Kamis, 19 Mei 2016

Intuisi?

Sewaktu awal masuk kuliah dulu, saya pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Ketika harus pergi kemana-mana, saya mengandalkan angkutan umum karena baik saya maupun teman dekat saya tidak memiliki kendaraan pribadi. Maklum, mahasiswa baru. Berbeda dengan sekarang yang sudah dipercaya untuk membawa kendaraan pribadi, sehingga jarang mengandalkan kedua kaki untuk pergi kemana-mana, mungkin hanya ketika harus pergi ke fakultas lain atau ke perpustakaan pusat yang jika naik kendaraan meskipun itu sepeda motor akan sulit karena harus berjalan memutar, belum lagi mencari tempat parkir yang lahannya terbatas.

Jika dibandingkan antara berjalan kaki dan naik kendaraan umum, menurut saya jalan kaki lebih memberikan banyak manfaat dan pengalaman. Manfaatnya mungkin selain kita jadi lebih sehat, kita jadi tahu tempat-tempat dan jalan-jalan tersembunyi di sekitar kita. Misalnya mushola kecil, jalan-jalan tikus, tempat duduk sampai tempat penjual cilok biasa berhenti (ketahuan deh kalau suka beli cilok). Manfaat favorit saya dari berjalan kaki adalah kita bisa melihat dan belajar banyak hal. Mungkin sepele, tapi bagi saya, jalan kaki atau naik angkutan umum bisa memberikan banyak pengalaman karena ada banyak orang dan kejadian yang kita temui, entah yang memang terlihat dengan jelas atau yang samar-samar sehingga kita perlu menafsirkan sendiri dan belajar dari kejadian itu.

Sewaktu kelas 1 dan 2 SMA, saya juga menggunakan fasilitas kendaraan umum untuk pergi ke sekolah dan tempat bimbingan belajar. Banyak kejadian menarik, mulai dari berangkat dan pulang dengan supir angkutan umum yang sama tanpa sengaja, bertemu teman lama atau berbagai orang dengan berbagai aktivitas dan sering juga menyadarkan saya kalau di sekitar kita memang orang-orang baik masih ada. Saya juga sering memperhatikan hal-hal kecil, misalnya penjual di sudut jalan yang absen pada jam tertentu sampai tempat bapak-bapak supir angkutan biasa menepi sejenak untuk mengambil sebungkus plastik es teh dan dibayar nanti. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang bisa kita maknai, sekecil apapun itu. Tanpa kita sadari, hal-hal itu bisa membantu kita untuk menjalani kehidupan dan mengambil pilihan, besar maupun kecil. Bahkan, intuisi kita bisa jadi lebih tajam dan membantu kita untuk membedakan banyak hal, misalnya mana yang pertanda dan kebetulan atau ujian dan cobaan. Pada akhirnya, kita akan terbantu untuk memilih dan berada di jalan yang tepat. Sederhana, tapi bisa bermanfaat banyak bukan?

Ada apa dengan foto di atas? Tidak ada yang spesial memang, cuma dua gedung yang berhadapan, jalan setapak, dan dua orang yang sedang berpapasan. Tapi kalau kita maknai, hal-hal di atas jadi punya nilai lebih. Foto di atas saya ambil pada sekitar September 2015 saat berjalan pulang setelah kuliah. Lokasinya di antara gedung teknik mesin Universitas Brawijaya. Saat itu, saya hanya membidik dua gedung yang berhadapan dan jalan setapak di tengahnya karena pencahayaan saat itu sedang bagus serta mungkin ada nilai estetikanya. Lalu tanpa sengaja ada mas-mas dan mbak-mbak tidak saling kenal yang lewat, dan saya mengambil gambar tepat ketika mereka hampir berpapasan.

Ini bukan edisi baper ya, haha. Tapi hal inilah yang saya pikirkan ketika melihat hasil foto ini di layar handphone. Satu kalimat sederhana : manusia cuma seorang perencana. Apapun yang kita rencanakan, belum tentu semesta akan mengamini dan apapun yang kita harapkan, belum tentu itu yang terbaik untuk kita. Analoginya, kita ini seorang anak kecil yang idealis, mengharapkan rencana dan harapan kita terwujud karena kita pikir itulah yang terbaik untuk kita. Kita akan marah jika semuanya tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Barulah setelah kita bisa melewati atau menerima hal-hal yang tidak sesuai itu, kita akan sadar. Oh iya ya, ternyata yang benar-benar saya inginkan itu ya yang seperti ini. Itupun kalau kita sadar dan bisa mengambil hikmahnya. Akhirnya kita mengerti, memang sebegitu hebatnya rencana-rencana Allah SWT untuk kita. 

Terkadang, manusia sendiri yang terlalu banyak berulah dan menciptakan kondisi-kondisi yang bisa membuat diri sakit hati, entah sadar atau tidak. Sebenarnya kita mengerti, hanya karena kita tidak merasakan efeknya sekarang, kita santai-santai saja. Terkadang manusia, termasuk diri saya sendiri, terlalu impulsif terhadap banyak hal. Contoh mudahnya, sedikit saja kita merasa kalau he/she is the one, tanpa pikir panjang langsung melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Boleh jadi saat ini kita sedang mengagumi atau dekat dengan seseorang, tapi hal itu bukan jaminan apapun. Seyakin apapun kita dengan seseorang, kalau Allah SWT sudah berkehendak dan mendatangkan orang lain yang memang Dia ciptakan untuk kita, kita bisa apa. Medianya  bisa banyak, kenal hanya karena berpapasan seperti pada foto di atas, diperkenalkan, atau tanpa perkenalan tapi memang sudah jalannya bahwa dia untuk kita. Bukan hal yang salah menyimpan sesuatu yang tidak biasa kepada seseorang, tetapi mungkin sebaiknya dinetralisir dan diarahkan ke hal-hal yang positif. Akan ada pertandanya kok sebelum hal-hal besar atau kecil datang, entah itu soal kuliah, pekerjaan, atau pilihan-pilihan yang lain. Makanya, yuk peka!

Saya sempat menanyakan pertanyaan ini pada beberapa teman, dan menurut saya ini jawaban yang paling pas.

"Bagaimana cara kita membedakan pertanda dan kebetulan saja?"

"Intuisi. Bisa dilatih kok."

"Demi Allah kalau seandainya hati kita itu bersih, maka akan terasa tercabik-cabik tatkala kita terhalangi dari suatu kebaikan." - Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Semoga hati kita senantiasa bersih dan terpaut pada kebaikan, juga terbuka akan segala pertanda dan pengingat yang ada di sekitar kita. Selamat melatih intuisi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.