Minggu, 25 Maret 2018

Rencana

Mereka bilang bahwa hidup adalah rencana, yang berisikan daftar hal-hal yang menjadi tujuan dan cara mencapainya. Tanpa sadar, kita menjadikan hidup sebagai kompetisi, berlari sambil melihat kanan dan kiri. Bahagia ketika tujuan itu tercapai dan kecewa ketika gagal. Saya paham, bahwa rencana menjadikan kita terjaga. Selain itu, dengan rencana kita bisa mencapai lebih banyak hal leda dengan lebih baik dibandingkan jika kita tidak memiliki rencana. Namun, tidakkah kita lelah?

"Kesalahan terbesar itu pas gua terlalu terfokus sama mencari perlu achieve apa di dunia ini. Gua ngerasa dibodohi sama hidup, karena gua ngerasa gua tuh budak dunia. Gua sih sekarang nggak pakai GPS, karena mikirin hidup lu mau dibawa ke mana tuh pusing, karena kita nggak tahu di depan tuh ada apa dan kita nggak tahu apa yang Tuhan persiapkan buat lu. Eventually, bakal baik-baik aja kok kalau kitanya lurus-lurus aja. Itu sangat gua percayai. Jadi yaudah, gua tidak khawatir. Misalnya ada yang bilang, tapi menurut gua tuh hidup harus ada rencananya. Kalau nggak, kita bakal bingung mau ke mana. Gua sih nggak bingung mau ke mana, karena gua nggak mikirin mau ke mana, yang penting gua kerja yang bener, usaha yang bener. Pasti tuh jalan ada aja, pasti menujunya ke situ. Nggak bercabang. Bercabang itu gara-gara takdirnya ke situ, tapi kita mikirnya ke mana-mana." - Gita Savitri Devi.

Saya sempat merasa insecure dengan teman-teman yang memiliki rencana detail akan hidupnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Sedangkan saya memiliki rencana yang cenderung dinamis. Saya membuat rencana dalam bentuk yang general dan hanya beberapa target yang detail. Saya memilih untuk menentukan pilihan ketika pilihan itu memang hadir, dan mengambil kesempatan jika kesempatan itu ada. Ketika menulis kalimat ini, terdapat berbagai pertentangan di dalam kepala saya, bahwa kesempatan itu harus diciptakan. Namun, begitulah prinsip saya. Saya berfokus pada proses, bukan hasil akhir. Jika kita memiliki rencana yang statis, kita akan terfokus pada hasil karena hasil tersebut akan mempengaruhi rencana-rencana kita yang lain. Saya memaknai hidup, bukan menjadikan hidup sebagai tujuan. Sehingga, apapun yang Allah berikan kepada saya dalam hidup, saya berusaha mengartikannya dengan baik dari segala sudut pandang.

Mungkin itulah mengapa, dibanding mengucapkan kalimat semoga berhasil, saya lebih suka mengucapkan agar orang lain mendapatkan hasil yang terbaik. Merencanakan semampunya, mengusahakan sebisanya. Biarkan Allah mengerjakan bagian-Nya dan kerjakan bagianmu. Kita bisa tenang naik pesawat tanpa kenal pilotnya. Lalu kenapa masih resah menjalani hidup padahal tahu Allah yang mengatur segalanya? Maukah kau percaya pada-Nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.