Bulan Agustus lalu, saya mulai memasuki semester lima studi saya, psikologi. Saat itu, saya diharuskan untuk memilih konsentrasi, atau yang biasa disebut dengan peminatan. Terdapat lima pilihan, yaitu psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi sosial serta psikologi industri dan organisasi. Pada awalnya saya sedikit sulit untuk memilih antara psikologi klinis dan psikologi perkembangan. Psikologi klinis berfokus pada pemahaman dan penanganan masalah-masalah psikologis, meningkatkan kemampuan penyesuaian diri dan mengembangkan kapasitas pribadi. Sedangkan psikologi perkembangan berfokus pada perkembangan manusia dari segi fisik, kognitif dan sosioemosional sejak masa prenatal hingga lanjut usia. Saya tertarik dengan keduanya.
Sejak semester dua, saya sudah tertarik dan yakin akan mengambil peminatan psikologi perkembangan. Namun, lambat laun saya mulai tertarik dengan psikologi klinis. Meskipun konsentrasi yang diambil di S1 psikologi tidak banyak berpengaruh di dunia kerja saat lulus nanti, pemikiran idealis dalam diri saya menginginkan saya untuk berkecimpung di dunia dengan konsentrasi yang sama dengan peminatan yang saya ambil. Itulah salah satu alasan mengapa peminatan menjadi begitu penting untuk saya, meskipun tidak bagi beberapa orang.
Saat itu, saya sudah mencoba membaca literatur hingga bertanya kepada kakak tingkat terkait dua konsentrasi tersebut. Namun, saya masih terus ragu. Hingga akhirnya, saya berhenti mencari tahu dan mulai bertanya pada diri sendiri mengenai konsentrasi yang akan saya ambil.
Ternyata benar yang dikatakan oleh Gede Prama. Bagi hati yang ragu, seribu buku suci takkan pernah cukup menasihati. Namun bagi hati yang ikhlas satu kata pun terlalu banyak. Terkadang, kita hanya perlu memahami diri, menyiapkan hati, dan mencoba ikhlas. Dengan begitu, kita bisa mengenali mana yang benar-benar ada sebagai pilihan atau hadir sebagai distrak, membedakan objek nyata dan bayang-bayang. Seperti sebuah ilusi, ia pasti memiliki kontradiksi dengan kenyataan. Seperti bayangan di cermin yang terlihat sama dengan objek aslinya namun bersifat maya. Tugas kita adalah menemukan kontradiksi itu agar dapat menetapkan pilihan yang tepat. Jika diibaratkan sebuah proses konseling, psikolog bukanlah problem solver, melainkan fasilitator bagi kita untuk memecahkan masalah kita sendiri. Bagitu pula dunia eksternal dan diri kita, pada akhirnya semua pilihan akan kembali kepada kita.
Sebab, pada akhirnya kita akan selalu memilih. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak memilih.
Catatan :
Kontradiksi (n) pertentangan antara dua hal yang sangat bertentangan atau berlawanan.
Kontradiksi (n) pertentangan antara dua hal yang sangat bertentangan atau berlawanan.
Konseling psikologi membantu orang-orang dengan masalah kesehatan fisik, emosional dan mental meningkatkan kesejahteraan, mengurangi perasaan tertekan dan menyelesaikan krisis mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.