Aku ingin kembali,
pada sebuah detik
dimana kau tertawa dengan riuh
barang dua atau tiga detik penuh,
perlahan memudar dan berhasil kurengkuh.
Pada sebuah detik
dimana kau sematkan ceritamu
di antara bingkai lembut lensa kacamata,
di dalam relung hitamnya retina.
Pada sebuah detik
dimana kau lambaikan tanganmu
bersama senyum yang tersungging utuh.
Begitu ramah dan teduh.
Pada sebuah detik
yang mereka sebut sebuah akhir,
namun bagiku adalah awal dari takdir
dimana cerita baru dimulai dalam rima dan syair.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.