Semenjak berdomisili di Malang, saya lebih sering mengunjungi toko buku. Hal ini karena jarak toko buku dengan tempat tinggal saya di sana cukup dekat, yaitu sekitar 15 menit berjalan kaki. Berbeda dengan di Sidoarjo yang jarak toko buku terdekatnya sekitar 10-15 menit bersepeda motor, itupun toko buku yang buku-bukunya kurang update. Sepertinya memang fokus utamanya berbeda. Disana menjual alat tulis kantor dan berbagai buku bacaan. Namun, buku-buku yang dijual bukanlah buku-buku yang baru dirilis. Sedangkan toko buku yang menjual buku dan alat tulis kantor yang lebih lengkap harus ditempuh sekitar 20-30 menit bersepeda motor, di perbatasan Sidoarjo dan Surabaya. Sedihnya, ketika setahun saya berdomisili di Malang, dibangun toko buku yang benar-benar lengkap...
Hampir setiap bulan ada saja hal yang membuat saya pergi ke toko buku. Entah memang ingin membeli buku, kuas, Sharpie, mengantarkan teman, atau sekadar ingin melihat-lihat. Rasanya lebih bermanfaat dibandingkan dengan window shopping baju, tas, make-up, sepatu atau hal-hal lain yang biasa perempuan cari. Entah kenapa, menyenangkan saja, melihat buku-buku yang mungkin baru pertama kita lihat, mencoba menebak-nebak isinya lewat sinopsis di bagian belakang buku. Biasanya saya pergi dengan seorang teman. Kebetulan jenis buku kesukaan kami berbeda, dia lebih senang membaca komik. Jadi begitu sampai di toko buku, kami berpisah ke rak favorit masing-masing. Lalu ketika bosan, biasanya saya mengekor dia ke rak komik dan bertanya ini itu, begitupun sebaliknya. Tak jarang kami berlama-lama di sana lalu keluar tanpa membawa apa-apa. Tapi seringnya sih membawa perasaaan desperate karena melihat buku yang sudah lama ingin kami beli, lalu teringat keperluan lain yang berebut ingin diprioritaskan. Agak menyedihkan memang.
Rak-rak buku cantik berjajar ditemani alunan musik yang easy-listening, entah mengapa jadi healer tersendiri. Mungkin itu salah satu strategi industri agar customer senang berlama-lama di toko buku. Bagi beberapa orang, mungkin pergi ke toko buku tanpa alasan yang jelas akan membosankan, bahkan stigma yang ada di pikiran mereka toko buku adalah tempat yang old-school dan sama sekali tidak menarik, mirip-mirip seperti perpustakaan. Banyak tempat yang lebih menyenangkan seperti karnaval, alun-alun atau cafe-cafe yang bertebaran di setiap sudut kota.
Saya sangat menyukai buku, hingga kemudian saya membaca tulisan Aan Mansyur di sini (you should read that!) yang mengatakan bahwa :
Memiliki banyak buku bukan gaya hidup yang baik dan sama sekali tidak layak dibanggakan. Jika senang membaca, anda akan menghabiskan banyak uang untuk membeli buku. Dunia penerbitan buku adalah dunia industri. Memajang banyak foto buku di Instagram, seperti yang kerap saya lakukan, tidak berbeda dengan memajang foto-foto jam tangan, mainan terbaru, atau kota terakhir yang dikunjungi.
Membeli banyak buku—meskipun lebih bagus daripada membeli banyak telepon genggam atau pakaian model terbaru—tetaplah laku konsumsi. Jika anda penggemar serial Harry Potter, misalnya, anda akan cenderung menonton filmnya dan membeli pernak-pernik yang berhubungan dengan buku tersebut. Begitulah industri bekerja.
Hasil penelitian Rahma Sugiharti yang terbit jadi buku berjudul Membaca, Gaya Hidup, dan Kapitalisme (Graha Ilmu, 2010) mengulas cukup baik mengenai ini.
Semakin banyak anda membeli buku, semakin anda memperkaya segelintir pengusaha buku. Terutama jika anda hanya mau berbelanja di toko-toko buku besar semacam Gramedia atau Amazon.
Saya tidak menyarankan anda berhenti beli buku. Selain pustakawan, saya seorang penulis dan, tentu saja, saya ingin orang lain membeli buku-buku saya. Tetapi, berbeda dengan pakaian, satu buku bisa digunakan orang selain anda.
Belilah buku-buku bagus tapi jangan semata-mata demi kepentingan sendiri—dan jangan untuk tujuan supaya Anda bisa tampak lebih berbudaya daripada orang lain. Buku, seperti barang-barang lain, bisa tampil sebagai simbol-simbol semu kelas tertentu. Buku punya kekuatan menjadi benteng tebal yang memisahkan anda dari orang lain.
Well, that slapped me quite hard. Beberapa dari kita senang memiliki banyak buku. Padahal pada saat yang sama, sadar atau tidak sadar—sekali lagi, meskipun lebih baik daripada beberapa industri lain—kita telah menjadi korban industri penerbitan. Selain itu, beberapa dari kita yang menyukai buku, termasuk saya, biasanya tidak mudah meminjamkan buku-buku yang kita miliki ke sembarang orang. Padahal buku tersebut bisa memberi pengetahuan kepada orang lain lebih dari yang kita dapatkan. Hal itu lebih baik dibandingkan buku tersebut meringkuk di rak yang padahal belum tentu akan kita baca ulang nantinya. Lebih buruknya, jangan sampai buku menjadi objek agar kita tampak lebih baik dibandingkan orang lain. Poinnya, jika kita tidak menggunakan hal baik dengan cara yang baik untuk kepentingan yang baik, maka hal tersebut akan kehilangan maknanya. Terima kasih kepada Aan Mansyur yang telah memperbaiki cara pandang saya.
Last but not least : if you feel you're stupid, read books. If you think you're smart, read more books.
mbak toko buku di sidoarjo yang baru dibangung itu apa nama tokonya? saya pengin beli barakallhu laka ust salim di sekitar sidoarjjo
BalasHapusYang saya maksud Gramedia di Lippo Plaza. Waktu saya menulis posting ini sih masih baru buka beberapa bulan hehe. Kalau tidak ada di toko buku, bisa order ke penerbitnya langsung mungkin, atau ke bukabuku.com. Semoga membantu~
BalasHapus