Minggu, 27 Februari 2011

Little Things Big Impacts

Untuk pertama kalinya, hari ini aku merasa diingatkan oleh suatu kejadian di warung kecil. Mungkin cuma hal sepele. Mengena bukan karena kejadiannya, tapi pesan tersembunyi di dalamnya. Ini diaaaa *drumroll

Seperti biasanya, hari ini (26/02) sepulang sekolah aku latihan Pramuka di sekolah. Aku dan temenku, yaitu Holy dan Risha, membantu kakak Pembina melatih adik-adik yang akan ikut lomba Pramuka. Kami dilarang orang tua ikut lomba itu karena UN sudah dekat. Nah, saat itu ular phyton di perutku lagi nagih jatah makannya. Laper. Mungkin ini efek dari sarapan nasi goreng yang nggak aku habisin tadi pagi. Bangun pagi-pagi, PIB, dipaksa makan lagi, hoah males banget. Ular phytonku pun semakin menjadi setelah aku maksain diri untuk nggak makan.

Awalnya kita ikut latihan sama mereka. Setelah beberapa lama, kita kok malah jadi kayak tamu tak diundang. Ini acara mereka, latihan mereka, sedangkan kita ikut-ikut aja, koyo wong gak kanggo. Berasa jadi pengganggu. Kita pun keluar dari barisan dan duduk manis melihat mereka latihan.

Setelah beberapa lama kita merasa nggak enak sama mereka, karena kita cuma duduk-duduk aja. Akhirnya kita latihan Semaphore di pojok lapangan. Karena kita remaja gaul, kita malah jadi foto-foto pake bendera Semaphore nyusun nama-nama orang yang dikagumi. Kita bosen banget disitu, nggak ada kerjaan yang bisa dilakuin. Mulai dengerin lagu, ngegambar-gambar nggak jelas sampai ngerjain PR udah kita jabanin.

Akhirnya, aku dan Risha cari angin dengan bersepeda dan beli es di belakang sekolah. Nah, waktu beli es, si ibu penjual ngelayanin kita sambil  nyusuin anakya yang masih bayi. Disitu juga ada anaknya yang berumur sekitar 5 tahun. Toko si ibu yang jadi satu sama rumahnya itu nggak seberapa bagus, standart lah. Tapi juga terlihat agak kotor dan kurang rapi. Cat dindingnya juga udah agak kusam, nggak bisa dibilang kumuh, tapi juga nggak bisa dibilang bersih. Aku perhatiin anak kecil tadi, dia lagi makan, lahap banget. Aku agak heran lihat dia makan. Gimana nggak, nasinya segunung. Tinggi banget lagi! Tapi yang bikin lebih trenyuh, dia makan nggak pake lauk telur, tempe, apalagi ikan. Dia makan pake lauk mie kering dari makanan ringan! Nasinya juga jauh lebih banyak daripada mie keringnya.

Saat itu aku mikir, kalau aku jadi dia, pasti aku nggak mau makan pakai lauk itu. Aku jadi inget sarapanku tadi pagi, aku cuma habisin setengahnya. Itu artinya aku nggak ngehargain masakan  mamaku, beliau udah masakin tapi malah aku sia-siain. Sedangkan anak kecil itu, meskipun dia cuma makan pakai lauk mie-miean dia makan dengan lahap, dihabisin lagi.

Setelah esku jadi, sambil nungguin Risha milih-milih snack, aku masih ngelihatin anak tadi. Anak itu noleh ke aku, dan kayaknya dia sadar udah aku perhatiin. Dia ketawa, dan akunya cuma senyum aja.

Coba lihat anak itu, meskipun dia cuma makan seadanya, dia tetep lahap dan ngabisin makanannya. Dia nggak ngeluh dan merengek ke ibunya untuk dibelikan makanan enak.

Sekarang, coba lihat aku. Disuruh ngabisin sarapan yang enak dan udah jadi aja males, padahal mamaku udah sudah-susah bangun lebih pagi dari aku dan masakin nasi goreng itu. Aku sadar, aku masih childish dan manja. Kadang, aku masih suka ngambek kalau makanan yang dibuatin/dibeliin sama orang tua nggak sesuai dengan keinginanku. Padahal makanan itu udah terjamin, dan aku tinggal makan aja, tapi pakai ngambek segala. Aku masih sering ngambek kalau keinginanku nggak diturutin.

Anak itu hebat. Dia bisa menerima dan mensyukuri apa yang dia punya, meskipun keadaannya nggak lebih baik dari aku. Dan dia juga bisa menghargai semua miliknya.Dan sekarang aku tahu, Allah memang baik, Dia memberikan pelajaran di setiap hal kecil yang aku lihat. Dia pengen aku berubah, nggak childish lagi ke orang tua, aku udah gede. Dan nggak seharusnya aku bersikap kayak gitu.

Kita harus bersyukur atas apapun yang Allah kasih ke kita. Meskipun itu cuma hal kecil yang kita nggak suka dan kita nggak peduli, hal itu sangat bernilai buat orang-orang dibawah kita. Kita harus bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan Allah, karena nggak semua orang mendapatkannya.

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Well, I don't hate comments.