Lampu-lampu jalan dan detak-detak canggung ingin kau ada
yang perlahan redup karena kau bukan lagi orang yang sama.
Kita tak mampu membedakan maksud di balik niat manusia,
pun berani mencoba menebak apa arti dari tiap-tiapnya.
Sebab, kebohongan dan kejujuran terkadang hanya
dibatasi oleh hal-hal sesederhana kata-kata.
Setelah beberapa rindu yang kaubagi-bagikan,
kau akan kembali untuk menabung hal yang sama—
dan tetap saja dapat kutemukanmu di mana-mana;
sebagai dingin yang menyelinap di sela-sela jendela,
halaman-halaman buku yang belum selesai kubaca,
atau cerita lama saat aku sedang tidak ingin tertawa.
Mereka bilang kau sedang berusaha mencari dirimu,
baik dari sudut pandang jendela kereta, hari-hari lalu,
atau pandangan ke depan yang berjalan sesuai rencanamu.
Aku membayangkan kau bangun setiap pagi dan berkaca tanpa
menemukan siapa-siapa, meminjam bayangan siapapun yang ada,
dan tetap terlihat seperti tak pernah cukup dengan segala sesuatunya.
Sebab melepaskan kacamata bukan penyelesaian masalahnya.
Kau berubah samar namun tetap ada tepat di hadapan mata dan
memejamkannya makin membuatku tak mampu melihat apa-apa.
Sering kita lupa bahwa gelap juga merupakan sebuah penyelesaian
dari setiap kemungkinan, juga bagian dari harapan yang ditekan—
menolak untuk dijelaskan dan enggan muncul ke permukaan.
Aku bicara kepadamu dan kau tetap tak mendengar apa-apa.
Kau pergi dan kemudian muncul kembali sebagai orang yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.