Satu bulan sekali, terkadang lebih satu minggu, lebih dua minggu. Mungkin tak ada apa-apanya dibanding mereka yang berbulan-bulan lebih lama, berpuluh-puluh kilometer lebih jauh dan yang tabungan rindunya sering memenuhi sudut-sudut mata.
Jalan-jalan yang kulewati setelah dua jam berkereta : traffic light tempatku biasa berhenti dan menghitung mundur dalam hati, lelampu kota yang tak cukup terang untukku tanpa kacamata, juga persimpangan tempat kita pernah berpapasan. Semuanya menghadirkan perasaan baru.
Hening rumah yang kurasakan begitu dan semakin berarti. Perhatian yang diberikan malu-malu. Kata-kata sederhana yang dulu tak ada artinya, kini menjadi pengingat bahwa ada yang selalu menunggu dengan setia.
Pulang, menambah amunisi dari mereka yang selalu mendoakan kita sepenuh hati. Lalu kembali, membawa janji pada diri sendiri untuk tidak mengecewakan mereka yang menganggap kita begitu berarti.
Mungkin itulah mengapa kita harus merantau, memperjelas definisi rumah. Agar tahu siapa yang kau rindu. Agar tahu siapa yang merindukanmu.
Ayah dan ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.