Pada angka delapan kita mengernyitkan dahi pada jarum jam yang berputar di situ-situ saja seperti kehidupan dengan ratusan adegan yang tak jauh berbeda; dari jalanan macet dan berita pagi hingga lampu jalanan dan berita kecelakaan. Berawal dari bahagia ke bahagia yang lebih nyata menuju duka ke duka yang lebih nyeri—lalu kembali ke satu dan sekian lagi.
Pada angka sembilan kita mengutuki timbul tenggelam dalam perasaan yang tidak tahu akan menjadi malam atau siang. Sebab cinta pandai melebih-lebihkan kalimat dan hal-hal sama yang tak lain cuma kebetulan biasa. Bukankah kisah cinta seringkali cuma tentang benar-tidak dan salah terka? Juga aku yang mungkin salah mengenali selongsong rusuk tanpa label nama. Ternyata kalimat penutup yang manis bisa saja cuma bohong belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.