“Rara, empat hari lagi kan ayah ulang tahun. Rara mau kasih apa?”
“Mau bikin syal rajut warna biru sama Bunda!”
“Loh, kemarin kan udah?”
“Hmmm, iya. Enaknya apa ya, Bunda?”
“Gimana kalo Bunda ajarin Rara masak. Bikin telur dadar.”
“Iya, mau. Mau Bunda!”
Esoknya, Rara belajar membuat telur dadar dengan bundanya. Ia mengorbankan waktu mainnya untuk bercengkrama dengan telur dadar. Sejak itu ia menjadi sering berkutat di dapur untuk membantu bundanya memasak sekaligus mempelajari bagaimana mengupas bawang dan mengocok telur.
“Bunda, Rara yang mecah telurnya sama motong bawangnya ya?”
“Rara bisa? Nanti Rara yang ngocok aja.”
“Nggak mau! Rara kan pengen pinter masak kayak Bunda.”
“Iya deh, Rara kan udah besar, udah pinter.”
Hari yang ditunggu tiba, sang Ayah berulang tahun. Rencana Rara untuk memasak bersama Bunda pun telah tersusun. Namun bagi Rara, kehangatan yang sama tak lagi ada semenjak terdengar adu teriakan ayah-bundanya pada malam sebelumnya. Keduanya saling tutup mulut, berbincang pun hanya tentang hal penting dan basa-basi. Selebihnya, sama sekali. Rara tahu, pasti ada yang terjadi.
“Bunda, ayo kita masak telur dadar! Kan Ayah ulang tahun.”
“Rara masak sama Ayah ya? Bunda lagi capek.”
“Tapi kata Bunda Rara undah pinter. Bunda udah janji sama Rara.”
“Maaf ya sayang.”
“Ayah, Rara udah bisa bikin telur dadar loh!”
“Wah, anak Ayah hebat!”
“ Ayah mau?”
”Wah, Ayah udah kenyang, sayang. Lain kali ya.”
Rara sedikit kecewa, namun kecupan Ayah pada keningnya membuat ia kembali ceria. Malamnya ia tidur berdua bersama Bundanya. Sang Ayah lebih memilih tidur di kamar depan.
Sepertiga malam ia terbangun. Hendak ke kamar mandi namun sang Bunda tak lagi di sampingnya. Terdengar adu teriakan itu lagi. Rara takut. Ia berjalan menjingkat menuju sumber suara, teras rumah. Ia mengintip dari sela pintu yang terbuka. Terlihat ayahnya menenteng sebuah koper, seakan hendak pergi entah kemana.
“Aku mau pergi. Nggak tahu sampai kapan dan kamu nggak perlu tahu kemana.”
“Beraninya kamu lari dari keadaan?”
“Aku nggak lari, aku cuma butuh sendiri. Tolong mengerti.”
“Sendiri? Atau ke wanita itu? Mana tanggung jawabmu?”
“Beraninya kamu menuduhku seperti itu, ini bukan sepenuhnya salahku!”
“...”
Rara menghapus air matanya.
‘Waktu aku jatuh dan lututku luka. Aku inget, bunda pernah bilang semuanya pasti baik-baik aja.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.