Selasa, 24 September 2013

Untukmu, Pada Suatu Pagi

Hari ini kudapati semesta berada di langit pagiku. Awan-awan beriringan dengan semburat jingga matahari, juga biru yang memaknai belum tergenapinya pagi. Kabut mengendap di jendela-jendela yang setengah terbuka, menempati ruang kosong antara ranting-ranting pohon mangga, hingga akhirnya mengembun dan membuat daun jatuh cinta.

Aku berharap menjadi apa saja yang bisa menyambut datangnya pagimu. Mungkin sebagai yang kau seduh tiap pukul setengah tujuh pagi. Satu kopi dan dua gula dalam cangkir kesayanganmu; diam-diam mengepulkan rasa rindu untuk menghangatkan dadamu. Manis seperti cerita cinta remaja berusia enam belas, lalu pahit seperti satu buku kumpulan puisi sarkas.

Namun, aku berharap menjadi doa yang kaulayangkan di sujud terakhirmu pada pukul tiga pagi. Dihantarkan malaikat-malaikat dan menemukan jalannya untuk merekah. Menembus apapun yang menghalangimu dari jangkauanku. Menujumu; melewati jalan raya, lampu merah, sekolah lama kita, juga gang-gang kecil rumahmu.

Engkau hanya perlu ada. Mengerti atau tak mengerti, jauh ataupun dekat, terang ataupun gelap. Sejenak, bukalah matamu. Telah gugur kepadamu daun yang selama ini kaubuat jatuh cinta. Rasakan aku sebagai selamat pagimu di sebuah hari pada dua puluh empat September dua ribu tiga belas.

Hadiah kecil untukmu saat berusia tujuh belas tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.