- untuk Pekan Seni Mahasiswa Universitas Brawijaya - Selasa, 22 Maret 2016.
Lampu
jalanan mulai menyala satu persatu. Kedai-kedai pinggir jalan tak pernah sepi
oleh pembeli. Beberapa sudut dipenuhi oleh pasangan yang berdua-duaan, sudut
lain dipenuhi oleh sekumpulan lelaki paruh baya yang bermain remi. Ada pula
kelompok pemuda-pemudi yang mendiskusikan pemimpin yang telah menjabat begitu
lama dan merekut rekan-rekan terdekatnya untuk duduk di kursi yang sama.
“Kebetulan
bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ kata seorang pemuda di
meja sebelah.
Satya menatap
Laras, ia pernah mengucapkan kalimat itu. Sebagai anggota pers mahasiwa, Satya
sering mendengar berbagai macam kalimat dari berbagai jenis individu. Hal
itulah yang membuatnya mampu mengingat dengan tepat kalimat apa diucapkan oleh
siapa. Begitu pula kutipan-kutipan yang pernah ia baca, apakah itu dari sebuah
buku, cerita pendek atau puisi yang menjadi makananya sehari-hari.
Kenyataannya,
konsep bahwa kebetulan adalah hasil dari sinkronisitas pernah didengar Laras dari
sebuah orasi pada aksi pertama yang ia ikuti. Sejak mendengar konsep itu, ia
tak lagi percaya akan adanya sebuah kebetulan. Sejak saat itu pula pekikan
revolusi menjadi makanannya sehari-hari, pita merah yang tersimpul di lengan sebelah
kanan selallu menjadi aksesori saat ia turun aksi.
Satya
adalah lelaki paling perfeksionis yang pernah Laras temui, ia selalu terobsesi
dengan keteraturan. Segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya.
Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku yang disusun
menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang berjalan
sesuai dengan rencana. Laras menatapnya dan bertanya,
“Mengapa
kau menyukai arunika, menyukai cahaya pagi?”
“Cahaya
pagi itu menenangkan, arif, inisiatif. Ia membangunkan hari yang lelap. Awal
dari segala muasal.” ungkap Satya singkat, menyaratkan rasa hormat yang kuat.
Laras
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lalu, mengapa
kau menyukai swastamita, menyukai cahaya senja?” tembak Satya, menatap balik mata
Laras lekat-lekat.
“Cahaya
senja itu anggun. Ia adalah cara langit jingga mengecup gelap malam. Tidak
terang dan tidak gelap. Tidak bangun, tidak juga lelap. Ia adalah perantara
yang sempurna. Ia sementara, tapi mampu meninggalkan kesan yang nyata.”
ungkapnya tenang, menyaratkan kekaguman.
“Jadi kita
ada di tim yang sama, swastamita?” tanya Satya.
“Tentu
saja. Jadi, itu kode nama kita? Arunika dan swastamita?” tanya Laras balik.
“Ya.” kata
Satya, ia tersenyum.
Satya
mengenalkan Laras pada sudut pandang yang berbeda. Pemikiran anggota pers mahasiswa memang tak seperti orang-orang kebanyakan,
ucap Laras dalam hati. Di saat rekan-rekan kuliahnya mengajak ia berdiskusi
mengenai revolusi, Satya mengenalkan keindahan propaganda melalui indahnya
kata-kata. Di saat rekan-rekan kuliahnya menanamkan aksi nyata di depan gedung
pemerintahan, Satya mengajarkan bagaimana menyusup dengan lembut namun
mematikan. Mereka rutin menghadiri pementasan drama, pameran lukisan hingga
pembacaan puisi. Tak jarang mereka sekadar menikmati keheningan dengan berjalan
berdampingan atau saling mengisi sela-sela jari dan saling mengucap janji.
Laras yang
cerdas, lucu dan anggun di saat yang bersamaan membuatnya Satya luluh, bahkan
tanpa ia sadari. Berapapun buku yang telah ia baca, diksi yang telah ia
mengerti, ia tak mampu menggambarkan apa yang ia rasakan. Laras adalah hasil
dari sinkronisitas sekaligus kekhawatiran dalam hidupnya. Sebagai seorang
aktivis, Laras akrab dengan tembakan peluru, gas air mata, juga bentrok massa.
Tak terhitung berapa pekikan revolusi ia
kumandangkan, sejalan dengan prinsip sosialisnya yang begitu kuat ia pegang.
“Tak perlu
jauh-jauh ke uang, bahkan untuk makan pun terkadang kita masih cari gratisan.
