Kau yang memutar-mutar pensil dengan jari ketika mengingat-ingat sesuatu. Kau yang menopang dagu ketika memperhatikan sosok di depanmu. Kau yang diam tapi meragu. Aku menghafal nada suaramu tanpa sengaja, kata dan segala usahamu untuk menjadi lebih baik sebagai manusia. Tak lupa nama lain yang kau simpan, jauh sebelum kita berkenalan.
Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menundukkan mata ketika aku ingin menatap wajahmu, membiarkanmu berjalan di depan ketika aku ingin melangkah di sampingmu dan menahan kata ketika aku ingin menyebut namamu. Mari kita kejar apa yang menjadi ambisi, jangan sampai kehabisan amunisi. Kita sama-sama tahu bahwa ada yang berbeda. Namun, kita juga sama-sama tak tahu, siapa yang akan kaujemput atau kemana aku akan berpulang.
Biarkan semua sederhana, begini saja.
Ketika tanpa sengaja kedua mata bertemu, kita menyadari ada sesuatu yang tak patut dibesar-besarkan. Biarkan diam menjaganya hingga kita tahu apa yang benar untuk dilakukan. Sebab, aku tak tahu apakah kau nyata. Aku tak cukup pandai untuk tahu apakah kau memang rasakan yang sama.
Jangan bertumpu padaku, aku tak akan berharap padamu.
Terima kasih sudah hadir dan memberikan warna baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.