mungkin rasanya akan lebih mudah. Aku sadar, sebelum hal-hal mudah, akan selalu ada hal-hal sulit bukan? Fa inna ma'al 'usri yusra. Aku tidak mau menarik orang lain untuk masuk ke dalam hal-hal pada diriku yang belum selesai, hanya saja aku sudah lelah berulang kali menghibur diriku sendiri.
Kali ini, aku tidak setuju. Kita memang selalu punya tempat untuk bersujud, tapi kita juga akan selalu butuh bahu untuk bersandar. Aku tahu hidup memang tidak mudah, namun rasanya akhir-akhir ini menjadi agak lebih sulit.
Andai kau tahu, aku sungguh ingin pulang; yang entah ke mana.
Rabu, 24 Juli 2019
Pada Hal-Hal Sederhana
Ocean breeze and sound of the waves, night silence and night car ride, the weather right after the rain has stopped, deep conversation, white chrysanthemum, being understood, nice books and it smells, brights sky, a hug from a good friend, and a cup of nice coffee. Mari letakkan kebahagiaan kita pada hal-hal sederhana; yang tidak bisa kita temui setiap hari namun juga tidak begitu sulit untuk diraih —yang mudah terlihat dan mudah tersentuh. Agar ketika kita membutuhkannya, kita tahu harus mencarinya kemana tanpa harus terlalu jauh berjalan.
Teman Baik
Setelah kembali pulang seselesai menyelesaikan kuliah di Malang, saya menjalani semacam long distance relationship dengan teman-teman baik yang saya temui di Malang. Seperti yang saya pelajari di kuliah; semakin kita dewasa, kita akan kehilangan beberapa teman secara kuantitas, namun menjadi semakin dekat dengan teman yang lainnya secara kualitas. Rasanya, kembali pulang ke kota asal membuat seleksi tersebut terasa semakin nyata. Kesibukan yang berbeda membuat kita harus benar-benar berusaha untuk menjaga pertemanan tersebut.
Mayoritas teman-teman baik saya adalah orang-orang yang —untuk saya, bisa mengakomodir pikiran saya yang membutuhkan deep conversation, dan mengerti kapan mempersilahkan saya untuk mendominasi pembicaraan, karena saya bukan tipikal orang yang terlalu dominan dalam pembicaraan. Satu frekuensi, kata orang-orang. Alih-alih merasa recharged, berbincang banyak dengan orang yang kurang tepat bisa membuat saya merasa lelah. Bukannya memilih-milih teman untuk berbincang, namun saya rasa, saya adalah tipikal orang yang tidak mudah untuk cocok untuk berteman dekat dengan orang lain, meskipun terkadang orang lain tidak merasa demikian. Pun sebaliknya, tidak banyak orang yang dengan mudahnya merasa cocok untuk berteman dekat dengan saya. Saya hanya memiliki lingkaran pertemanan yang kecil dengan tidak begitu banyak lingkaran, karena menurut saya mereka semua harus diperlakukan sama, dalam hal dihargai, dibagi bahagia dan sedihnya, dipertahankan hubungannya; begitu mereka mendapat predikat teman dekat.
Mayoritas teman-teman baik saya adalah orang-orang yang —untuk saya, bisa mengakomodir pikiran saya yang membutuhkan deep conversation, dan mengerti kapan mempersilahkan saya untuk mendominasi pembicaraan, karena saya bukan tipikal orang yang terlalu dominan dalam pembicaraan. Satu frekuensi, kata orang-orang. Alih-alih merasa recharged, berbincang banyak dengan orang yang kurang tepat bisa membuat saya merasa lelah. Bukannya memilih-milih teman untuk berbincang, namun saya rasa, saya adalah tipikal orang yang tidak mudah untuk cocok untuk berteman dekat dengan orang lain, meskipun terkadang orang lain tidak merasa demikian. Pun sebaliknya, tidak banyak orang yang dengan mudahnya merasa cocok untuk berteman dekat dengan saya. Saya hanya memiliki lingkaran pertemanan yang kecil dengan tidak begitu banyak lingkaran, karena menurut saya mereka semua harus diperlakukan sama, dalam hal dihargai, dibagi bahagia dan sedihnya, dipertahankan hubungannya; begitu mereka mendapat predikat teman dekat.
Di kampus, rasanya cukup mudah untuk menemukan teman yang satu frekuensi dari segi pemikiran maupun pembicaraan. Mungkin karena jarak umur antara saya dan teman-teman di kampus termasuk cukup dekat, dan kami memang bertemu di institusi yang sama. Awalnya, saya merasa di tempat tinggal saya pun akan sama mudahnya menemukan teman yang satu frekuensi, namun ternyata usia yang sama pun tidak menjamin sebuah percakapan akan bertemu di titik yang sama. Seringkali saya merasa lelah bersosialisasi, ditambah lagi pemikiran dalam kepala yang tidak dapat tertuangkan. Biasanya, saya menuangkannya pada menulis, atau terkadang terlupakan begitu saja. Pada saat-saat yang memungkinkan, saya akan kembali pada teman-teman baik saya, menghubunginya untuk menanyakan kabar, menceritakan keluh dan bahagia, juga mendengarkan cerita dari mereka. Rasanya seperti pulang setelah sekian lelah berperjalanan.
