Minggu, 30 April 2017

Unconditional Positive Regard

Salah satu konsep penting kepribadian yang sehat dalam paradigma psikologi humanistik adalah adanya unconditional positive regard. 

Unconditional positive regard adalah pemberian penghargaan tanpa syarat dari individu ke individu lain. Umumnya, unconditional positive regard dikembangkan sejak masa kanak-kanak oleh keluarga. Apabila, unconditional positive regard ini terpenuhi, anak bisa tetap merasa disayangi oleh keluarganya dalam kondisi apapun. Efeknya, anak menjadi tidak takut untuk mengaktualisasikan diri dan mengembangkan potensinya. Apalagi anak-anak ada pada masa dimana ia menjadikan lingkungan sebagai medan ia belajar. 

Namun, menurut saya konsep unconditional positive regard ini tidak hanya penting untuk dikembangkan di dalam keluarga, melainkan dimanapun dan dalam hubungan apapun. Aktualisasi diri bukan hanya milik anak-anak, namun juga pada semua tahap perkembangan. Semakin kita menerapkan batasan dalam penghargaan kepada orang lain, akan semakin jauh jarak antara keadaan diri yang sebenarnya dan keadaan ideal dari seorang individu. Nah, biasanya inilah yang menyebabkan individu merasa tidak diterima dan tidak dihargai. Bahkan, bisa memicu gangguan mental. 

Seorang ibu dapat membenarkan perilaku anak yang tidak sesuai, namun tanpa menimbulkan perasaan bersalah bagi si anak tersebut. Kita dapat mengingatkan atau memberikan kritik, namun tanpa menumbuhkan perasaan worthless pada orang lain. 

Batasnya kesabaran, lapangnya hati, luasnya penerimaan pada orang lain. Kita sendiri yang membatasi, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.