Mari bicara soal waktu. Sebab, pada hakikatnya, korupsi bukan hanya soal
mencuri, melainkan menggunakan sesuatu sesuai porsi.” ucap Satya mantap.
“Namun,
tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan itu dengan sempurna bukan? Selalu
ada hal-hal yang luput dari perhatian; waktu-waktu sisa yang terbuang,
rahasia-rahasia diantara setiap kemungkinan atau hal sepele seperti bagaimana
membedakan aster dan krisan.” kata Laras sambil mengangkat bahu.
“Tidak.
Lagipula tidak ada manusia yang sempurna, kita hanya bisa berusaha untuk
mencapai itu. Namun, jika kau menyepelekan waktu, uang seribu, apa lagi yang
akan kausepelekan? Kerja keras ibumu?” ucap Satya.
Lagi, Satya
mengecek arloji, seakan setiap detik telah ia perhitungkan, setiap kata telah
ia rencanakan, seperti yang ia biasa lakukan. Laras bertanya-tanya, bagaimana cara
Satya menghadapi spontanitas? Apakah ia akan kikuk serupa tikus yang meringkuk
karena dingin atau ia justru percaya diri karena punya belasan rencana yang
telah ia setting.
“Bukan
hanya aparat, tetapi kau...atau kita yang biasa jingkrak-jingkrak demonstrasi
di jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” tambah Satya.
“Apa yang
harus dipertanggungjawabkan?” kata Laras sambil menggenggam lengan cangkir kopi
di depannya.
“Korupsi
bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil,
kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak
akarnya. Bisa jadi, kita salah satu dari akar itu.” jawab Satya.
“Tapi
seharusnya mereka mampu menahan hasrat itu bukan? Atau mungkin tidak. Hasrat
itu memang menuntut untuk dipenuhi, namun mereka tidak melakukan upaya apapun untuk
menekannya. Artinya, sama saja. Hasrat itu dipupuk dan dibiarkan bertumbuh.
Semakin besar, semakin kuat, semakin susah untuk ditumbangkan.” kata Laras,
naif.
“Wasana,
kekuatan bawah sadar yang mempengaruhi karakter, berdampak pula pada perilaku.
Terkadang ada beberapa hal yang kita lakukan tanpa mengerti alasan dibaliknya,
ingin saja. Padahal ada kekuatan id yang ikut campur disitu. Mungkin mereka
begitu, supergo dan ego mereka tidak cukup kuat untuk mengontrol id yang ada.”
jawab Satya.
“Ditambah
lagi, sesuatu yang mendapat penguatan pasti akan diulangi dan bisa terbentuk
menjadi sebuah kebiasaan. Di sisi lain, sesuatu yang mendapat pelemahan belum
tentu tidak diulangi. Ah, ini semua melelahkan” kata Laras sambil menopang
dagunya.
“Semuanya
kembali ke moral.” jawab Satya singkat.
“Kebetulan
itu bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.” tanya Laras.
“Kau sudah
pernah mengucapkan kalimat itu padaku.” kata Satya.
“Aku tahu. Artinya,
kebetulan itu tidak ada bukan? Bahkan dibalik mengapa aku mengucapkannya dua
kali padamu pasti beralasan.” kata Laras.
“Ya, aku
berbincang disini denganmu pun adalah hasil dari sinkronisitas dan akan
menghasilkan sinkronisitas yang lain.” kata Satya, memperjelas suasana.
“Kalau
begitu, kutunggu sinkronisitas yang lain itu.” kata Laras, menggoda.
Satya
tersenyum. “Tunggu? Buat! Besok? Setelah senja?”
“Setelah
senja.” jawab Laras.
Mereka
saling tersenyum. Satya menyelipkan helaian rambut Laras ke telinganya. Ada
yang tersembunyi, namun mereka sama-sama mengerti.
---
Mimbar
memang begitu menggoda, siapapun yang berkelakar diatasnya akan tertarik untuk
mencari tepuk tangan dan pujian, seolah ada mantra yang membutakan. Begitu
turun, mereka akan lupa apa yang telah mereka katakan. Mungkin itu efek samping
dari mantranya.
Satya
sedang berada di warung pinggir jalan kesukaannya ketika Laras sedang
menyingsingkan lengan almamaternya. Diiringi bising kendaraan, Satya menuliskan
puisi-puisi propaganda di secarik kertas, pekerjaan sehari-harinya.
Aku ingin mengajakmu tinggal di kota,
menjauh
dari hukum-hukum rimba
yang
berkedok meja bertaplak hijau
dipenuhi
bising burung-burung yang berkicau.
Laras sedang
mengepalkan tangan ke atas ketika Satya sedang melompati pagar yang digunakan
sebagai pembatas. Diiringi kalimat-kalimat revolusi, dalam hati Laras bersumpah
bahwa hari esok tak boleh sama lagi.
