"Kamu cantik sekali, Aira. Apalagi kalau ditambah senyum." kata Ibu.
Aku pun tersenyum.
Ibu merapikan tudung di kepalaku. Aku tak mungkin menunjukkan rasa bimbangku pada senyumnya yang sedang mengembang. Di sudut lain rumah ini, laki-laki itu pasti merasakan kebahagiaan dengan porsi yang lebih besar dari yang dirasakan ibuku. Mungkin ia masih membersihkan sisa-sisa ragunya atau bahkan sudah siap dengan segala kepercayaan dirinya.
Kini, semua mata memandang kami. Sayup-sayup kudengar bisik-bisik bahagia dan mencela. Tak ada siapa-siapa di pikiranku. Tak laki-laki ini, tak laki-laki lain. Aku tahu pernikahan ini takkan bisa ditunda apalagi dihentikan dengan cara apapun. Hanya dengan sepatah kalimat yang akan ia ucapkan, tanggung jawab terbesarku akan berpindah dari orang tua menjadi pada lelaki ini, lelaki yang tangannya sedang menggenggam tangan ayahku. Begitu ajaib.
Aku tahu, Tuhan takkan memberikannya jika Ia tahu bahwa laki-laki ini tak baik untukku. Maka, aku mencoba percaya. Mencoba menerima. Aku hanya butuh satu alasan untuk merasa yakin. Kurasa aku telah menemukannya.
"Sah?"
"Sah!"
Air mataku menetes. Aku mencium tangannya.
Aku mencintaimu karena aku mencintai-Nya, itu cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.