Minggu, 23 Juni 2013

Mentalitas dan Moralitas Melawan Ketidakjujuran

Apa ada yang tahu, mengapa perampok tidak ingin anaknya menjadi perampok?

Perlu kita tahu, budaya jujur adalah bawaan lahir manusia, karena manusia tetap mencintai kejujuran meskipun telah rusak akhlaknya. Kita ambil contoh perampok yang tidak ingin anaknya menjadi perampok. Sebagai efeknya, manusia akan memiliki perasaan bersalah yang membuat mereka menyalahkan keadaan yang membuat mereka melakukan suatu ketidakjujuran, misalnya perampok yang menyalahkan keluarga yang menuntut kekayaan atau teman-teman yang juga merampok. Mengapa hal ini terjadi? Karena moral dan kejujuran sudah tidak dibudayakan. Mereka berpikir untuk memenuhi keinginan dengan jalan praktis. Bukan masalah jika pemikiran praktis tersebut dijadikan sarana untuk menemukan solusi tanpa perlu mengorbankan banyak hal. Namun bagaimana jika pemikiran praktis diaplikasikan dalam kegiatan negatif? Seperti yang biasa kita temui di sekolah-sekolah yaitu menyontek.

Apa yang perlu dikoreksi dalam hal ini? Simpel, bisa kita jawab mental dan moral.

Menurut KBBI, mental adalah hal yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia. Mental adalah faktor utama dari setiap perbuatan manusia. Selain dari diri sendiri, mental juga dibentuk oleh suatu sistem dan lingkungan sosial. Misalnya siswa A adalah siswa yang pandai dan ia belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi ulangan dan menolak untuk melakukan tindakan tidak terpuji dalam ulangan. Sedangkan ada pula siswa B yang kurang pandai dalam pelajaran, namun ia biasa menyontek dan tidak jujur dalam ulangan. Karena hal itu, siswa B menjadi juara kelas dan dapat mengalahkan siswa A. Akhirnya, teman-teman A mencemooh sifat idealis A yang tidak mau menyontek saat ulangan. Karena tidak tahan terhadap cemoohan tersebut dan ingin mengalahkan siswa B, siswa A melakukan ketidakjujuran dalam ulangan berikutnya.

Sedangkan moral, menurut KBBI adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dsb. Moral menggambarkan kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, berdisiplin dsb. Sedikit orang yang berpegang pada prinsip 'Jujur Mujur'. Sebaliknya, banyak orang yang berpegang pada prinsip 'Jujur Ajur'.
Orang yang memanfaatkan setiap kesempatan yang ada akan mendapat keuntungan lebih besar daripada mereka yang membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja
Prinsip diatas merupakan sebuah prinsip yang sangat bijak. Sayangnya, prinsip tersebut sering disalahgunakan, termasuk di kalangan pelajar. Bagi pelajar yang memanfaatkan prinsip diatas tidak akan bersusah payah mengerjakan soal tesnya sendiri, mulai dari menyontek, melihat catatan hingga yang lebih modern yaitu googling. Dengan pemikiran praktis pelajar akan terdorong menggunakan usaha yang praktis, kemungkinan terburuknya saking praktisnya usaha tersebut, tidak ada manfaat yang didapatkan.

Lucunya, beberapa pendidik menganggap biasa hal tersebut. Ketidakjujuran sudah mendarah daging di semua lapisan masyarakat, baik muda maupun tua. Mulai pada pembuatan KTP hingga dalam peradilan pidana. Jika sudah begini, kesadaran diri sendirilah yang harus berperan. Manusia bisa dianggap dewasa jika sudah bisa membedakan yang mana yang benar dan salah bukan? Sebelum kita melakukan sesuatu, sebaiknya kita berpikir efeknya dalam jangka panjang.

Ketidakjujuran dalam berbagai kalangan sudah sistemik dan tidak cukup dengan penambahan pelajaran budi pekerti. Namun harus ditumbuhkan pendidikan karakter dan pendidikan integritas. Selain itu, harus ada upaya yang nyata dalam berbagai aspek. Pembentukan mental yang kuat dan moral yang baik juga diperlukan agar kejujuran dapat tertanam dengan kuat. Seperti yang terdapat dalam The Six Pillars of Character yang dikeluarkan oleh Character Counts Coalition (a project of The Joseph Institute of Ethics) ada enam karakter yang perlu dijadikan acuan, yaitu :
  1. Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi berintegritas, jujur dam loyal
  2. Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka dan tidak suka memanfaatkan orang lain.
  3. Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
  4. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
  5. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam.
  6. Responsbility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.
Penting bagi setiap lapisan masyarakat untuk membina karakter anggotanya, lebih-lebih lembaga pendidikan dimana seharusnya mereka tidak hanya memperhatikan kebutuhan kompetensi akademis tetapi juga pembinaan karakter agar menjadi lulusan yang siap secara akademis dan berkarakter baik. Hal ini merupakan salah satu bentuk investasi negara jangka panjang yang akan berpengaruh terhadap kemajuan negara dan moral rakyatnya. Mayoritas orientasi belajar siswa di sekolah adalah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi, inilah yang membuat siswa melakukan praktek ketidakjujuran, padalah merekalah generasi penerus yang akan kita harapan kontribusinya.

Sejatinya, kejujuran merupakan suatu hal yang baik, namun jalan menujunya sangat keras dan melelahkan. Sebaliknya, ketidakjujuran adalah suatu hal yang tidak baik, namun jalan menujunya sangat mudah dan mulus. Karena itulah sedikit orang yang ada dalam imperium kebenaran. Oleh karena itu, bukan pelaku ketidakjujuran yang harus dikurangi, tapi kejujuran yang harus dihargai. Kepahitan dalam menuntut ilmu itu adalah hal yang biasa, karena barang siapa yang tak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup.

Pilihan berada di tangan kita, apakah kita mau dipecundangi oleh ketidakjujuran dan cara-cara murahan yang ada dalam pikiran dan diri kita sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.