Sabtu, 30 Mei 2015

Tidak Masalah

Selamat malam!

Pagi tadi, saya bangun dengan rasa lelah yang luar biasa setelah kemarin seharian berada di kampus untuk kuliah dan rapat. Hari ini pun masih harus berangkat pagi-pagi untuk sebuah kegiatan. Di kepala, masih banyak tugas-tugas yang belum terselesaikan, tugas-tugas kuliah, surat-surat yang harus dibuat, proposal, mading dan yang lainnya. Namun, hari ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Sejak kapan ya? Mungkin sejak SMA. Saat itu, saya memiliki seorang kakak kelas yang aktif mengajar dalam sebuah program pengabdian bidang pendidikan di universitasnya. Hal itulah yang mendasari niat saya untuk bergabung sebagai volunteer dalam Brawijaya Mengajar. Kami dibagi menjadi dua bidang pengajar, yaitu akademik dan ekstrakurikuler. Saya sendiri tergabung dalam pengajar akademik.

Salah satu sekolah tempat kami mengajar adalah di SDN Srimulyo 2, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Untuk hari ini, saya mengajar di kelas V bersama tiga orang teman lainnya. Pembelajaran hari ini adalah dengan permainan cerdas cermat. Soal-soalnya berasal dari berbagai mata pelajaran dan mengenai hidup bermasyarakat. Awalnya saya mengira mereka akan sedikit kurang bersemangat, tetapi justru sebaliknya. Bel kelompok yang disuarakan dengan suara kucing, monyet, tokek dan serigala terdengar bersahut-sahutan. Rasa lelah hilang sama sekali, malah berganti lelah karena terlalu banyak tertawa.

Setelah pengajar akademik selesai, siswa-siswi kelas I, II dan III diperbolehkan pulang sedangkan kelas IV dan V masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, yaitu Pramuka. Saya pun melihat kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler di lapangan. Disana saya bertemu dengan Anelia, adik dari kelas III yang sedang menunggu kakaknya, seorang siswi kelas V. Rambutnya lurus, pipinya gembul, pemalu tapi diam-diam menghanyutkan. Ada juga Aulia, rambutnya keriting, gigi susunya bolong dan berlesung pipi. Saya dan teman-teman bertanya kepada mereka tentang pembelajaran tadi. Mereka pun bercerita bahwa di kelasnya, pembelajaran dilaksanakan dengan permainan tebak gaya dan kata. Untuk mengusir kebosanan, jadilah saat itu kami bermain tebak kata. Anelia tidak banyak bicara. Saat kata yang ditebak salah, ia hanya menggeleng dan berkata tidak dengan pelan. Namun, saat kami mendiskusikan kata untuk ditebak, ia bisa mengusulkan kata yang sulit dengan cepat, sambil malu-malu tentunya. Dalam hal sosialisasi dengan orang baru, Anelia berbeda dengan Aulia yang lebih ceplas-ceplos dan suara tertawanya menyenangkan hati.


Setelah sekitar satu jam, teman-teman pengajar ekstrakurikuler pun selesai mengajar. Saya berpamitan kepada Anelia dan Aulia serta memeluk mereka. Sedikit sedih rasanya ketika Anelia berkata "Lho, Kak. Mau pulang?". Ia juga bertanya kapan kami mengajar lagi.

Hari ini saya mendapat pembuktian dari beberapa aspek dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan. Anak usia sekolah dasar termasuk dalam kisaran kanak-kanak awal dan tengah atau yang menurut Jean Piaget berada pada tahap praoperasional. Salah satu karakteristiknya adalah keaktifan motorik kasar yang luar biasa dan mulai adanya abstraksi pola pikir. Hal ini dibuktikan dari beberapa siswa kelas III yang memanjat pohon dan berlari kesana-kemari tanpa lelah. Adapun perkembangan kognitif yang dilihat dari kemampuan mengerti sebab-akibat meskipun belum dapat menjelaskannya dengan logis, membedakan fantasi dan realitas serta adanya empati. Terkadang ada beberapa orang tua yang melarang anaknya untuk aktif secara fisik, entah karena terganggu atau tidak ingin anaknya terluka. Berdasarkan teori perkembangan Erik Erikson inisiatif vs rasa bersalah dan semangat vs rendah diri, hal ini dapat berpengaruh terhadap pribadi anak. Mereka bisa tidak terasah inisiatif dan semangatnya serta tidak bisa mengeksplorasi lingkungan karena menganggap itu salah. Akhirnya, mereka menjadi pribadi yang minder dan rendah diri. Jadi, bukan hiperaktif jika anak-anak berlari kesana-kemari atau langsung mengejar ketika dipukul temannya. Toh, mereka juga bisa duduk manis ketika menonton televisi atau diam ketika tidur, haha.

Saya masih ingat bagaimana rasanya ketika saya berupaya menahan kata jangan agar tidak keluar dari mulut serta menenangkan dan memberi tahu dengan cara yang baik. Terkadang, menyederhanakan pemikiran memang tidak semudah itu. Rasanya bahagia sekali ya ketika ada seseorang yang menganggap kita ada dan menghargai kehadiran kita. Hal ini membuat saya teringat salah satu perkataan kakak kelas saya, Kak Jamika, di Tumblrnya. Tidak masalah dunia ini tidak menganggap kita, selama kita bisa menjadi dunia untuk orang lain, menyelamatkan dunia orang lain, dunia anak anak dengan impiannya-harapannya.

Semangat mengabdi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.