Saya pun teringat kata seorang kakak tingkat saya, "Kalau kamu punya orang yang tawa dan senyumnya menguatkan hati, dijaga ya.". Rasanya, kalimat itu menjadi benar-benar perlu direalisasikan setelah merasakan betapa berharganya seorang teman yang baik. Bukan karena dia bisa membantu kita di waktu yang sulit, namun karena kehadirannya menguatkan dan mendamaikan hati. Tak lupa; praying for your friend is so important, because sometimes they'll fight battles they never speak to you about. Make sure they're covered. Mungkin selain waktu, hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seorang teman baik adalah doa-doa terbaik.
Jadi, apakah kamu sudah mendoakan temanmu hari ini?
Jadi, apakah kamu sudah mendoakan temanmu hari ini?
Sabtu, 13 Juli 2019
Percakapan
Malang, yang katanya enam belas derajat, apa kabar? Pukul enam pagi di tempat kita berjumpa, kau yang berbicara di depan dan aku menyimak di belakang; dengan cerita yang disampaikan padaku lebih dulu, dan kemudian diperdengarkan pada semuanya, entah mengapa. Kita tidak memiliki cerita apapun; memandangi lantai sambil menggoyang-goyangkan kaki. Aku tidak cukup berani untuk menerka apa rencanamu dan apakah kau akan datang sebelum kita kehabisan waktu. Justru sepertinya kau akan berubah pikiran di saat aku mulai bertanya-tanya, kemudian berpikir bahwa aku tidak akan apa-apa. Mungkin memang sebaiknya kita tidak pernah saling bicara, yang padahal kita belum pernah saling bersapa. Jika memang tidak apa-apa dan tidak ada apa-apa, mungkin kita bisa berteman baik. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu —yang jelas, senang bisa berbincang denganmu.
Minggu, 30 Juni 2019
Akhir sebuah Awal
Pada doa-doa dan kegaduhan di kepala; aku tidak mengerti apakah kau baik-baik saja, namun mungkin kau ingin tahu bahwa aku sedang mencoba menopang resah gelisah yang datang singgah menyinggah. Hampir selesai, sepertinya. Paling tidak ada satu atau dua hari dalam hidupmu yang ingin kau hapus dari ingatan, entah sepi-sepi akhir pekan atau justru hari kerja yang membahagiakan. Sejak saat itu, rasanya hari Selasa menjadi sedikit berbeda.
Kau pergi dan sesekali aku masih menemukanmu pada ujaran-ujaran yang mirip dengan kalimat-kalimat kita. Aku tidak tahu apakah kau mengerti bahwa terkadang rumah memang tidak membuatku merasa lebih baik, dan bukan pada hal-hal yang telah aku sampaikan, namun sepertinya kau takut merasakan hal yang sama —denganku, di rumahku. Tak apa, mungkin kita sama-sama pantas mendapatkan yang lebih baik, untukku dan untukmu. Hanya saja, ini yang pertama. Baru tahu kalau begini rasanya.
Kita bertemu sebagai sebuah kemungkinan dan berpisah sebagai sebuah kegagalan. Kita, tidak, mungkin aku yang terkadang lupa, bahwa untuk cerita ini, bukan kita yang miliki kuasa. Semoga saja, semuanya tercatat sebagai sebuah amal —yang menjadi saksi bahwa kita pernah mencoba menjemput rasa dengan cara yang Allah suka.
Jumat, 03 Mei 2019
Talking About Life Goals and Tools
Beberapa hari ini menemukan konten-konten menarik di berbagai sosial media, Youtube dan Instagram misalnya. Salah satunya adalah salah satu video dari Gita Savitri yang membahas tentang quarter life crisis (videonya bisa dilihat di sini). Di sana, Paul dan Gita menyampaikan kalau semakin dewasa terkadang tujuan hidup kita tidak hanya berfokus di profesi, tapi juga karakter dan value : tentang karakter apa yang ingin kita miliki dan nilai apa yang ingin kita terapkan dalam hidup. Lalu, di channel lain, channel Youtube Hijab Alila, dr. Davrina Rianda yang menjadi narasumber, menyampaikan untuk membedakan goals dan tools dalam hidup (videonya bisa dilihat di sini). Menurutnya, profesi itu termasuk dalam klasifikasi tools. Ketika kita menjadikan tools sebagai goals, kita akan kebingungan jika nanti ada peran-peran yang bertabrakan. Jadi, sebaiknya kita gali lagi apa yang sebenarnya menjadi goals kita. Misalnya goals yang bersifat horizontal seperti ingin bermanfaat untuk orang lain atau yang bersifat vertikal seperti mencari ridha Allah. Ketika nanti ada hal-hal yang datang dan tidak sesuai rencana kita, kita bisa mempertimbangkan untuk mengubah tools kita asalkan goals kita masih bisa tercapai. Dengan berprinsip demikian, rasanya kita bisa lebih tenang dalam menjalani hidup. Kembali lagi, karena kita tahu benar tujuan hidup kita apa. Tidak hanya hal-hal yang mengganggu, namun kita juga tidak akan mudah terdistrak dengan hal-hal yang lebih menyilaukan mata jika hal-hal tersebut tidak sejalan dengan tujuan hidup kita.
