Jumat, 27 Desember 2013

The Art Of Listening

Banyak orang belajar berbicara di depan orang banyak, misalnya berorasi, berpidato atau sekadar memberikan sambutan. Mereka merasa kurang percaya diri jika mereka tidak pandai berbicara di depan khalayak ramai. Namun, berapa banyak orang yang tergerak untuk belajar mendengarkan satu orang dengan baik?

Kata mendengar; hear- memiliki dimensi ketidaksengajaan, sedangkan mendengarkan; listen- mengandung makna sungguh-sungguh yang tidak hanya bertujuan untuk mendapat informasi, tetapi juga memahaminya. Dalam mendengarkan, tidak hanya telinga yang terlibat, tetapi juga hati dan emosi.

Pernahkah kita merasa jengkel atau marah karena ketika kita sedang bercerita, teman kita bertingkah seolah tidak mendengarkan? Ataukah kita merasa cukup dengan didengar namun teman kita tidak memberikan gesture yang baik, bahkan terkesan cuek?

Saya sendiri pernah dibuat sebal oleh seorang teman dimana ketika saya sedang bercerita, dia tidak memberikan gesture seolah dia sedang mendengarkan. Mungkin melihat ke arah lain atau memainkan telepon genggam. Memang, ada beberapa orang yang tidak dapat memandang mata orang lain sekalipun itu bukan lawan jenis, tetapi tentu kita dapat membedakan antara gesture dengan orang yang tidak mendengarkan dan respon orang yang mendengarkan namun ia sedang berpikir.

Dalam hal ini, yang saya garis bawahi adalah gesture yang kita berikan ketika kita sedang mendengarkan. Bagi beberapa orang, termasuk saya, sering kali kita sudah merasa cukup ketika kita didengarkan dengan cara yang baik. Beberapa masalah memang memerlukan saran, namun dengan didengarkan -bukan hanya didengar- dan mendapat respon secara fisik yang baik, beban di pundak kita seolah terangkat setengah, bukan karena kita baru saja membagi masalah dengan orang lain, tetapi karena kita merasa dimengerti dalam keadaan tersebut.

Saya bukan termasuk orang yang piawai memberi saran dan wejangan, namun sebisa mungkin saya pay attention terhadap apa yang orang ceritakan terhadap saya, sesepele apapun ceritanya. Entah kaos kaki yang basah terkena hujan hingga masalah keluarga. Menjadi pendengar yang baik bukanlah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin organisasi saja, tetapi juga semua orang. Kehidupan sosial tidak hanya milik pemimpin organisasi saja bukan? Selain sebagai sarana untuk belajar, menjadi pendengar yang baik akan membuat kita menjadi pembicara yang baik. Bukan hanya kepiawaian kita dalam berbicara, tetapi juga esensi dari apa yang kita bicarakan.

Menurut saya, hal yang paling krusial untuk menjadi seorang pendengar yang baik adalah menciptakan rasa nyaman dan percaya. Katakanlah kita merupakan seorang pemecah masalah yang handal dan bisa menjelaskan maksud kita dengan detail. Namun akan sia-sia jika kita tidak bisa memberikan rasa nyaman kepada orang yang bercerita kepada kita. Sehebat apapun saran yang kita berikan, karena tidak tumbuhnya rasa percaya terhadap kita, saran tersebut hanya akan menjadi angin lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.