Rabu, 20 November 2013

Setelan Jas Perak dan Telur Dadar

Cerita pendek berikut pernah saya muat di blog ini dengan judul Telur Dadar dan Koper Besar sebagai versi berbeda. Untuk kepentingan tugas sekolah, saya menambahkan plotnya di beberapa bagian. Selamat membaca.
Pukul tujuh lewat enam belas malam.

Seorang wanita berdiri di sudut lobby sebuah kantor yang bernuansa cokelat. Sesekali ia menghela nafas panjang, entah karena lelahnya berdiri atau lamanya seseorang yang ia nanti.

"Disa! Maaf menunggu lama, mobilku sedikit bermasalah di parkiran tadi."
"Kukira kau lupa kalau kau punya janji dengan seseorang."
"Tentu tidak, aku bukan pelupa sepertimu. Selain itu aku juga tak manja sepertimu."
"Dasar kau!"
"Ternyata kau memang mudah dibuat jengkel, Disa. Kalau begitu, mari kita lanjutkan pertengkaran ini di kafe favorit kita."
"Jika aku tak mencintaimu, Ardhy, sudah kutancapkan hak sepatu ini di kepalamu sejak tadi."
"Ampun!"

Sebuah mobil sedan hitam melesat menuju tengah kota, membelah jalan raya dengan hingar tawa yang sesekali terdengar di dalamnya.

Pukul sembilan lewat delapan belas pagi. 

“Rara, empat hari lagi kan Ayah ulang tahun. Rara mau kasih apa?”
Mau bikin syal rajut warna biru sama Bunda!”
“Loh, kemarin kan udah?”
“Hmmm, iya. Enaknya apa ya, Bunda?”
“Gimana kalo Bunda ajarin Rara masak. Bikin telur dadar.”
“Iya, mau. Mau Bunda!”

Esoknya, seorang gadis kecil belajar membuat telur dadar dengan bundanya. Ia mengorbankan waktu mainnya untuk bercengkrama dengan dapur dan segala isinya.

“Bunda, Rara yang mecah telurnya sama motong bawangnya ya?”
“Rara bisa? Nanti Rara yang ngocok aja.”
“Nggak mau! Rara kan pengen pinter masak kayak Bunda.”
“Iya deh, Rara kan udah besar, udah pinter.”

Pukul empat lewat tiga puluh sore.

"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada setelan jas hitam dan kemeja putih, Mbak?"
"Wah, maaf, untuk setelan tersebut kami sedang kosong. Tapi kami punya setelan jas perak dan kemeja hitam, yang ini termasuk favorit pelanggan kami."
"Oke. Saya ambil satu ditambah dasi perak dan dibungkus untuk kado."
"Baik. Kado ini ditujukan untuk siapa?"
"Tulis saja Ardhy Santoso."
"Baik. Silahkan ditunggu."

Pukul tujuh lewat sebelas malam.

Hari yang ditunggu tiba, sang Ayah berulang tahun. Rencana Rara untuk memasak bersama Bunda pun telah tersusun. Namun bagi Rara, kehangatan yang sama tak lagi ada semenjak terdengar adu teriakan ayah dan bundanya satu malam sebelumnya. Keduanya saling tutup mulut, berbincang pun hanya tentang hal penting dan basa-basi. Selebihnya, tidak sama sekali. Rara tahu, pasti ada yang terjadi.

“Bunda, ayo kita masak telur dadar! Kan Ayah ulang tahun.
“Rara masak sama Ayah ya? Bunda lagi capek.”
“Tapi Bunda udah janji sama Rara.”
“Maaf ya sayang.”

“Ayah, Rara udah bisa bikin telur dadar loh!”
“Wah, anak Ayah hebat!”
“Ayah mau?”
”Wah, Ayah udah kenyang, sayang. Lain kali ya.”

Rara sedikit kecewa, namun kecupan Ayah pada keningnya membuat ia kembali ceria. Malamnya ia tidur berdua bersama Bundanya. Sang Ayah lebih memilih tidur di kamar depan.

Sepertiga malam ia terbangun. Hendak ke kamar mandi namun sang Bunda tak lagi di sampingnya. Terdengar adu teriakan itu lagi. Rara takut. Ia berjalan berjingkat menuju sumber suara, teras rumah. Ia mengintip dari sela pintu yang terbuka. Terlihat ayahnya menenteng sebuah koper, seakan hendak pergi entah kemana.

“Aku mau pergi. Nggak tahu sampai kapan dan kamu nggak perlu tahu kemana.”
“Beraninya kamu lari dari keadaan?”
“Aku nggak lari, aku cuma butuh sendiri. Tolong mengerti.”
“Sendiri? Atau ke wanita itu? Mana tanggung jawabmu?”
“Beraninya kamu menuduhku seperti itu. Ini bukan sepenuhnya salahku!”
“Apa artinya aku untukmu? Apa arti Rara buatmu?”
  
Gadis kecil itu menghapus air matanya. Surat perceraian tergeletak di meja.

Pukul tiga lewat sepuluh pagi.

"Ada apa kau kesini pagi buta begini, Ardhy?"
"Aku cuma ingin kaulah yang kulihat pertama kali di hari ini."
"Bagaimana dengan istrimu Widya dan anakmu Rara? Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tahu kau ada disini?"
"Istriku sudah tahu. Dia sudah menandantangani surat perceraian yang kuajukan. Kami hanya perlu menghadiri sidang terakhir minggu depan."
"Baik. Masuklah."

Tiga puluh empat menit kemudian ayam jantan berkokok. Matahari bangkit dari suakanya, jalanan kembali ramai, semesta mengakhiri cerita tentang setelan jas perak dan sebuah telur dadar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.