Rabu, 24 September 2014

Di Antara Rumah-Rumah dan Kedai Roti

Mereka yang berkata akan menunggu, mereka yang berkata akan kembali dan mereka yang berjanji. Begitu banyak yang akan menggodamu untuk singgah dan berhenti. Maka pandai-pandailah untuk menjaga hati. Kedai roti yang mungkin membuatmu ingin singgah mencicipi, rumah nyaman yang mungkin ingin kau jadikan perhentian. Mereka yang selalu ada, baru tiba, dan datang kembali.

Pada ratusan kilometer atau langkah-langkah terhitung setapak trotoar, sesungguhnya aku tak punya apapun untuk dikatakan, hanya harapan yang mungkin bisa menjagamu lebih baik dari sekadar kata dan ucapan.

Pada salam yang tak pernah kusampaikan, kudoakan kau untuk segala kebaikan.

Pada usia yang baru saja kau rengkuh, kusematkan harapan untuk semua yang sedang kau tempuh, juga doa untuk semua amanah yang tengah kau bawa. Sebab, kita tak perlu berlaku seperti siapa-siapa untuk membuktikan bahwa kita bisa, katamu. Semoga harimu tak jauh-jauh dari rasa bahagia.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah berjuang. Berlelah-lelahlah, dan pulang dengan perlahan. Untukku atau bukan aku. Kamu atau bukan untukmu. Selamat bertemu.

Hadiah kecil untukmu saat berusia delapan belas tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.