Dari input-input yang saya dapat beberapa waktu ini, saya memikirkan kembali tujuan hidup saya. Entah yang sudah saya sadari, maupun yang belum saya sadari. Percaya tidak percaya, ternyata saya punya goals yang sudah dijalani untuk menujunya tapi belum disadari. Lately, I figured that one my life goals is to build a good family, maybe. Terdengar sederhana, namun saya menyadari bahwa keluarga adalah awal dari hampir segalanya, tak hanya yang bersifat duniawi namun juga akhirat. Tentang mengapa saya tertarik pada Psikologi Perkembangan, parenting, anak-anak, mengajar, hubungan antar manusia, dll : ternyata berujung pada satu hal, yaitu keinginan untuk membangun keluarga yang baik, dan saya baru menyadarinya sekarang (selain mungkin karena memang saya menaruh minat di sana). Apa-apa yang ingin saya lakukan pun berujung pada hal-hal yang dapat bermanfaat untuk hal tersebut. Perihal membangun keluarga, saya melihatnya lebih dari sekadar tuntutan sosial. I don't know, but I don't think I want something more than that. Namun sepertinya tujuan tersebut masih perlu diperpanjang menjadi sesuatu yang lebih jauh, baik sesuatu yang bersifat vertikal dan horizontal : dan, saya sedang mencoba untuk mendalaminya.
Tentang berkeluarga, masih jauh mungkin, atau dekat : saya pun tidak tahu. Namun, saya belajar untuk membuatnya tidak memalukan atau tabu dibicarakan, apalagi jika konteksnya adalah untuk mencari ilmu : al 'ilmu qoblal qouli wal 'amali. Selain itu, tidak ada salahnya mengenal hidup dan diri sendiri dengan lebih baik, bukan? Cmiiw.
Melihat dengan Utuh
Mungkin ; mengapa melihat jauh kedepan itu sulit —adalah karena jarak pandang kita seringkali terbatas oleh hal-hal yang dekat. Selain itu, perlu keberanian yang luar biasa, untuk menerima kekhawatiran yang mungkin hadir di dalam hati kita. Padahal, kitalah yang memiliki kendali penuh untuk membiarkannya mengendap di sana atau tidak.
Mungkin ; mengapa melihat suatu peristiwa dengan utuh itu sulit —adalah karena kita tidak terbiasa untuk melihat dari berbagai sisi. Selain itu, perlu kebijaksanaan yang luar biasa, untuk melihat dari sisi lain tanpa perlu terganggu dengan sisi yang kita miliki saat ini. Padahal, kitalah yang memiliki kendali penuh untuk menerimanya atau tidak.
Senin, 18 Maret 2019
Besar-Kecilnya Mimpi
Mereka bilang bahwa mimpi tidak cukup besar jika mimpi itu tidak membuat kita merasa takut. Takut yang menumbuhkan semangat. Namun apakah hanya mimpi besar yang bisa membuat kita merasa takut?
Saya rasa, tidak ada mimpi yang terlalu besar atau terlalu kecil. Selama itu membuat kita bahagia dan kita menemukan kebaikan di dalamnya, maka kita harus berusaha meraihnya. Perkara ketakutan terhadap mimpi, rasanya tidak hanya mimpi besar yang bisa membuat kita merasa takut. Ada kalanya bukan besar atau kecilnya mimpi yang membuat kita takut, namun juga pandangan orang lain.
"You can achieve more than just that."
"Just."
"That."
Apakah kamu mengerti yang kumaksud? Tidak, aku tidak mengajarkanmu untuk menutup telinga dari orang lain yang berusaha memberi saran padamu. Tapi aku mengajakmu untuk tidak membiarkan orang lain mengerdilkan mimpimu. As Marie Kondo said, if that sparks joy, then keep it. Sadarkah kamu bahwa kalimat itu tidak hanya berlaku untuk barang, namun juga mimpi dan tujuan hidupmu.
