Salah satu konsep penting kepribadian yang sehat dalam
paradigma psikologi humanistik adalah adanya unconditional positive regard.
Unconditional positive regard adalah pemberian penghargaan tanpa syarat dari
individu ke individu lain. Umumnya, unconditional positive regard dikembangkan
sejak masa kanak-kanak oleh keluarga. Apabila, unconditional positive regard
ini terpenuhi, anak bisa tetap merasa disayangi oleh keluarganya dalam kondisi
apapun. Efeknya, anak menjadi tidak takut untuk mengaktualisasikan diri dan
mengembangkan potensinya. Apalagi anak-anak ada pada masa dimana ia menjadikan
lingkungan sebagai medan ia belajar.
Namun, menurut saya konsep unconditional positive regard ini tidak hanya
penting untuk dikembangkan di dalam keluarga, melainkan dimanapun dan dalam
hubungan apapun. Aktualisasi diri bukan hanya milik anak-anak, namun juga pada
semua tahap perkembangan. Semakin kita menerapkan batasan dalam penghargaan
kepada orang lain, akan semakin jauh jarak antara keadaan diri yang sebenarnya
dan keadaan ideal dari seorang individu. Nah, biasanya inilah yang menyebabkan
individu merasa tidak diterima dan tidak dihargai. Bahkan, bisa memicu gangguan
mental.
Seorang ibu dapat membenarkan perilaku anak yang tidak sesuai, namun tanpa
menimbulkan perasaan bersalah bagi si anak tersebut. Kita dapat mengingatkan
atau memberikan kritik, namun tanpa menumbuhkan perasaan worthless pada orang
lain.
Batasnya kesabaran, lapangnya hati, luasnya penerimaan pada orang lain. Kita
sendiri yang membatasi, kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.