Kamis, 17 Mei 2018

Sebaik-Baik Sandaran

Seiring berjalannya waktu, ada beberapa hal yang baru kita sadari ketika kita telah menjalani sendiri. Lalu kata-kata akan lebih bermakna karena kita benar-benar tahu apa artinya. Seperti kata-kata untuk menghibur yang diucapkan sambil berlalu pergi, sementara yang lain untuk menenangkan dan mungkin ada karena benar-benar peduli.

Bahwa ternyata untuk menguatkan, kau perlu sumber keteguhan yang tak ada habisnya. Lalu untuk menghangatkan, kau perlu api pemanas yang tiada pernah redup. Tak lupa untuk membahagiakan, kau perlu rasa syukur yang tak henti-henti. Pun untuk menenangkan, kau perlu berhenti mencemaskan yang tak perlu dan untuk membagikannya, kau perlu memulai dari dirimu sendiri.
"Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka aku akan mendatanginya dengan berlari." - HR Bukhari.
Tiada pernah kau dapat segalanya itu dari manusia yang berubah-ubah keadaannya ; pemikirannya, perasaannya, imannya.  Maka mampukah kamu melewati segalanya dengan memalingkan pandanganmu dari-Nya? Sebab tiada sebaik-baik bersandar selain kepada-Nya. Jadi, jangan menjauh.

Kencangkan lagi sabuk tawakkalmu, siapkan senyum terbaik, dan bersemangatlah : karena Allah sedang mendidikmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.