Bahwa manusia tumbuh dengan nilai yang berbeda-beda. Mana mungkin kita menyamaratakan semuanya, termasuk perihal berharga atau tidaknya mimpi. Bukankah setiap orang memiliki tujuan dan jalurnya masing-masing?
Meletakkan Harap
Terkadang, saya merasa begitu perfeksionis kepada diri sendiri. Mungkin hal itulah yang membuat saya tidak mudah percaya pada orang lain, terlebih pada urusan-urusan yang menyangkut diri saya : tugas, kewajiban, masa depan, dan lain-lain. Namun saya menyadari pula bahwa tidak banyak orang yang menyadari hal tersebut. Orang-orang mungkin justru melihat bahwa saya adalah individu yang penuh toleransi. Ya, namun dalam konteks yang berbeda.
Dalam konteks hubungan sesama manusia, saya meletakkan harap dengan begitu berhati-hati dan berangsur-angsur. Meskipun —seperti hidup pada umumnya, seringkali tidak berakhir dengan baik, atau mungkin tidak sesuai keinginan. Di sinilah pelajaran ikhlasnya, terkadang harapan bahwa sesuatu akan terjadi tidak selalu terwujud. Kita bisa berusaha, namun kita tidak bisa memaksakan hasilnya.
Ada saat di mana kita merasa tenang mempercayakan harapan kepada orang lain, namun ada pula saat di mana kita takut untuk meletakkanya barang sedikit. Orang-orang mengelu-elukan tentang memanajemen besar atau kecilnya harapan, namun menurut saya yang lebih penting adalah meletakkan harapan itu sendiri. Sadar atau tidak, harapan pasti ada, bahkan mungkin tumbuh. Kita bisa memiliki harapan, namun kita bisa memilih untuk mengindahkannya atau tidak, dan meletakkannya dimana.
Tidak ada hal yang pasti, namun kepercayaan dengan porsi yang tepat bisa membuat kita merasa lebih tenang. Mempersiapkan diri untuk yang terbaik, sekaligus yang terburuk. Mari mengendalikan diri dalam meletakkan harap. Pastikan kita meletakkannya pada tempat yang tepat, serta tahu kapan harus menjaga atau melepasnya.
Jumat, 15 Februari 2019
Makna Produktif, Perempuan, dan Rumah Tangga
Selama kurang lebih dua bulan kembali ke rumah, saya mencoba beradaptasi dengan rutinitas dan lingkungan lama yang kini terasa baru. Rasanya sedikit jetlag. Saya yang sejak dua tahun lalu terbiasa hampir setiap hari berkegiatan di luar tempat tinggal karena tuntutan organisasi, dari pagi hingga sore atau bahkan malam, harus berubah rutinitasnya menjadi lebih banyak tinggal di rumah. Padahal, selama menjadi mahasiswa saya begitu menikmati waktu di mana saya tidak memiliki agenda apapun dalam satu hari. Saya memanfaatkannya untuk benar-benar tidak pergi kemanapun, recharge diri. Namun, kini rutinitas di rumah terasa menjemukan. Mungkin memang benar, kita bisa menghargai waktu sibuk di waktu lapang, dan menghargai waktu lapang di waktu sibuk.
Pada awalnya, saya sedih karena merasa tidak menghabiskan waktu dengan baik, merasa tidak produktif. Saya pun mencoba mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan di rumah ; membereskan rumah hingga ke sudut, blogging, membaca buku, memasak, membuat craft, streaming Youtube, dan lain-lain. Selain itu, saya mencoba mencari komunitas yang ada di kota saya, namun ternyata tidak banyak komunitas yang ada.
Saya memaknai kembali apa arti kata produktif. Apakah produktif hanya bisa dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan seperti bertemu dengan orang banyak, pergi dari satu tempat ke tempat lain, dan harus terasa melelahkan. Saya membaca salah satu Instastory dari Kurniawan Gunadi yang menyatakan bahwa pemaknaan terhadap produktivitas itu penting, karena di situlah kita bisa memberi apresiasi dan nilai atas aktivitas kita sehari-hari. Kita bisa membuat definisi produktif kita sendiri. Mungkin bagi sebagian orang, definisi produktifnya adalah seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, saya menemukan bahwa produktif adalah ketika kita memanfaatkan waktu kita untuk investasi diri atau orang lain, dan melakukan hal-hal yang menimbulkan perubahan ata kebermanfaatan. Meskipun kita ada di rumah sepanjang hari, bisa saja kita lebih produktif dari orang lain yang rutinitasnya ada di luar rumah, tergantung apa yang kita kerjakan. Hal sesederhana membereskan rumah atau beraktivitas menggunakan handphone pun bisa jadi produktif bila kita bisa mengambil manfaat darinya. Oleh karena itu, memaknai dan mengambil manfaat dari apa yang kita lakukan itu penting. Kita bisa memiliki rutinitas yang sama dengan orang lain, namun tidak semua bisa mengambil manfaat atasnya.
