Hidup di usia dua puluhan membuat quarter life crisis semakin terasa, dimana kita mulai mempertanyakan apa tujuan hidup kita dan membuat berbagai keputusan atasnya. Berbeda dengan sebelumnya, keputusan-keputusan yang kita buat pada usia ini merupakan keputusan yang akan berdampak permanen bagi kelanjutan hidup kita, misalnya pendidikan, pekerjaan, hingga keluarga. Oleh karena itu, seringkali mereka yang dianggap telah mampu mengambil keputusan, memilih jalan, dan membuat sebuah pencapaian mendapat predikat berhasil dalam masyarakat. Namun, benarkah begitu?
Pada masa di mana media sosial semakin berkembang ini, kita dengan mudahnya melihat berbagai pencapaian orang lain. Kita pun mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah pencapaian seperti itu yang kita inginkan? Kapan kita bisa sampai pada titik itu? Kita fokus terhadap pencapaian orang lain dan hidup di bawah bayang-bayangnya. Kita berusaha mengejar pencapaian yang sama, baik karena keinginan pribadi maupun demi pengakuan lingkungan di kanan dan kiri. Bukan suatu hal yang salah ketika kita berusaha mengejar pencapaian yang sama dengan orang lain apabila hal tersebut menjadi visi kita. Namun, jangan sampai ; ketika kita berusaha mengejar pencapaian orang lain di lintasannya, kita tertinggal di lintasan kita sendiri. Seperti melihat rekan-rekan lulus tiga setengah tahun, lalu kita merutuki diri sendiri karena tidak mampu melakukan hal yang sama. Ternyata kita lupa, kita diminta untuk menebar kebermanfaatan lebih lama pada organisasi yang sedang kita rawat, misalnya. Saat itu, bisa jadi kita memang tertinggal pada lintasan orang lain. Namun, kita sedang melesat jauh pada lintasan kita sendiri. Tetap ingat bahwa setiap orang memiliki medan juangnya masing-masing ; dengan garis start dan finish serta panjang lintasan yang berbeda. Begitu pula dengan definisi menang dan kalah. Terkadang, beberapa hal dalam hidup tidak punya rumus pasti seperti satu ditambah satu sama dengan dua. Belum tentu dia yang menang adalah dia yang pertama kali sampai pada tujuan.
Rumit memang. Namun, tunggu. Bukankan kita yang memperumitnya? Mari menemukan lintasan kita dan membuat definisi menang kita sendiri. Mari berhenti di bawah bayang-bayang hidup orang lain. Eksplorasi diri dan lingkungan lebih banyak, dan tentukan apa yang sebenarnya kita cari. Mari kembali fokus.
Apakah kita lupa? Kita kebingungan disaat tujuan hidup kita sudah jelas. Di antara hiruk pikuk dunia, manusia dan pencapaiannya, sudahkah tujuan hidupmu bermuara pada-Nya?
Jadi, selamat berjuang! Dimanapun medan juangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.