"It's sad to think that people's stereotypes haven't changed, even for several cases don't really know."
Mungkin
teman-teman tidak tahu bagaimana serunya ketika guru mengambil nilai
untuk debat Bahasa Inggris, diskusi Sosiologi atau penyampaian pendapat
PKn di kelas kami. Kami bisa menemukan dan mengetahui banyak hal hanya
dengan duduk dan berada di dalam kelas, sama halnya seperti teman-teman.
Mungkin saja sama menyenangkannya dengan
praktikum teman-teman di laboratorium Biologi ketika melakukan percobaan
golongan darah atau pengamatan sel.
Kalau
saya boleh mengeluarkan isi hati, teman-teman baru melihat kami hanya
dari cangkang saja. Teman-teman hanya tahu tentang kami melalui apa yang
kami lakukan diluar pelajaran formal, melalui apa yang kami lakukan
ketika jam kosong dan ketika kami terlihat begitu santai saat ujian.
Tapi teman-teman tidak tahu apa yang kami rasakan.
In this month of exams, I have heard enough
"Enak ya kalian santai banget nggak ada tugas.", "Kamu ujian prakteknya
itu aja? Nggak perlu belajar dong ya." dan "Kalian kayak nggak ujian
deh.". Sometimes I got angry because of these sentences. Saya pribadi tidak merasa santai, bahkan cenderung sedikit merasa underpressure
karena kesibukan yang ada, sama seperti teman-teman. Tapi semakin
kesini saya mengerti bahwa kemarahan itu tidak perlu. Jika teman-teman
mendapati beberapa teman dari jurusan kami yang santai atau tidak
peduli, jangan jadikan hal itu sebagai alasan bagi teman-teman untuk
bisa melabeli semua siswa dari jurusan kami seperti itu.
Ada
satu materi dalam pelajaran Sosiologi yang mengerucut pada satu poin,
yaitu kita tidak dapat mengukur kemajuan budaya lain dengan standar
kemajuan budaya sendiri. Hal ini merupakan sikap etnosentrisme yang
menganggap budaya sendiri paling baik dan merupakan cikal bakal
perpecahan. Dapat kita ambil contoh Suku Anak Dalam atau Orang Rimba
yang terdapat di Pulau Sumatera. Jika dibandingkan dengan budaya atau
gaya hidup masyarakat mayoritas, mereka tentu tertinggal jauh dan tidak
ada yang mau berada dalam posisi mereka. Namun, apabila dillihat dari
sisi positif, mereka memiliki banyak kelebihan dibanding kita. Misalnya,
mereka terhindar dari gaya hidup konsumtif, hidup dengan melestarikan
alam dan memiliki adat istiadat kuat yang membuat banyak orang
penasaran.
Saya
percaya bahwa semua ilmu memiliki kedudukan yang sama pentingnya.
Mereka saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Mereka memiliki
peranan yang berbeda dalam kehidupan. Jadi, jika kita beranggapan bahwa
ilmu yang kita pelajari adalah yang paling baik, maka kita salah.
Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah, "Bukan ilmu sejati jika membuatmu
merasa paling tinggi. Bukan pemahaman hakiki jika membuatmu berhenti
belajar lagi.". Saya juga percaya bahwa ilmu sosial dan ilmu eksak
saling bergantung dan saling mendukung.
Menurut
Umar bin Khattab, dalam ilmu terdapat tiga tahapan. Jika seseorang
memasuki tahapan pertama, maka ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan
kedua, ia akan tawadhu. Jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa
tidak punya apa-apa. Semoga apapun ilmu yang kita pelajari, dapat
membuat kita sadar betapa kerdil diri kita sebenarnya.
Why is it so hard to change all those stereotypes?
Why is it so hard to change all those stereotypes?
Ini hanya pemahaman saya saja sebagai pelajar ilmu sosial. Pendapat ini saya buat berdasarkan apa yang saya amati di ingkungan saya. Tidak
dapat dipungkiri jika teman-teman yang berada dalam jurusan ilmu sosial pun belum tentu sependapat dengan saya. Teman-teman tentu boleh memiliki pendapat
yang berbeda dengan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.