Kamu yang hidup di atas pelangi,
dan aku di bawah hujan petir.
Di antara kita adalah
spasi yang begitu nyata namun samar tak terbaca
dan hidup dalam ruang waktu berbeda.
Kamu kegenapan mutlak yang berdiri rangah
dan aku disini bagaikan upik abu buruk rupa.
Seperti merah kuning hijau dan sekawannya,
takkan serasi dengan hitam abu gelap gulita.
Di antara kita adalah
sebuah kenyataan tentang hujan dan pelangi.
Aku yang tinggal bersama kelabu
berlindung di mendung mimpi sederhana.
Dan kau yang hidup di atas pelangi
hadir seiring senyum dan warna-warni
juga aku yang terkagum dalam bisu.
Di antara kita adalah
kenyataan dari dongeng malam hari
bahwa pangeran berkuda takkan jatuh hati
kepada putri sederhana bermahkota duri.
Tapi bukannya cinta adalah hujan yang berlari
pergi tanpa arah dan jatuh semaunya sendiri?
Di atas adalah sebuah opini
yang ditertawakan awan dengan geli.
Lalu hujan datang bersama kilat,
pintu dan jendela rumah ditutup cepat.
Sementara kamu, pelangi setengah bulat
datang dan orang-orang keluar ingin melihat.
Di antara kita adalah perbedaan yang besar
dimana cinta tak dapat dijadikan alasan.
Kamu adalah spektrum yang liar,
dan aku tempat dimana petir bermain peran.
Tapi, coba periksa bias warna-warnamu
mungkinkah ada tetes hujanku tersusun disitu.
Pun kaca jendelamu,
adakah namaku tak sengaja tertulis disitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.