Tahun 1920, saat psikolog US sudah diakui boleh berperan menjadi saksi ahli di ruang pengadilan, Indonesia masih berusaha memperjuangkan kemerdekaannya. - source
Pada dasarnya kita tak perlu iri. Semua orang memiliki jalannya sendiri, berada pada digit kilometernya sendiri. Boleh jadi titik berangkat mereka memang berbeda, boleh jadi kecepatan perjalanan mereka berbeda karena kendaraan atau rute jalannya juga berbeda. Bahkan, mungkin tujuan perjalanannya juga berbeda. Lalu, untuk apa kita sirik membanding-bandingkan? Lebih baik, kita belajar dari teman seperjalanan. Alasan mereka berkelana, bagaimana mereka berproses dan bertahan di dalamnya. Tentu akan lebih bermanfaat bukan? Meskipun mungkin kalian akan berpisah di persimpangan.
Pada dasarnya kita tak perlu iri. Semua orang memiliki kewajibannya sendiri, memiliki fungsinya sendiri, sesederhana apapun itu. Ibarat sebuah pembangkit listrik yang digerakkan oleh angin, baling-baling pun tak bisa bergerak sendiri. Ada tiang yang membantunya berdiri tinggi dan kokoh, ada penyalur tenaga dari satu komponen ke komponen lainnya, ada pula angin yang tak terlihat namun justru sangat dibutuhkan kehadirannya. Tak perlu kita ingin menjadi sesuatu yang lain karena menganggap suatu kewajiban lebih menyenangkan atau bermakna. Maksimalkan apa yang kita punya dan berkontribusi dengan cara yang diri kita sendiri tidak keberatan melakukannya.
Sesederhana apapun, karena kita tidak tahu berapa banyak orang yang terbantu dengan apa yang telah kita kerjakan.
Ikhlas, karena pada akhirnya amanahlah yang akan memilih kita, bukan sebaliknya.
Note :
Tulisan ini disponsori oleh materi Psikologi Klinis tentang Psikologi Forensik untuk bahan UAS. UAS semakin dekat *masuk gua*.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.