Saya mencoba mengaitkan produktivitas dengan perspektif saya sebagai seorang perempuan dan rumah tangga. Menurut saya, tanggung jawab terbesar perempuan ada pada rumahnya. Di sana, ada hal-hal yang tergantung pada seeorang perempuan akan menjadi besar atau kecil. Bukan berarti semuanya tergantung pada perempuan, namun perempuan memegang peranan penting di sana. Sebut saja pendidikan anak, pengelolaan keuangan, hingga nilai seperti apa yang hendak diciptakan di rumah tersebut. Namun, kita semua tahu bahwa di Indonesia ibu rumah tangga identik dengan perspekif tidak produktif. Kembali lagi, hal ini dikarenakan adanya perbedaan makna produktif bagi sebagian orang. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa ilmu yang telah dimiliki harus benar-benar diterapkan di bidangnya atau potensi yang dianggap tidak terasah jika seorang perempuan hanya tinggal di rumah. Menurut saya, begitu banyak hal yang bisa dikerjakan dirumah selain rutinitas rumah tangga, misalnya membaca buku, menulis hal yang bermanfaat di media sosial, membangun usaha, menyiapkan metode permainan anak, menginisiasi social project di daerah tempat tinggal, atau apapun yang memanfaatkan keahlian yang dimiliki, dengan beberapa pengecualian. Saya memiliki prinsip bahwa, selain self-healing dan multitasking, salah satu softskill yang sebaiknya dimiliki seorang perempuan adalah bisa menyamankan diri di rumah. Bukan harus nyaman di rumah, karena senyaman apapun suatu tempat pasti ada satu titik jemu, melainkan tahu bagaimana cara menyamankan dirinya dirumah, di tempat yang menjadi tanggung jawabnya.
Produktif, soal manfaatnya bukan lelahnya. Lalu rumah, bukan tempat untuk kita tidur saja. Apapun, kamu bebas memaknainya selama kamu tidak mengganggu hak orang lain untuk memaknai dengan cara mereka.
Saya mencoba mengaitkan produktivitas dengan perspektif saya sebagai seorang perempuan dan rumah tangga. Menurut saya, tanggung jawab terbesar perempuan ada pada rumahnya. Di sana, ada hal-hal yang tergantung pada seeorang perempuan akan menjadi besar atau kecil. Bukan berarti semuanya tergantung pada perempuan, namun perempuan memegang peranan penting di sana. Sebut saja pendidikan anak, pengelolaan keuangan, hingga nilai seperti apa yang hendak diciptakan di rumah tersebut. Namun, kita semua tahu bahwa di Indonesia ibu rumah tangga identik dengan perspekif tidak produktif. Kembali lagi, hal ini dikarenakan adanya perbedaan makna produktif bagi sebagian orang. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa ilmu yang telah dimiliki harus benar-benar diterapkan di bidangnya atau potensi yang dianggap tidak terasah jika seorang perempuan hanya tinggal di rumah. Menurut saya, begitu banyak hal yang bisa dikerjakan dirumah selain rutinitas rumah tangga, misalnya membaca buku, menulis hal yang bermanfaat di media sosial, membangun usaha, menyiapkan metode permainan anak, menginisiasi social project di daerah tempat tinggal, atau apapun yang memanfaatkan keahlian yang dimiliki, dengan beberapa pengecualian. Saya memiliki prinsip bahwa, selain self-healing dan multitasking, salah satu softskill yang sebaiknya dimiliki seorang perempuan adalah bisa menyamankan diri di rumah. Bukan harus nyaman di rumah, karena senyaman apapun suatu tempat pasti ada satu titik jemu, melainkan tahu bagaimana cara menyamankan dirinya dirumah, di tempat yang menjadi tanggung jawabnya.
Produktif, soal manfaatnya bukan lelahnya. Lalu rumah, bukan tempat untuk kita tidur saja. Apapun, kamu bebas memaknainya selama kamu tidak mengganggu hak orang lain untuk memaknai dengan cara mereka.
Senin, 04 Februari 2019
Mengupayakan Barakah
Sudah sekitar satu bulan ini saya pulang ke kota asal setelah menyelesaikan perkuliahan. Benar-benar menetap di rumah. Aneh rasanya ketika harus beradaptasi kembali di tempat yang dulunya kita tinggali setiap hari, mungkin karena saya termasuk mahasiswa yang jarang pulang, jika dibandingkan dengan teman-teman yang jarak tempat tinggal dan kampusnya sama jauhnya dengan saya. Apalagi jarak rumah dan tempat saya berkuliah termasuk dekat, hanya sekitar dua jam berkendara. Mulai dari beradaptasi dengan rutinitas di rumah yang sedikit berbeda dengan ketika masih berkuliah, hingga lingkungan sosial yang juga berbeda.
