Selasa, 27 September 2016

Memang, Seperti Katamu

oleh Aslan Abidin

Memang pertemuan itu sepele saja
seperti dusta yang tak terencana, atau suara
tawa yang iseng. Seperti katamu. Tapi mengapa
tertinggal rindu yang memekik bagai suara
tuter yang ditekan tak sabar?

Memang cinta itu masih ada.
Seperti katamu. Tapi pada bagian mana
di hati kita ia tergeletak?

Percintaan kita sebentar saja memang.
Seperti katamu : bagai lolong anjing
di kejauhan. Hanya untuk kita merapatkan selimut.
Atau denting tiang listrik yang dipukuli orang
di ujung gang, sekadar untuk memperjelas larut.

Tapi mengapa kita
mencari-cari tempat melambai ketika
berpisah?

Memang pada saat itu, kita tak berkata apa-apa.

Makassar, 1996.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.