Apa yang ada di pikiran kita jika mendengar kata
pemuda? Pemuda adalah seseorang yang penuh inisiatif, berkontribusi dalam perubahan dan berjiwa
berani. Terdengar membanggakan memang. Tapi mari kita lihat realita yang ada.
Apakah pemuda kita memiliki sikap-sikap itu? Dengan begitu banyaknya wacana
mengenai tawuran, free sex, pemakaian narkotika yang dilakukan remaja,
membuktikan bahwa mayoritas pemuda kita masih jauh dari sikap-sikap tersebut.
Jika diperdengarkan tentang kemunduran dan keadaan
Indonesia yang hampir jatuh, para pemuda, bahkan semua orang pun pasti merasa
trenyuh. Sayangnya, rasa trenyuh bukanlah modal untuk memperbaiki negara kita.
Mereka bisa saja berkata “Ya Allah, negaraku!” atau “Kok kayak gini ya?” dan
menyalahkan para pejabat yang -menurut mereka- hanya bisa berkorupsi dan
hura-hura. Padahal menjadi wakil rakyat itu sendiri tidak mudah. Jika ada
pemimpin yang membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan kemauan mereka, mereka
akan berpendapat “Kayak nggak pernah muda aja.”. Pada dasarnya, remaja memang
pribadi yang labil, menuntut perubahan tanpa usaha dan enggan susah. Mereka
tidak akan melakukan perubahan jika belum merasakan sendiri kemunduran negara
kita ini. Pikiran mereka bisa saja lari ke tempat yang jauh, tetapi aksi mereka
jalan di tempat.
Bagaimana bisa negara tempat kita berpijak ini bisa
sebegitu terbelakangnya? Padahal pada awal masa sejarah, Indonesia adalah
negara paling maju, baik dalam sistem ekonomi, pelayaran, astronomi, hingga
bercocok tanam. Memang, masa penjajahan telah usai, namun saat ini Indonesia
telah dijajah kembali secara perlahan. Apa buktinya? Pertama, mari kita lihat
produk sehari-hari yang kita gunakan, mulai dari makanan, pakaian hingga air
mineral pun mayoritas adalah produk impor. Biasanya, negara lain mengimpor
bahan mentah dari Indonesia, diproses dan dikemas di negara tersebut dan dijual
kembali ke Indonesia dengan harga yang jauh lebih mahal. Hampir semua orang
lebih bangga mengenakan produk impor dengan alasan produk impor memiliki kualitas
lebih baik. Padahal kenyataannya, berhasil atau tidaknya produk dalam negeri
bergantung pada dukungan rakyatnya. Namun, jika rakyat tidak bisa menghargai
produk negaranya sendiri apa yang akan terjadi? Penjajahan kedua. Penjajahan
tidak hanya perang dan adu senjata saja. Penjajahan era modern adalah serupa
perang dingin, adu kuat ekonomi dan teknologi, Siapa yang tertinggal pasti akan
menjadi budak dan diperbodoh oleh siapa yang pandai.
Dalam hal ini, kawula muda yang memiliki populasi
paling besar seharusnya mampu berpikir cerdas dan open minded. Satu keputusan kecil yang salah kita ambil, pasti akan
mempengaruhi tahun-tahun berikutnya dalam kehidupan kita. Mereka tidak akan
melakukan perubahan jika belum merasakan langsung apa yang terjadi di lingkungannya.
Jika mereka mau, pemuda justru dapat lebih mudah melakukan perubahan, selain
karena memiliki populasi yang besar, hal ini juga dikarenakan remaja masih
memiliki pemikiran cerdas dan keberanian yang besar. Melakukan perubahan dapat
dimulai dari hal-hal kecil, seperti belajar, berpendapat, berorganisasi,
memakai produk dalam negeri dan lain-lain.
Apa yang salah di negara kita? Pendidikan adalah
jawabannya. Pendidikan seharusnya bukan hanya formalitas yang berfungsi untuk mencari
ilmu, tetapi untuk mengenal siapa kita dan dimana posisi kita. Pendidikan yang
kita dapat di sekolah hanya terpakai sekitar 25% di masyarakat, sisanya adalah
kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi. Sistem pendidikan di negara kita ini
perlu diperbaiki, bukan hanya mengedepankan ilmu teori, tetapi juga praktek.
Bukan hanya membebani siswa dengan pelajaran, tetapi memberikan siswa ilmu
nonformal.
Di Kanada, siswa setara SMA bisa memilih mata
pelajaran apa yang ingin dipelajarinya. Misalnya Matematika, Ekonomi, Biologi
dan Bahasa Perancis, sehingga seorang siswa dimungkinkan mempelajari Kimia dan
Geografi dalam satu jenjang. Berbeda dengan Indonesia yang mengadakan
penjurusan pada kelas 2 SMA dan hanya stuck
pada satu bidang saja, yaitu sosial, pengetahuan alam atau bahasa. Bukan hanya
memberatkan siswa hal tersebut juga mengurangi kefektifan belajar. Siswa tidak
akan menerima pelajaran tersebut dengan baik karena ia tidak menginginkan
pelajaran tersebut dan merasa hal tersebut tidak berguna bagi masa depannya.
Berbeda lagi dengan Cina. Negara komunis ini memberikan satu pelajaran keterampilan
pilihan yang bisa dipelajari siswa di sekolah, misalnya memasak, menjahit atau
olahraga. Hal ini bisa mengantisipasi kekurangan siswa dalam pelajaran formal,
sehingga jika kelak siswa tidak mendapat pekerjaan di dunia kerja, ia bisa
mendirikan usaha mandiri.
Jika hal ini terus berlanjut, 10 atau 20 tahun lagi
Indonesia hanya tinggal bendera. Bahkan lebih buruk, Indonesia bisa menjadi
boneka negara lain. Tidak ada yang menginginkan penjajahan. Bukankah menjaga
kemerdekaan lebih mudah dilakukan daripada merebut kemerdekaan? Apa susahnya
menghargai dan mencintai negara sendiri? Jadi sebenarnya, ini Indonesianya
Pemuda atau Pemudanya Indonesia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.