sambil membaca Inteligensi Embun Pagi.
Serupa peretas yang amnesia, menerima informasi dari infiltran dan Asko. Pening yang menjadi-jadi, sekujur tubuh yang nyeri, rasa melayang di angkasa tanpa tepi. Bisa jadi ini rangkaian insiden acak serupa mata dadu. Bisa jadi ini rancangan terstruktur yang kita atur tanpa kita tahu.
Kadang semua terlalu berat untuk dimengerti, terlalu rumit untuk dipahami. Sarvara yang menjaga dunia atau infiltran yang menghancurkan semesta? Bayangan yang nyata atau kenyataan yang semu, apakah kau bisa memberi tahu? Pertanda masa depan atau keinginan yang tak tersampaikan, apakah kau bisa memberi alasan?
Ada perjalanan ke tepian untuk kemudian terseret ke kedalaman. Lalu kita sadar bahwa yang menarik kita adalah id kita sendiri, memprioritaskan diri. Sementara di sekeliling hanyalah ruang hampa yang kosong.
Ada sandi yang kauciptakan untuk kemudian kaupertanyakan kembali, berusaha meyakinkan diri. Lalu kau sadar, senyum yang mendistraksi adalah sosok yang kauciptakan sendiri. Sementara matahari membuat bayangan semakin nyata, kesadaran kita tetap saja tak kunjung ada.
Ada ketidaksengajaan yang sama, ada langkah-langkah yang serupa. Bagaimana caranya membedakan mana yang pertanda dan kebetulan saja? Bukankah kebetulan bukan hasil dari kausalitas, melainkan sinkronisitas? Artinya, apa kebetulan itu tidak ada?
Warna yang serupa, detik-detik yang bersinggungan, dan kalimat-kalimat tak langsung. Mungkin memang ada, mungkin memang terasa. Mari menjalani sambil berdamai dengan diri sendiri, hati-hati tanpa harus menakuti diri dan bertanya-tanya tanpa harus gundah gulana. Mari bergerak dengan lembut dalam keteraturan. Sebab, waktu yang tepat pasti akan datang, perlahan.
Dunia tersusun atas berbagai pertanyaan dan mungkin menemukanmu adalah salah satu jawaban.
"Saya sendiri percaya bahwa alam ini, sesederhana apapun manifetasinya, ada inteligensi luar biasa yang menggerakkan kehidupan. Termasuk pada hal sesederhana embun pagi." - Dee Lestari.
Warna yang serupa, detik-detik yang bersinggungan, dan kalimat-kalimat tak langsung. Mungkin memang ada, mungkin memang terasa. Mari menjalani sambil berdamai dengan diri sendiri, hati-hati tanpa harus menakuti diri dan bertanya-tanya tanpa harus gundah gulana. Mari bergerak dengan lembut dalam keteraturan. Sebab, waktu yang tepat pasti akan datang, perlahan.
Dunia tersusun atas berbagai pertanyaan dan mungkin menemukanmu adalah salah satu jawaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.