Minggu, 03 April 2016

Swastamita

- untuk Pekan Seni Mahasiswa Universitas Brawijaya - Selasa, 22 Maret 2016.

Lampu jalanan mulai menyala satu persatu. Kedai-kedai pinggir jalan tak pernah sepi oleh pembeli. Beberapa sudut dipenuhi oleh pasangan yang berdua-duaan, sudut lain dipenuhi oleh sekumpulan lelaki paruh baya yang bermain remi. Ada pula kelompok pemuda-pemudi yang mendiskusikan pemimpin yang telah menjabat begitu lama dan merekut rekan-rekan terdekatnya untuk duduk di kursi yang sama.
 
“Kebetulan bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ kata seorang pemuda di meja sebelah.

Satya menatap Laras, ia pernah mengucapkan kalimat itu. Sebagai anggota pers mahasiwa, Satya sering mendengar berbagai macam kalimat dari berbagai jenis individu. Hal itulah yang membuatnya mampu mengingat dengan tepat kalimat apa diucapkan oleh siapa. Begitu pula kutipan-kutipan yang pernah ia baca, apakah itu dari sebuah buku, cerita pendek atau puisi yang menjadi makananya sehari-hari.

Kenyataannya, konsep bahwa kebetulan adalah hasil dari sinkronisitas pernah didengar Laras dari sebuah orasi pada aksi pertama yang ia ikuti. Sejak mendengar konsep itu, ia tak lagi percaya akan adanya sebuah kebetulan. Sejak saat itu pula pekikan revolusi menjadi makanannya sehari-hari, pita merah yang tersimpul di lengan sebelah kanan selallu menjadi aksesori saat ia turun aksi.

Satya adalah lelaki paling perfeksionis yang pernah Laras temui, ia selalu terobsesi dengan keteraturan. Segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya. Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku yang disusun menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang berjalan sesuai dengan rencana. Laras menatapnya dan bertanya,

“Mengapa kau menyukai arunika, menyukai cahaya pagi?”
“Cahaya pagi itu menenangkan, arif, inisiatif. Ia membangunkan hari yang lelap. Awal dari segala muasal.” ungkap Satya singkat, menyaratkan rasa hormat yang kuat.
Laras mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lalu, mengapa kau menyukai swastamita, menyukai cahaya senja?” tembak Satya, menatap balik mata Laras lekat-lekat.
“Cahaya senja itu anggun. Ia adalah cara langit jingga mengecup gelap malam. Tidak terang dan tidak gelap. Tidak bangun, tidak juga lelap. Ia adalah perantara yang sempurna. Ia sementara, tapi mampu meninggalkan kesan yang nyata.” ungkapnya tenang, menyaratkan kekaguman.
“Jadi kita ada di tim yang sama, swastamita?” tanya Satya.
“Tentu saja. Jadi, itu kode nama kita? Arunika dan swastamita?” tanya Laras balik.
“Ya.” kata Satya, ia tersenyum.
Satya mengenalkan Laras pada sudut pandang yang berbeda. Pemikiran anggota pers mahasiswa memang tak seperti orang-orang kebanyakan, ucap Laras dalam hati. Di saat rekan-rekan kuliahnya mengajak ia berdiskusi mengenai revolusi, Satya mengenalkan keindahan propaganda melalui indahnya kata-kata. Di saat rekan-rekan kuliahnya menanamkan aksi nyata di depan gedung pemerintahan, Satya mengajarkan bagaimana menyusup dengan lembut namun mematikan. Mereka rutin menghadiri pementasan drama, pameran lukisan hingga pembacaan puisi. Tak jarang mereka sekadar menikmati keheningan dengan berjalan berdampingan atau saling mengisi sela-sela jari dan saling mengucap janji.

Laras yang cerdas, lucu dan anggun di saat yang bersamaan membuatnya Satya luluh, bahkan tanpa ia sadari. Berapapun buku yang telah ia baca, diksi yang telah ia mengerti, ia tak mampu menggambarkan apa yang ia rasakan. Laras adalah hasil dari sinkronisitas sekaligus kekhawatiran dalam hidupnya. Sebagai seorang aktivis, Laras akrab dengan tembakan peluru, gas air mata, juga bentrok massa. Tak terhitung berapa pekikan revolusi  ia kumandangkan, sejalan dengan prinsip sosialisnya yang begitu kuat ia pegang.