Sambil menunggu wisuda dan di sela-sela mencoba melamar pekerjaan, —selain beraktivitas di rumah, saya menghabiskan waktu untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama yang jarang saya temui dan teman-teman kuliah yang berdomisili dekat dengan rumah, berbagi perspektif tentang arah hidup yang sudah direncanakan dan saling memberi saran. Dari sana, saya memiliki banyak hal yang ingin saya lakukan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, namun masih terhalang beberapa hal. Aktivitas di rumah yang tidak seberagam di kampus pun saya upayakan agar tidak menjemukan, dengan membaca buku, menulis, dan aktivitas-aktivitas lain yang bisa dikerjakan di rumah atau kota saya.
Dalam beradaptasi dan menemukan tempo rutinitas yang pas, saya banyak bertemu dengan orang-orang baru yang sedikit banyak memperluas perspektif saya, yang kebanyakan adalah mereka yang berusia paruh baya. Sebuah tantangan tersendiri ketika saya harus menyesuaikan diri ketika berinteraksi dengan mereka, yang tentunya sangat berbeda dengan komunikasi kepada mereka yang seusia dengan saya. Baik menyesuaikan gaya bicara, pola pikir, dan sebagainya.
Saya memikirkan dan menata kembali mengenai hidup seperti apa yang saya inginkan serta butuhkan. Dalam jeda ini, saya menemukan satu poin yang rasanya penting untuk selalu diingat, yaitu perihal mengupayakan barakah. Barakah dalam artian agar apa yang kita miliki bisa menambah ketaatan kita kepada-Nya, albarokatu tuziidukum fii thoah. Terkadang, kita mengusahakan sesuatu namun kita lupa bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada manfaatnya untuk iman kita. Paling tidak, apa yang kita miliki bisa kita niatkan untuk Allah, sekecil apapun itu. Dengan begitu, kita bisa memprioritaskan tujuan hidup dan memilah hal-hal yang benar-benar kita butuhkan atau inginkan.
Semoga segala aktivitas kita, apa-apa yang kita miliki, dan hal-hal yang sedang kita usahakan senantiasa barakah.
Jadi, seperti apa hidup yang kamu inginkan?
Senin, 07 Januari 2019
Berbicara Tentang Keinginan
Manusia hidup dengan keinginan. Kita menyebutnya angan, mimpi, atau harapan. Akan selalu ada kemungkinan pada keinginan tersebut yang menghidupkan atau mematikan kita sebagai manusia. Semuanya terletak pada prosesnya. Sebuah keinginan dapat menghidupkan kita apabila keinginan tersebut membuat kita mendapat pembelajaran, value, juga kesiapan untuk memelihara keinginan itu sendiri saat kita mencapainya. Keinginan itu pun akan menjadi media untuk kita menuju keinginan-keinginan kita yang lain, terlepas dari akan kita apakan ia nanti. Sedangkan sebuah keinginan dapat dikatakan mematikan kita apabila keinginan itu membuat kita berambisi dengan buta, melakukan segala cara untuk mendapatkan tanpa memikirkan baik-buruknya, dan tidak ada alasan khusus akan kita apakan keinginan itu nanti —tidak jelas apakah itu keinginan kita, atau hanya sebagai pembuktian.
—Keinginan dapat menghidupkan dan mematikan kita sebagai manusia.
Berbicara tenang keinginan selepas menyelesaikan beberapa tanggung jawab di universitas, keinginan saya untuk mengikuti dan mengerjakan berbagai hal pun tumbuh kembali —setelah sebelumnya beberapa harus ditunda atau dilepaskan. Baru-baru ini, saya menemukan lapangan pekerjaan di tempat dan posisi menarik yang sesuai dengan jurusan dan minat saya, namun lokasinya di Yogyakarta dan Salatiga. Ada pula open recruitment relawan di komunitas yang challenging, namun kegiatannya mengharuskan saya banyak berdomisili di Malang. Sementara, saat ini ada beberapa hal yang mengharuskan saya untuk banyak beraktivitas di kota tempat saya tinggal. Kebiasaan saya untuk melakukan sesuatu secara mendalam, membuat saya mengurungkan niat untuk mendaftar di keduanya. Saya merasa, jika saya mengikuti suatu hal namun tidak mampu terjun penuh, akan membuat saya kesulitan untuk belajar secara komprehensif. Lalu, jika ditengah jalan saya terpaksa harus berhenti, saya akan merasa sangat menyesal. Dari sana saya belajar bahwa merelakan keinginan bukanlah suatu hal yang salah. Itulah mengapa menurut saya, sebaiknya keinginan bukanlah suatu hal yang detail, melainkan bersifat umum dan berupa tujuan-tujuan. Jika kita tidak mampu mewujudkan keinginan yang ada dengan suatu hal yang detail tersebut, kita masih punya banyak jalan lain untuk mencapai tujuan yang sudah dicanangkan. Hal tersebut bisa dirumuskan dalam perjalanan sambil melihat peluang yang ada, apabila rencana pertama untuk mencapainya gagal.
