Sabtu, 04 Oktober 2014

Memudarnya Nasionalisme karena Globalisasi

Globalisasi, secara umum dapat diartikan sebagai hilangnya batas-batas antar negara. Teknologi dan informasi berperan penting dalam terjadinya proses ini. Globalisasi adalah suatu proses yang mendunia dan sulit untuk dihindari serta terjadi hampir di seluruh bidang kehidupan, seperti ekonomi, politik dan sosial budaya. Globalisasi memberikan banyak manfaat bagi negara-negara yang merasakan, namun juga tidak sedikit kerugian yang diberikannya. Manfaat globalisasi yang paling menonjol yaitu kemudahan untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan dari daerah yang jauh dalam waktu yang singkat. Tak hanya itu, berkat teknologi, mobilitas fisik pun menjadi jauh lebih mudah. Sedangkan nasionalisme, secara umum dapat diartikan sebagai perasaan senasib, seketuruan dan sejiwa antar individu-individu yang hidup bersama dalam satu wilayah.

Apakah globalisasi menyebabkan pudarnya nasionalisme? Menurut saya, ya. Khusunya dalam bidang sosial budaya. Globalisasi dan pudarnya nasionalisme berhubungan erat dengan stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial terjadi karena adanya suatu hal yang dianggap lebih baik dibanding hal-hal yang lain sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan strata dalam masyarakat. Globalisasi menyebabkan perbedaan strata yang ada dalam masyarakat menjadi lebih curam dari sebelumnya. Kemudahan akses informasi menyebabkan masyarakat lebih banyak membandingkan hal-hal yang ia miliki dengan hal yang baru mereka ketahui. Contohnya barang-barang impor yang oleh mayoritas individu dianggap lebih baik daripada barang-barang lokal. Padahal, tidak sedikit produsen produk impor yang membeli material untuk produknya dari Indonesia. Selain itu, dalam kelompok sosial, mayoritas individu tidak merasa perlu membantu tetangganya yang kesusahan karena mereka berpikir orang lain yang lebih dekat dengan tetangga tersebut akan datang membantunya. Hal ini adalah contoh kecil sikap individualisme yang juga satu bukti memudarnya nasionalisme.

Masyarakat mungkin akan tetap ingat tanggal kemerdekaan dan hafal dasar negara mereka. Namun, kita patut mempertanyakan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi ketika gotong royong dan solidaritas mulai jarang terlihat di masyarakat. Juga impor habis-habisan termasuk pada komoditi beras dan buah-buahan. Untuk mendapatkan bukti kecil pudarnya nasionalisme, mari kita bertanya pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Seberapa jauh kita ingin mempelajari sejarah Indonesia dibanding kisah Dewa-Dewa Yunani? Mana yang lebih membanggakan ketika dipakai, sepatu lokal atau sepatu bermerek internasional yang padahal dibuat di Indonesia? Mana yang lebih ingin kita apresiasi, film dan musik dalam negeri atau Amerika hingga Korea? Kita sendiri yang tahu jawabannya.

Ditulis dalam rangka tugas kampus untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.