Kamis, 19 Mei 2011

Beach

"Aku menantimu serupa karang. Terkikis siang, menanti pasang. Menanti yang disayang, walau hanya bayang-bayang. Memilukan."
Sekitar dua minggu lalu sekolahku ngadain rekreasi perpisahan ke Bali. Hal ini jadi angin segar buatku. Yak, Kuta, Sanur, mereka cantik. Pantai di Bali bisa menjadi penawar kangenku pada pantai. Dari kecil, pantai selalu jadi tempat yang menarik buatku. Bukan hanya sebagai tempat wisata, tapi bisa diibaratkan sebagai kampung halaman, halah.

Aku selalu pengin punya rumah di deket pantai. Disapu gulungan ombak, liat sunrise-sunset, dan ditiup angin pantai setiap hari udah cukup bikin iri sama siapapun yang punya rumah di deket pantai. Terpencil memang, modernisasi lebih lamban disana. Tapi kita dapet gantinya. Mall tergantikan dengan hutan bakau. Kolam renang tergantikan dengan laut yang luasnya seluas-luasnya. Hotel bintang lima tergantikan dengan hotel bintang sejuta. Polusi kota tergantikan dengan udara sejuk dan semilir angin pantai.
"Orang-orang berterima kasih pada sinar matamu, sepasang nyiur kecilku, yang senantiasa meneduhkan kalbu di bawah kelopakmu."
Salah satu pantai yang recomended banget yaitu Pantai Ngeliyep, terletak di desa Kedungsalam, kecamatan Donomulyo, sekitar 62 km jalan ke selatan dari Malang

Untuk sampai disana kita harus melewati hutan. Cerukan-cerukan jejak truk berat membuat medannya cocok untuk off road, ditambah lagi dedaunan hijau pohon yang menjuntai tersibak bak tirai. Tempatnya yang nggak terlalu ramai pada musim liburan sekalipun bisa membuat pantai seakan milik kita pribadi.

Disana ada sekitar empat sudut untuk melihat Pantai Ngeliyep. Dan semuanya cantik! Memang, seperti pantai pada umumnya, pasir, laut, dan karang, tapi dia punya pesona sendiri. Selain itu upacara tradisional Labuhan Mulud (upacara kurban) diadakan setiap setahun sekali disini.

Di beberapa bagian, Pantai Ngliyep di selimuti karang warna-warni dan sebagian lagi diselimuti pasir pantai yang halus. Saat sunrise, langit bersemu kemerahan. Terkadang kita bisa melihat langit terbagi dua, singsingan fajar di ufuk timur beradu dengan sisa sinar bulan yang memancar di ufuk barat. Cantik.

Di depan salah satu pantai, ada sebuah rumah panggung imut. Sedangkan di belakangnya ada toko-toko yang menjual makanan, snack, souvenir, dan perlengkapan mandi. Ada juga penginapan yang langsung berada di depan pantai. Secara otomatis, dering alarm debur ombak akan membangunkan kita setiap pagi.
"Seperti hujan, cintamu adalah cara laut mengecup puncak-puncak gunung tertinggi - Huruf Kecil"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.