Manusia hidup dengan keinginan. Kita menyebutnya angan, mimpi, atau harapan. Akan selalu ada kemungkinan pada keinginan tersebut yang menghidupkan atau mematikan kita sebagai manusia. Semuanya terletak pada prosesnya. Sebuah keinginan dapat menghidupkan kita apabila keinginan tersebut membuat kita mendapat pembelajaran, value, juga kesiapan untuk memelihara keinginan itu sendiri saat kita mencapainya. Keinginan itu pun akan menjadi media untuk kita menuju keinginan-keinginan kita yang lain, terlepas dari akan kita apakan ia nanti. Sedangkan sebuah keinginan dapat dikatakan mematikan kita apabila keinginan itu membuat kita berambisi dengan buta, melakukan segala cara untuk mendapatkan tanpa memikirkan baik-buruknya, dan tidak ada alasan khusus akan kita apakan keinginan itu nanti —tidak jelas apakah itu keinginan kita, atau hanya sebagai pembuktian.
—Keinginan dapat menghidupkan dan mematikan kita sebagai manusia.
Berbicara tenang keinginan selepas menyelesaikan beberapa tanggung jawab di universitas, keinginan saya untuk mengikuti dan mengerjakan berbagai hal pun tumbuh kembali —setelah sebelumnya beberapa harus ditunda atau dilepaskan. Baru-baru ini, saya menemukan lapangan pekerjaan di tempat dan posisi menarik yang sesuai dengan jurusan dan minat saya, namun lokasinya di Yogyakarta dan Salatiga. Ada pula open recruitment relawan di komunitas yang challenging, namun kegiatannya mengharuskan saya banyak berdomisili di Malang. Sementara, saat ini ada beberapa hal yang mengharuskan saya untuk banyak beraktivitas di kota tempat saya tinggal. Kebiasaan saya untuk melakukan sesuatu secara mendalam, membuat saya mengurungkan niat untuk mendaftar di keduanya. Saya merasa, jika saya mengikuti suatu hal namun tidak mampu terjun penuh, akan membuat saya kesulitan untuk belajar secara komprehensif. Lalu, jika ditengah jalan saya terpaksa harus berhenti, saya akan merasa sangat menyesal. Dari sana saya belajar bahwa merelakan keinginan bukanlah suatu hal yang salah. Itulah mengapa menurut saya, sebaiknya keinginan bukanlah suatu hal yang detail, melainkan bersifat umum dan berupa tujuan-tujuan. Jika kita tidak mampu mewujudkan keinginan yang ada dengan suatu hal yang detail tersebut, kita masih punya banyak jalan lain untuk mencapai tujuan yang sudah dicanangkan. Hal tersebut bisa dirumuskan dalam perjalanan sambil melihat peluang yang ada, apabila rencana pertama untuk mencapainya gagal.
—Keinginan dalam bentuk umum dan diturunkan menjadi tujuan.
Perihal rencana, situasi ini membuat saya teringat ketika saya baru saja demisioner dari himpunan jurusan saya dua tahun lalu. Saat itu, saya sudah berangan mengikuti beberapa hal di kampus, seperti asisten praktikum untuk mata kuliah, volunteer untuk mahasiswa difabel, komunitas mengajar, lomba akademik maupun nonakademik, dan lain-lain. Namun, ternyata Allah memberikan saya tanggung jawab di lembaga eksekutif —yang tidak sederhana. Seperti yang sudah saya katakan diatas, prinsip saya untuk terjun secara mendalam membuat saya tidak banyak mengikuti kegiatan saat berada di organisasi tersebut. Padahal jika dipikir kembali, rasanya saya masih bisa mengikuti beberapa hal jika saya mau. Namun positifnya, saya bisa belajar dengan sungguh saat berada di organisasi tersebut. Terlepas dari hal itu, jika saya maknai kembali saat ini, amanah tersebut justru merangkum semua hal yang saat itu ingin saya ikuti, meskipun tidak komprehensif dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Rasanya semuanya berujung pada kesimpulan tentang mengikhlaskan dan memaksimalkan apa yang kita punya.
—Merelakan keinginan bukanlah suatu hal yang salah, meskipun tidak mudah.
Mindset yang harus kita tanamkan adalah bahwa apa yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik. Lalu, kita harus berpikir bagaimana kita mencari peluang dari suatu hal atau kondisi. Baik hal yang bersangkutan tersebut menyenangkan atau tidak untuk kita. Dulu, saya memiliki satu kalimat penghibur andalan, "Kenapa kita harus mencari tempat lain cuma untuk menyesuaikan keinginan kita? Toh hal yang kita lakukan saat ini sudah jelas kebermanfaatannya.". Akan berbeda lagi ketika mungkin hal yang kita lakukan banyak kerugiannya, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kalimat tersebut membuat saya mencoba memaksimalkan diri pada hal yang sedang saya jalani.
—Mencari peluang dan pembelajaran pada hal-hal yang sedang dijalani.
Membaca tulisan di atas, mungkin teman-teman memaknainya bahwa saya tidak berambisi akan suatu hal. Namun nyatanya, kita (pun saya) merasa bahwa tidak berambisi dan mudah menerima memang tipis bedanya. Saya memaknai tidak berambisi sebagai tiadanya hasrat untuk mencapai sesuatu, sama sekali. Sedangkan mudah menerima saya artikan sebagai mudahnya kita dalam menerima suatu kondisi, yang idealnya diikuti dengan alternatif strategi apabila kondisi tersebut tidak hadir sesuai dengan rencana kita. Menurut saya, mudah menerima akan menjaga kita untuk tetap bisa berambisi, namun tidak menjadikannya obsesi, sehingga kita bisa mencapai keinginan kita dalam koridor yang benar.
—Keinginan : ambisi atau obsesi?
Selamat memelihara sekian keinginan dan mewujudkannya menjadi kenyataan. Jangan lupa maknai setiap proses dan ambil sebanyak-banyaknya pembelajaran. Semoga kita tetap berada pada jalur yang benar dalam mencapainya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.