—Keinginan dalam bentuk umum dan diturunkan menjadi tujuan.
Perihal rencana, situasi ini membuat saya teringat ketika saya baru saja demisioner dari himpunan jurusan saya dua tahun lalu. Saat itu, saya sudah berangan mengikuti beberapa hal di kampus, seperti asisten praktikum untuk mata kuliah, volunteer untuk mahasiswa difabel, komunitas mengajar, lomba akademik maupun nonakademik, dan lain-lain. Namun, ternyata Allah memberikan saya tanggung jawab di lembaga eksekutif —yang tidak sederhana. Seperti yang sudah saya katakan diatas, prinsip saya untuk terjun secara mendalam membuat saya tidak banyak mengikuti kegiatan saat berada di organisasi tersebut. Padahal jika dipikir kembali, rasanya saya masih bisa mengikuti beberapa hal jika saya mau. Namun positifnya, saya bisa belajar dengan sungguh saat berada di organisasi tersebut. Terlepas dari hal itu, jika saya maknai kembali saat ini, amanah tersebut justru merangkum semua hal yang saat itu ingin saya ikuti, meskipun tidak komprehensif dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Rasanya semuanya berujung pada kesimpulan tentang mengikhlaskan dan memaksimalkan apa yang kita punya.
—Merelakan keinginan bukanlah suatu hal yang salah, meskipun tidak mudah.
Mindset yang harus kita tanamkan adalah bahwa apa yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik. Lalu, kita harus berpikir bagaimana kita mencari peluang dari suatu hal atau kondisi. Baik hal yang bersangkutan tersebut menyenangkan atau tidak untuk kita. Dulu, saya memiliki satu kalimat penghibur andalan, "Kenapa kita harus mencari tempat lain cuma untuk menyesuaikan keinginan kita? Toh hal yang kita lakukan saat ini sudah jelas kebermanfaatannya.". Akan berbeda lagi ketika mungkin hal yang kita lakukan banyak kerugiannya, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kalimat tersebut membuat saya mencoba memaksimalkan diri pada hal yang sedang saya jalani.
—Mencari peluang dan pembelajaran pada hal-hal yang sedang dijalani.
Membaca tulisan di atas, mungkin teman-teman memaknainya bahwa saya tidak berambisi akan suatu hal. Namun nyatanya, kita (pun saya) merasa bahwa tidak berambisi dan mudah menerima memang tipis bedanya. Saya memaknai tidak berambisi sebagai tiadanya hasrat untuk mencapai sesuatu, sama sekali. Sedangkan mudah menerima saya artikan sebagai mudahnya kita dalam menerima suatu kondisi, yang idealnya diikuti dengan alternatif strategi apabila kondisi tersebut tidak hadir sesuai dengan rencana kita. Menurut saya, mudah menerima akan menjaga kita untuk tetap bisa berambisi, namun tidak menjadikannya obsesi, sehingga kita bisa mencapai keinginan kita dalam koridor yang benar.
—Keinginan : ambisi atau obsesi?
Selamat memelihara sekian keinginan dan mewujudkannya menjadi kenyataan. Jangan lupa maknai setiap proses dan ambil sebanyak-banyaknya pembelajaran. Semoga kita tetap berada pada jalur yang benar dalam mencapainya!
Tentang Menerima
Membangun sebuah hubungan, baik pertemanan maupun hubungan personal lainnya, ternyata bukan tentang kehebatan satu sama lain, tapi lebih tentang saling menerima. Tentu menyenangkan jika kita memiliki teman atau pasangan yang cerdas, baik, maupun cantik atau tampan. Namun tidak semua individu bisa menerima kekurangan individu lain ; entah dia memiliki penyakit, keluarga yang tidak mendukung, maupun kekurangan yang lain.
Banyak orang berkata bahwa ia siap menerima apa adanya, namun tidak siap dengan fakta bahwa tidak ada individu yang sempurna dan apa yang akan dihadapinya. Rasanya, kesiapan untuk menerima adalah hal yang penting ; karena dengan menerima, kita bisa merumuskan strategi dan menyesuaikan dengan keadaan yang kita miliki - bukan merutuki keadaan dan berusaha melarikan diri darinya.
Beberapa hal yang tidak bisa atau sulit diubah membutuhkan penerimaan. Dengan menerima terlebih dahulu, kita bisa mencari cara untuk menghadapi atau mengatasi masalah tersebut. Menerima membuat hati kita menjadi lebih lapang, lebih ringan melangkah, dan lebih banyak belajar.
