Hujan tak datang setiap hari. Lalu mengapa
petir dan guntur tetap tinggal di dada kita?
Kita membicarakan angin ribut satu tahun lau
yang mengacak acak suasana hatimu, tapi
kubilang tak semudah itu. Kukirim kata-kata
penghilang sepi, lalu kau memintaku pergi.
Seketika petir datang dan kau memintaku kembali.
Hujan pergi dan sekali lagi aku angkat kaki.
—
Meramalkan cuaca bukan keahlianku,
begitupun pada kata-kata yang ada di kepalamu.
Mereka berubah lebih cepat daripada cuaca,
beberapa tinggal lebih lama daripada musim.
Seharusnya kaupun sudah tahu, melupakan —pada akhirnya—
akan membuat orang saling memaki ketika
dipertemukan kembali. Tapi bukan berarti kita
harus mengingat hal-hal buruk dari segala sudut.
—
Cinta memang bukan cuaca, tapi
matahari sudah kembali bersinar,
burung-burung sudah ramai berkelakar,
begitupun cuaca dan musim yang berputar,
tersisa kita yang tak juga usai bertengkar.
Aku tak pernah menyukai petir dan guntur,
tetapi kau membuatku belajar bahwa hujan
tak selalu datang dengan benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.