“Tak perlu jauh-jauh ke uang, bahkan untuk makan pun terkadang kita masih cari gratisan. Mari bicara soal waktu. Sebab, pada hakikatnya, korupsi bukan hanya soal mencuri, melainkan menggunakan sesuatu sesuai porsi.” ucap Satya mantap.
“Namun, tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan itu dengan sempurna bukan? Selalu ada hal-hal yang luput dari perhatian; waktu-waktu sisa yang terbuang, rahasia-rahasia diantara setiap kemungkinan atau hal sepele seperti bagaimana membedakan aster dan krisan.” kata Laras sambil mengangkat bahu.
“Tidak. Lagipula tidak ada manusia yang sempurna, kita hanya bisa berusaha untuk mencapai itu. Namun, jika kau menyepelekan waktu, uang seribu, apa lagi yang akan kausepelekan? Kerja keras ibumu?” ucap Satya.
Lagi, Satya mengecek arloji, seakan setiap detik telah ia perhitungkan, setiap kata telah ia rencanakan, seperti yang ia biasa lakukan. Laras bertanya-tanya, bagaimana cara Satya menghadapi spontanitas? Apakah ia akan kikuk serupa tikus yang meringkuk karena dingin atau ia justru percaya diri karena punya belasan rencana yang telah ia setting.
“Bukan hanya aparat, tetapi kau...atau kita yang biasa jingkrak-jingkrak demonstrasi di jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” tambah Satya.
“Apa yang harus dipertanggungjawabkan?” kata Laras sambil menggenggam lengan cangkir kopi di depannya.
“Korupsi bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil, kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak akarnya. Bisa jadi, kita salah satu dari akar itu.”  jawab Satya.
“Tapi seharusnya mereka mampu menahan hasrat itu bukan? Atau mungkin tidak. Hasrat itu memang menuntut untuk dipenuhi, namun mereka tidak melakukan upaya apapun untuk menekannya. Artinya, sama saja. Hasrat itu dipupuk dan dibiarkan bertumbuh. Semakin besar, semakin kuat, semakin susah untuk ditumbangkan.” kata Laras, naif.
“Wasana, kekuatan bawah sadar yang mempengaruhi karakter, berdampak pula pada perilaku. Terkadang ada beberapa hal yang kita lakukan tanpa mengerti alasan dibaliknya, ingin saja. Padahal ada kekuatan id yang ikut campur disitu. Mungkin mereka begitu, supergo dan ego mereka tidak cukup kuat untuk mengontrol id yang ada.” jawab Satya.
“Ditambah lagi, sesuatu yang mendapat penguatan pasti akan diulangi dan bisa terbentuk menjadi sebuah kebiasaan. Di sisi lain, sesuatu yang mendapat pelemahan belum tentu tidak diulangi. Ah, ini semua melelahkan” kata Laras sambil menopang dagunya.
“Semuanya kembali ke moral.” jawab Satya singkat.
“Kebetulan itu bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.” tanya Laras.
“Kau sudah pernah mengucapkan kalimat itu padaku.” kata Satya.
“Aku tahu. Artinya, kebetulan itu tidak ada bukan? Bahkan dibalik mengapa aku mengucapkannya dua kali padamu pasti beralasan.” kata Laras.
“Ya, aku berbincang disini denganmu pun adalah hasil dari sinkronisitas dan akan menghasilkan sinkronisitas yang lain.” kata Satya, memperjelas suasana.
“Kalau begitu, kutunggu sinkronisitas yang lain itu.” kata Laras, menggoda.
Satya tersenyum. “Tunggu? Buat! Besok? Setelah senja?”
“Setelah senja.” jawab Laras.
Mereka saling tersenyum. Satya menyelipkan helaian rambut Laras ke telinganya. Ada yang tersembunyi, namun mereka sama-sama mengerti.

 ---

Mimbar memang begitu menggoda, siapapun yang berkelakar diatasnya akan tertarik untuk mencari tepuk tangan dan pujian, seolah ada mantra yang membutakan. Begitu turun, mereka akan lupa apa yang telah mereka katakan. Mungkin itu efek samping dari mantranya.

Satya sedang berada di warung pinggir jalan kesukaannya ketika Laras sedang menyingsingkan lengan almamaternya. Diiringi bising kendaraan, Satya menuliskan puisi-puisi propaganda di secarik kertas, pekerjaan sehari-harinya.