“Hidup rakyat Indonesia!”
“Hidup
rakyat Indonesia!”
Kala itu,
memang sedang ramai-ramainya orasi terbuka dan aksi demostran. Pedagang kaki
lima di sekitar jalan sudah biasa mendengar pekikan bernada tinggi atau
lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan sepenuh hati. Namun, siang itu berbeda.
Aparat datang beramai-ramai dengan pelindung lengkap. Suara tembakan peluru
terdengar tak beraturan seolah asal dilontarkan sesuai keinginan. Gas air mata
membabi buta, memenuhi udara.
Dalam tiga
jam, jalanan mulai sepi. Demonstran-demonstran yang memenuhi jalanan tak tahu
kemana rimbanya. Begitupun Laras, ia yang berada di tengah barisan menghilang
tanpa pesan, yang tersisa hanya pita yang tadi melingkar di lengan kanannya. Sumber
pertama mengatakan ia ditangkap aparat karena dianggap sebagai provokator ricuh
dalam aksi. Sumber kedua mengatakan ia dan beberapa demonstran lain dibawa ke
unversitas luar provinsi karena dianggap menyusup dalam kelompok dan
menimbulkan konflik. Entah mana yang dapat dipercaya.
Tak lama,
cerita-cerita mengenai konflik antara aparat dan demostran yang pernah terjadi
berhenti berhembus. Cerita yang tadinya memiliki banyak versi itu kini hanya
memiliki satu versi, itupun tak banyak yang mampu mengingat. Mungkin cerita itu
memang cepat terlupakan atau memaksa untuk dihilangkan.
---
Rumah itu
cukup tenang, hanya sesekali terdengar suara pompa air, pagar yang berdecit dan
celoteh-celoteh tentang korupsi. Setiap sore, laki-laki tua itu duduk manis di
teras rumahnya dan menikmati cahaya senja. Setelah matahari terbenam, barulah
ia berpindah ke ruang tamu. Seolah merasa tengah diamati, para tetangga yang
lewat selalu menoleh sejenak.
“Bukan
hanya aparat, tetapi kamu...atau kita yang jingkrak-jingkrak demonstrasi di
jalanan ini juga harus bertanggung jawab.” kata seorang ibu dengan daster
bermotif batik.
“Ya, ya, ya.
Itulah kata-kata yang selalu ia ucapkan. Memangnya ini jaman orde baru?”
seorang ibu berambut ikal menimpali.
“Mungkin saat
muda dulu ia aktivis.” kata ibu berdaster sambil meratakan bedak di dahi anak
dalam gendongannya.
“Ia tinggal
sendiri?” tanya ibu berambut ikal.
“Sekarang,
ya. Dulu ia tinggal bersama orang tuanya, namun mereka sudah meninggal belasan
tahun lalu. Ia membujang dan itulah alasan kenapa sekarang ia tinggal sendiri
di usia setua ini.” jawabnya.
“Mungkin
memang benar kalau kesepian itu bisa menggerogoti kesadaran.” kata ibu berambut
ikal.
“Korupsi
bukanlah sebuah aksi, melainkan akumulasi, dari didikan masa kecil,
kebiasaan-kebiasaan lama hingga pengaruh media. Kalau dijabarkan, banyak
akarnya.” kata suara dari teras rumah.
“Mulai lagi
dia. Setiap sore selalu begitu.” kata salah satu ibu sambil berlalu dari depan rumah
itu.
Ia masih
sama. Ketidakselarasan sedikit saja mampu membuat ia pusing kepala. Buku-buku
yang disusun menurut tinggi, cahaya pagi yang terbit tepat waktu, eksekusi yang
berjalan sesuai dengan rencana. Digenggamnya pita yang pernah ia temukan
tergeletak di tengah jalan. Terdengar suara televisi memberitakan korupsi yang
makin hari makin menjadi-jadi.
Pengalaman sebagai anggota pers kampus membuatnya akrab dengan cerita-cerita yang tak selesai atau akhir yang menggantung manja. Namun untuk yang ini, sama sekali ia tak memiliki daya.
“Kebetulan
bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas.“ ucapnya. Entah pada
siapa.
Bukan sebab
akibat, melainkan kecocokan sandi, ketepatan waktu dan semesta yang mengamini
usahamu. Ia merasa ada satu sinkronisitasnya yang belum memberikan hasil.
“Kau
kemana, swastamita?” kata lelaki tua itu pelan.
Kalimat itu
terdengar kembali. Satya menikmati swastamitanya untuk yang terakhir kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.