Rabu, 07 November 2012

Indonesia dan Pemuda


Apa yang ada di pikiran kita jika mendengar kata pemuda? Pemuda adalah seseorang yang penuh inisiatif,  berkontribusi dalam perubahan dan berjiwa berani. Terdengar membanggakan memang. Tapi mari kita lihat realita yang ada. Apakah pemuda kita memiliki sikap-sikap itu? Dengan begitu banyaknya wacana mengenai tawuran, free sex, pemakaian narkotika yang dilakukan remaja, membuktikan bahwa mayoritas pemuda kita masih jauh dari sikap-sikap tersebut.

Jika diperdengarkan tentang kemunduran dan keadaan Indonesia yang hampir jatuh, para pemuda, bahkan semua orang pun pasti merasa trenyuh. Sayangnya, rasa trenyuh bukanlah modal untuk memperbaiki negara kita. Mereka bisa saja berkata “Ya Allah, negaraku!” atau “Kok kayak gini ya?” dan menyalahkan para pejabat yang -menurut mereka- hanya bisa berkorupsi dan hura-hura. Padahal menjadi wakil rakyat itu sendiri tidak mudah. Jika ada pemimpin yang membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan kemauan mereka, mereka akan berpendapat “Kayak nggak pernah muda aja.”. Pada dasarnya, remaja memang pribadi yang labil, menuntut perubahan tanpa usaha dan enggan susah. Mereka tidak akan melakukan perubahan jika belum merasakan sendiri kemunduran negara kita ini. Pikiran mereka bisa saja lari ke tempat yang jauh, tetapi aksi mereka jalan di tempat.

Bagaimana bisa negara tempat kita berpijak ini bisa sebegitu terbelakangnya? Padahal pada awal masa sejarah, Indonesia adalah negara paling maju, baik dalam sistem ekonomi, pelayaran, astronomi, hingga bercocok tanam. Memang, masa penjajahan telah usai, namun saat ini Indonesia telah dijajah kembali secara perlahan. Apa buktinya? Pertama, mari kita lihat produk sehari-hari yang kita gunakan, mulai dari makanan, pakaian hingga air mineral pun mayoritas adalah produk impor. Biasanya, negara lain mengimpor bahan mentah dari Indonesia, diproses dan dikemas di negara tersebut dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal. Hampir semua orang lebih bangga mengenakan produk impor dengan alasan produk impor memiliki kualitas lebih baik. Padahal kenyataannya, berhasil atau tidaknya produk dalam negeri bergantung pada dukungan rakyatnya. Namun, jika rakyat tidak bisa menghargai produk negaranya sendiri apa yang akan terjadi? Penjajahan kedua. Penjajahan tidak hanya perang dan adu senjata saja. Penjajahan era modern adalah serupa perang dingin, adu kuat ekonomi dan teknologi, Siapa yang tertinggal pasti akan menjadi budak dan diperbodoh oleh siapa yang pandai.

Dalam hal ini, kawula muda yang memiliki populasi paling besar seharusnya mampu berpikir cerdas dan open minded. Satu keputusan kecil yang salah kita ambil, pasti akan mempengaruhi tahun-tahun berikutnya dalam kehidupan kita. Mereka tidak akan melakukan perubahan jika belum merasakan langsung apa yang terjadi di lingkungannya. Jika mereka mau, pemuda justru dapat lebih mudah melakukan perubahan, selain karena memiliki populasi yang besar, hal ini juga dikarenakan remaja masih memiliki pemikiran cerdas dan keberanian yang besar. Melakukan perubahan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti belajar, berpendapat, berorganisasi, memakai produk dalam negeri dan lain-lain.

Apa yang salah di negara kita? Pendidikan adalah jawabannya. Pendidikan seharusnya bukan hanya formalitas yang berfungsi untuk mencari ilmu, tetapi untuk mengenal siapa kita dan dimana posisi kita. Pendidikan yang kita dapat di sekolah hanya terpakai sekitar 25% di masyarakat, sisanya adalah kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi. Sistem pendidikan di negara kita ini perlu diperbaiki, bukan hanya mengedepankan ilmu teori, tetapi juga praktek. Bukan hanya membebani siswa dengan pelajaran, tetapi memberikan siswa ilmu nonformal.

Di Kanada, siswa setara SMA bisa memilih mata pelajaran apa yang ingin dipelajarinya. Misalnya Matematika, Ekonomi, Biologi dan Bahasa Perancis, sehingga seorang siswa dimungkinkan mempelajari Kimia dan Geografi dalam satu jenjang. Berbeda dengan Indonesia yang mengadakan penjurusan pada kelas 2 SMA dan hanya stuck pada satu bidang saja, yaitu sosial, pengetahuan alam atau bahasa. Bukan hanya memberatkan siswa hal tersebut juga mengurangi kefektifan belajar. Siswa tidak akan menerima pelajaran tersebut dengan baik karena ia tidak menginginkan pelajaran tersebut dan merasa hal tersebut tidak berguna bagi masa depannya. Berbeda lagi dengan Cina. Negara komunis ini memberikan satu pelajaran keterampilan pilihan yang bisa dipelajari siswa di sekolah, misalnya memasak, menjahit atau olahraga. Hal ini bisa mengantisipasi kekurangan siswa dalam pelajaran formal, sehingga jika kelak siswa tidak mendapat pekerjaan di dunia kerja, ia bisa mendirikan usaha mandiri.

Jika hal ini terus berlanjut, 10 atau 20 tahun lagi Indonesia hanya tinggal bendera. Bahkan lebih buruk, Indonesia bisa menjadi boneka negara lain. Tidak ada yang menginginkan penjajahan. Bukankah menjaga kemerdekaan lebih mudah dilakukan daripada merebut kemerdekaan? Apa susahnya menghargai dan mencintai negara sendiri? Jadi sebenarnya, ini Indonesianya Pemuda atau Pemudanya Indonesia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.