Di setiap pandangan yang kaualihkan, ada hal-hal yang luput dari perhatian. Di setiap detik arloji pada pergelangan tangan sebelah kiri, ada rahasia yang menanti. Di tengah hiruk pikuk yang kaurasakan, ada hal-hal kecil yang tak mampu kaubedakan; serupa aster dan krisan, serupa biru laut dan biru danau yang harus terbayangkan untuk bisa terdefinisikan, seperti persimpangan tengah kota yang mengingatkanmu pada jalanan di tempat asal kita--membawa perasaan yang sama.
Terkadang aku tak tahu, apakah benar mengaguminya atau sekadar bayangannya. Kalaupun benar nyata, aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku tak sanggup memilih, apakah aku ingin ia mengerti atau tak mengerti. Kalaupun akhirnya ia mengerti, waktunya bukan saat ini.
Terkadang debar memang harus pandai-pandai membawa diri. Sabar tak berarti apa-apa bila kau tergesa-gesa. Lama pun tak akan ada artinya bila kau memang ikhlas padanya.
Padanya.
Seseorang yang hanya bisa kaukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang hanya bisa kauharapkan setenang doa. Seseorang yang hanya bisa kauhayati serupa lautan yang bercengkrama dengan puncak bukit tertinggi melalui bulir-bulir hujan, tak kasat dan tak terlihat.
Karena kasih yang baik adalah kasih yang tak membebani.
Biarkan waktu menguji.
Note :
Kalimat bercetak miring adalah kutipan dari Dewi Lestari, dengan sedikit perubahan.
Tacenda (n.) things better left unsaid; matter to be passed over in silence.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.