Pada sebuah pagi, aku berjalan keliling perumahan. Pelan, menghindari becek di sudut kecil dekat selokan. Bulir-bulir embun dan sisa hujan semalam sesekali jatuh, menggelitik tepat di atas hidungku.
Entah mengapa, langit terlihat lebih ceria dari biasanya. Gesekan antara angin dan dedaunan basah melantunkan petrichor dengan bahasanya sendiri. Burung camar pun ikut berisik berceloteh, entah karena sarangnya yang rusak atau anaknya yang lapar. Lengkap dengan bau tanah basah, menambah meriah pagi yang indah.
Lalu kita bertemu, di sebuah pertigaan. Kamu dengan celana polos dan kaos putih di atas lengan. Serasi dengan awan, juga pesonanya yang menawan. Lengkap dengan tatapan yang teduh dan menyenangkan.
Lalu aku menjadi suka tersenyum, lebih ceria dari yang langit bisa. Genangan rindu di dadaku, lebih dalam dari yang hujan punya. Dengan naiad-naiad nakal yang hendak membawamu ke dasar dan tinggal di dalamnya. Dan di dalam dadaku ada yang lebih berisik dari pada camar. Sebuah debar yang tak mampu kau rasakan.
Tiba-tiba, setetes air hujan jatuh lagi tepat di hidungku. Lalu kau mengusapnya dan tertawa dengan kerasnya.
Sebuah pagi yang entah mengapa, ku syukuri pernah ada. Dan ku harap selalu ada, dengan kamu di dalamnya.
Entah mengapa, mungkin karena aku sedang jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.