Aku ingin mengajakmu tinggal di kota,
menjauh dari hukum-hukum rimba
yang berkedok meja bertaplak hijau
dipenuhi bising burung-burung yang berkicau.

Laras sedang mengepalkan tangan ke atas ketika Satya sedang melompati pagar yang digunakan sebagai pembatas. Diiringi kalimat-kalimat revolusi, dalam hati Laras bersumpah bahwa hari esok tak boleh sama lagi.

“Hidup rakyat Indonesia!”
“Hidup rakyat Indonesia!”

Kala itu, memang sedang ramai-ramainya orasi terbuka dan aksi demostran. Pedagang kaki lima di sekitar jalan sudah biasa mendengar pekikan bernada tinggi atau lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan sepenuh hati. Namun, siang itu berbeda. Aparat datang beramai-ramai dengan pelindung lengkap. Suara tembakan peluru terdengar tak beraturan seolah asal dilontarkan sesuai keinginan. Gas air mata membabi buta, memenuhi udara.

Dalam tiga jam, jalanan mulai sepi. Demonstran-demonstran yang memenuhi jalanan tak tahu kemana rimbanya. Begitupun Laras, ia yang berada di tengah barisan menghilang tanpa pesan, yang tersisa hanya pita yang tadi melingkar di lengan kanannya. Sumber pertama mengatakan ia ditangkap aparat karena dianggap sebagai provokator ricuh dalam aksi. Sumber kedua mengatakan ia dan beberapa demonstran lain dibawa ke unversitas luar provinsi karena dianggap menyusup dalam kelompok dan menimbulkan konflik. Entah mana yang dapat dipercaya.

Tak lama, cerita-cerita mengenai konflik antara aparat dan demostran yang pernah terjadi berhenti berhembus. Cerita yang tadinya memiliki banyak versi itu kini hanya memiliki satu versi, itupun tak banyak yang mampu mengingat. Mungkin cerita itu memang cepat terlupakan atau memaksa untuk dihilangkan.

---

Rumah itu cukup tenang, hanya sesekali terdengar suara pompa air, pagar yang berdecit dan celoteh-celoteh tentang korupsi. Setiap sore, laki-laki tua itu duduk manis di teras rumahnya dan menikmati cahaya senja. Setelah matahari terbenam, barulah ia berpindah ke ruang tamu. Seolah merasa tengah diamati, para tetangga yang lewat selalu menoleh sejenak.

“Bukan hanya aparat, tetapi kamu...atau kita yang jingkrak-jingkrak demonstrasi di jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” kata seorang ibu dengan daster bermotif batik.
“Ya, ya, ya. Itulah kata-kata yang selalu ia ucapkan. Memangnya ini jaman orde baru?” seorang ibu berambut ikal menimpali.
“Mungkin saat muda dulu ia aktivis.” kata ibu berdaster sambil meratakan bedak di dahi anak dalam gendongannya.
“Ia tinggal sendiri?” tanya ibu berambut ikal.
“Sekarang, ya. Dulu ia tinggal bersama orang tuanya, namun mereka sudah meninggal belasan tahun lalu. Ia membujang dan itulah alasan kenapa sekarang ia tinggal sendiri di usia setua ini.” jawabnya.
“Mungkin memang benar kalau kesepian itu bisa menggerogoti kesadaran.” kata ibu berambut ikal.
“Korupsi bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil, kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak akarnya.” kata suara dari teras rumah.
“Mulai lagi dia. Setiap sore selalu begitu.” kata salah satu ibu sambil berlalu dari depan rumah itu.

Ia masih sama. Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku yang disusun menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang berjalan sesuai dengan rencana. Digenggamnya pita yang pernah ia temukan tergeletak di tengah jalan. Terdengar suara televisi memberitakan korupsi yang makin hari makin menjadi-jadi.

Pengalaman sebagai anggota pers kampus membuatnya akrab dengan cerita-cerita yang tak selesai atau akhir yang menggantung manja. Namun untuk yang ini, sama sekali ia tak memiliki daya.

“Kebetulan bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ ucapnya. Entah pada siapa.

Bukan sebab akibat, melainkan kecocokan sandi, ketepatan waktu dan semesta yang mengamini usahamu. Ia merasa ada satu sinkronisitasnya yang belum memberikan hasil.

“Kau kemana, swastamita?” kata lelaki tua itu pelan.

Kalimat itu terdengar kembali. Satya menikmati swastamitanya untuk yang terakhir kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.