Dalam perspektif Psikologi Perkembangan, usia dua puluhan merupakan usia pada tahap dewasa awal. Masa di mana kita mulai menghadapi life crisis, di mana kita mulai menentukan banyak hal yang akan berpengaruh secara permanen pada kelanjutan hidup kita. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, rumah tangga. Kita yang dulu berapi-api dan begitu berambisi, bisa jadi sekarang meredup nyalinya karena menyadari begitu banyak konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil - banyak hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum mengambil suatu keputusan.
Beberapa kata atau kalimat menjadi lebih dalam pemaknaannya karena kita telah mengalami sendiri dan mampu menyerap pesan dari kata atau kalimat tersebut berdasarkan apa yang kita rasakan. Misalnya saja dalam pemaknaan kata baik. Bagi orang lain, baik bisa jadi berarti sopan dalam bertutur kata dan gemar menolong. Namun bagi kita, baik bisa jadi berarti ikhlas dalam setiap langkah. Termasuk mengenai pengingat untuk menyukai atau membenci sesuatu dengan sewajarnya, karena memang tidak ada yang bertahan selamanya : benda-benda kesayangan, hingga teman-teman. Apalagi di masa dewasa awal, lingkungan kita akan lebih terseleksi. Lingkup pertemanan kita akan menyempit secara horizontal, namun meluas secara vertikal - berkurang dari segi kuantitas, namun bertambah dari segi kualitas. Masalahnya, bagi beberapa orang, berdamai dengan kehilangan bukan merupakan suatu hal yang mudah.
Semakin dewasa, kita harus semakin pandai untuk berpura-pura dan menjadi tulus sekaligus - atau pandai-pandai untuk bergantian menerapkan salah satunya. Berpura-pura kepada adik-adik bahwa kita sedang tidak baik-baik saja - karena jika mereka tahu kita sedang jatuh, kepada siapa mereka akan bergantung? Menjadi tulus kepada teman-teman kita, bahwa kita memang ada untuk mereka. Berpura-pura untuk tenang dan berusaha tulus untuk menenangkan - bahkan pada keadaan ketika kita merasa tidak mampu melakukannya.
Semakin dewasa, kita akan menyadari bahwa sendiri bukan menjadi suatu masalah. Kesendirian bukan menjadi suatu kekhawatiran yang sentral, karena sejatinya kita memang sendiri bukan? Namun, tugas kita adalah bagaimana menempatkan diri untuk tetap menjadi bermanfaat tanpa harus bergantung pada orang lain - menempatkan sesuatu pada porsinya.
Semakin kita dewasa, kita akan memahami bahwa tidak semua hal berkorelasi positif. Ketika kita berbuat baik kepada seseorang, belum tentu ia akan membalasnya dengan kebaikan pula. Jangan pernah lupa bahwa kebaikan akan selalu berputar dalam siklus. Namun, sebenarnya untuk apa kita berbuat baik? Apakah sekadar untuk dibalas dengan kebaikan?
Semakin kita dewasa, kita akan tahu bahwa di antara hitam dan putih terdapat abu-abu. Tugas kita adalah pandai-pandai menempatkan diri, untuk urusan manakah kita harus menjadi salah satunya. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak memilih ketiganya. Bahwa pikiran dan perasaan perlu ditempatkan pada porsinya, apalagi ketika kita hendak mengambil suatu keputusan.
Beberapa tahun lagi, kita akan sadar bahwa masalah mendewasakan kita. Dengan diri sendiri maupun orang lain, hati maupun pikiran, waktu luang maupun sempit, masalah maupun berkah - selamat berproses, melawan sekaligus berdamai. Mari menangkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.