Senin, 24 Maret 2014

The Unchanged Stereotypes

"It's sad to think that people's stereotypes haven't changed, even for several cases don't really know."

Mungkin teman-teman tidak tahu bagaimana serunya ketika guru mengambil nilai untuk debat Bahasa Inggris, diskusi Sosiologi atau penyampaian pendapat PKn di kelas kami. Kami bisa menemukan dan mengetahui banyak hal hanya dengan duduk dan berada di dalam kelas, sama halnya seperti teman-teman. Mungkin saja sama menyenangkannya dengan praktikum teman-teman di laboratorium Biologi ketika melakukan percobaan golongan darah atau pengamatan sel.

Kalau saya boleh mengeluarkan isi hati, teman-teman baru melihat kami hanya dari cangkang saja. Teman-teman hanya tahu tentang kami melalui apa yang kami lakukan diluar pelajaran formal, melalui apa yang kami lakukan ketika jam kosong dan ketika kami terlihat begitu santai saat ujian. Tapi teman-teman tidak tahu apa yang kami rasakan.

In this month of exams, I have heard enough "Enak ya kalian santai banget nggak ada tugas.", "Kamu ujian prakteknya itu aja? Nggak perlu belajar dong ya." dan "Kalian kayak nggak ujian deh.". Sometimes I got angry because of these sentences. Saya pribadi tidak merasa santai, bahkan cenderung sedikit merasa underpressure karena kesibukan yang ada, sama seperti teman-teman. Tapi semakin kesini saya mengerti bahwa kemarahan itu tidak perlu. Jika teman-teman mendapati beberapa teman dari jurusan kami yang santai atau tidak peduli, jangan jadikan hal itu sebagai alasan bagi teman-teman untuk bisa melabeli semua siswa dari jurusan kami seperti itu.

Ada satu materi dalam pelajaran Sosiologi yang mengerucut pada satu poin, yaitu kita tidak dapat mengukur kemajuan budaya lain dengan standar kemajuan budaya sendiri. Hal ini merupakan sikap etnosentrisme yang menganggap budaya sendiri paling baik dan merupakan cikal bakal perpecahan. Dapat kita ambil contoh Suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang terdapat di Pulau Sumatera. Jika dibandingkan dengan budaya atau gaya hidup masyarakat mayoritas, mereka tentu tertinggal jauh dan tidak ada yang mau berada dalam posisi mereka. Namun, apabila dillihat dari sisi positif, mereka memiliki banyak kelebihan dibanding kita. Misalnya, mereka terhindar dari gaya hidup konsumtif, hidup dengan melestarikan alam dan memiliki adat istiadat kuat yang membuat banyak orang penasaran.

Saya percaya bahwa semua ilmu memiliki kedudukan yang sama pentingnya. Mereka saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Mereka memiliki peranan yang berbeda dalam kehidupan. Jadi, jika kita beranggapan bahwa ilmu yang kita pelajari adalah yang paling baik, maka kita salah. Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah, "Bukan ilmu sejati jika membuatmu merasa paling tinggi. Bukan pemahaman hakiki jika membuatmu berhenti belajar lagi.". Saya juga percaya bahwa ilmu sosial dan ilmu eksak saling bergantung dan saling mendukung.

Menurut Umar bin Khattab, dalam ilmu terdapat tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, maka ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu. Jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa tidak punya apa-apa. Semoga apapun ilmu yang kita pelajari, dapat membuat kita sadar betapa kerdil diri kita sebenarnya.

Why is it so hard to change all those stereotypes?

Ini hanya pemahaman saya saja sebagai pelajar ilmu sosial. Pendapat ini saya buat berdasarkan apa yang saya amati di ingkungan saya. Tidak dapat dipungkiri jika teman-teman yang berada dalam jurusan ilmu sosial pun belum tentu sependapat dengan saya. Teman-teman tentu boleh memiliki pendapat yang berbeda dengan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.