Selesai dengan Diri Sendiri
Selesai dengan diri sendiri?
Tidak.
Tidak ada kata selesai dengan diri sendiri. Kita tidak akan pernah selesai dengan diri sendiri karena kita akan selalu menghadapi hal-hal baru; karena perkembangan itu sepanjang hidup, dari prenatal sampai meninggal.
Poinnya bukan selesai atau belum dengan diri sendiri, karena kita akan selalu belajar. Tapi orientasi kita, apakah mau terus-terusan ke diri sendiri atau orang lain. Coba, ketika seseorang ditanya apakah dia sudah selesai dengan diri sendiri? Berapa orang yang bisa dengan yakin menjawab sudah?
Yuk berani melangkah. Jika memang tahu bahwa kita belum selesai dengan diri kita, persiapkanlah apa-apa yang bisa mengisi apa-apa yang belum itu. Bukan berleha-leha dan meminta untuk diterima.
Tidak ada tolak ukur pasti bagaimana individu telah selesai dengan dirinya. Maka, yuk buat tolak ukur itu untuk diri sendiri meskipun nantinya tolak ukur itu akan terus berubah seiring dengan datangnya hal-hal baru. Supaya kita selalu berkembang, menjadi yang lebih baik.
Bukan berselesai dengan diri agar bisa segera pergi, tapi mengubah orientasi agar kita lebih bisa bermanfaat lagi; dengan diri yang tidak pernah sempurna ini.
Minggu, 30 Desember 2018
Berandai-Andai
Di kepulangan kali ini, aku kembali dengan banyak hal yang telah aku selesaikan dan bersama dengan itu, aku mendapat banyak pembelajaran. Suasana yang begitu berbeda di kota rantau dan kota asal membuatku harus beradaptasi kembali. Aneh rasanya, mencoba mengenali lagi tempat kita bermula pertama kali. Tanpa sadar, aku membandingkan perbedaan kondisi keduanya. Lalu, gambaran-gambaran yang selama ini kabur di kepalaku dan aku nafikan kehadirannya, terbayang menjadi semakin jelas. Ya, pengandaian-pengandaian itu.
Jika boleh, hari ini aku ingin berandai-andai sedikit. Sedikit saja : bahwa jika semuanya berbeda, saat ini Ayah pasti akan bertanya, "Sudah dihubungi murobbi baru belum?", bahwa jika jalannya tak sama, malam nanti Ibu pasti berbisik, "Bangun, tahajjud dulu yuk.", bahwa jika ceritanya lain, saat ini adik pasti berkata, "Yaudah sini, ayo muraja'ah sama aku.".
Aku memahami bahwa jika aku berproses, mereka pun berproses. Entah kusadari atau tidak. Lagipula, banyak hal yang lebih bisa aku syukuri dibandingkan aku sayangkan. Seorang ustadzah pernah berpesan kepadaku "Kerjakan sebaik mungkin apa yang menjadi kewajibanmu dan niatkan karena Allah. Jika Allah mengizinkan, semua itu bisa menjadi wasilah untuk kamu sekeluarga mengenal Islam dengan lebih baik dan menuju surga.". Maka, mungkin itu yang menjadikanku selalu menguatkan diri untuk istiqamah. Semoga.
Aku memahami bahwa jika aku berproses, mereka pun berproses. Entah kusadari atau tidak. Lagipula, banyak hal yang lebih bisa aku syukuri dibandingkan aku sayangkan. Seorang ustadzah pernah berpesan kepadaku "Kerjakan sebaik mungkin apa yang menjadi kewajibanmu dan niatkan karena Allah. Jika Allah mengizinkan, semua itu bisa menjadi wasilah untuk kamu sekeluarga mengenal Islam dengan lebih baik dan menuju surga.". Maka, mungkin itu yang menjadikanku selalu menguatkan diri untuk istiqamah. Semoga.
Aku tahu jika aku terus berandai-andai, semuanya takkan usai. Bukankah sebuah keresahan ada agar kita bisa menciptakan hal-hal baik yang selama ini tiada? Semoga nanti, semuanya bukan hanya harapan yang ada di dalam hati, dan kalimat-kalimat itu tidak menjadi angan belaka yang ada di kepala.
Jika ini adalah cemburu, semoga ini adalah cemburu yang baik : yang menumbuhkan cinta bukan mematikan rasa, yang mengajak melangkah bersama bukan meninggalkan sendirian, dan yang dikarenakan iman bukan hasutan syaitan. Mungkin nanti dengan seizin Allah, Ayah dan Ibu akan berpesan, "Jadi yang baik, yang shalihah ya.", lalu bersama menetap di surga-Nya. Allahuma aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)