Selasa, 13 Desember 2016

Cerita Praktikum Vol. 1 : Bita

Semakin lama kita menempuh pendidikan, tentu apa yang kita pelajari akan semakin mendetail ke ilmu yang menjadi konsentrasi kita. Termasuk pada ilmu yang saya pelajari, yaitu psikologi. Pada semester ini, saya mendapat dua mata kuliah yang memiliki kegiatan praktikum, yaitu Tes Inteligensi dan Tes Bakat Minat. Praktikum pada kedua mata kuliah tersebut berupa pengadministrasian alat tes, termasuk scoring, penormaan, dan pelaporannya. Nah, yang membuat praktikum ini begitu menegangkan adalah subjek yang kami gunakan. Kami menggunakan subjek sungguhan, yaitu individu yang merupakan orang lain dan bukannya diri maupun teman-teman kami sendiri. Namun, kami belum bisa membagikan hasil tes tersebut karena kami masih belajar sehingga kami masih memiliki beberapa keterbatasan dalam proses administrasi maupun pelaporan tes tersebut.

Saya melaksanakan praktikum pertama saya untuk mata kuliah Tes Inteligensi sekitar satu bulan yang lalu. Saya dan teman-teman diwajibkan untuk mengadministrasikan satu buah tes yang mengukur kecerdasan anak-anak. Kami diminta mencari satu orang subjek untuk kegiatan praktikum kami masing-masing. Saya sendiri mendapatkan subjek seorang adik perempuan berusia enam tahun yang bernama Bita. Kami diminta untuk membangun hubungan yang baik dan mengakrabkan diri dengan subjek kita masing-masing agar kegiatan tes berjalan dengan lancar.

Tes yang akan kami administrasikan berisi beberapa subtes yang menurut saya cukup menyenangkan bagi anak-anak karena disampaikan dalam bentuk cerita dan beberapa objek permainan. Namun karena durasi tes cukup lama, adik-adik yang menjadi subjek tes bisa saja bosan, mengantuk, atau yang lainnya. Tidak hanya mempengaruhi kelancaran tes, hal tersebut juga dapat mempengaruhi hasil tes. Oleh karena itu, kami diminta untuk cerdik dalam berinteraksi dengan subjek kami masing-masing. Saya sendiri sempat kebingungan karena kami diharuskan untuk menilai jawaban atau performance subjek, melakukan scoring, observasi dan menyiapkan subtes selanjutnya pada saat hampir yang bersamaan serta durasi yang singkat. Namun, hal tersebut sangat menyenangkan karena memberi saya banyak pengalaman dan pengetahuan baru.

Beberapa hari sebelum tes, saya menemui orang tua Bita dan meminta izin agar ia dapat menjadi testee tes psikologi saya. Sehingga pada hari tes saya hanya perlu menjemput Bita di sekolahnya dan menunjukkan surat izin agar ia bisa meninggalkan sekolah lebih awal. Bita adalah anak yang cukup mudah akrab dengan orang lain dalam kelompok kecil. Namun, apabila ia berada bersama orang banyak, ia menjadi lebih pasif. Saya dan Bita sendiri baru bertemu dua kali. Kali pertama adalah beberapa hari sebelum praktikum dan yang kedua adalah saat praktikum. Dalam dua pertemuan itu, kami sudah mengobrol panjang lebar, mulai dari makanan kesukaan hingga keluarganya. Mungkin beberapa saat saya terlihat sok kenal dan sok dekat dengan Bita, tapi terasa bahwa kami nyaman berbincang satu sama lain. Terkadang, untuk mendekati anak-anak mungkin memang kita harus menghilangkan perasaan untuk jaga image dulu.

Kegiatan praktikum berjalan dengan lancar, saya tidak mengalami masalah dalam hal interaksi dengan Bita. Namun saya sempat kebingungan dalam pengadministrasian beberapa subtes. Selain itu, karena ini merupakan ujian, tentu saya merasa tegang. Setelah praktikum, saya mengajak Bita sholat dan makan di kantin kampus. Saat itu, saya bertemu teman-teman yang kemudian bergabung dengan saya dan Bita. Ketika diajak mengobrol oleh teman-teman saya, Bita menjadi lebih pendiam dan menjawab pertanyaan dengan singkat. Sepertinya ia merasa kurang nyaman karena dikelilingi oleh banyak orang yang lebih tua dan tak ia kenal. Di satu sisi, hal tersebut membuat saya merasa spesial karena Bita hanya mengobrol panjang lebar dan merasa nyaman dengan saya. Ia jadi menempel dengan saya. Dia juga menjadi lebih ekspresif ketika berbicara dengan saya. Mungkin karena kita sudah bersama dan berinteraksi cukup lama di rangkaian praktikum tadi. Namun, di sisi lain saya juga merasa bersalah karena menempatkan Bita di keadaan yang membuatnya tidak nyaman meskipun saya selalu ada di dekat dia.

Sebelum mengantar Bita pulang, saya memberinya sebuah buku cerita dan beberapa snack. Namun, ia tidak terlalu antusias dengan apa yang saya berikan. Ia hanya menerimanya dan tidak terburu-buru ingin membuka apa yang saya beri. Ia tetap antusias berbincang dengan saya tanpa menghiraukan apa yang saya berikan. Dapat dikatakan juga bahwa saya belum begitu mengenal Bita. Tidak sebaik ibunya, tidak sebaik saudaranya. Selama bersama dia, saya masih harus menanyakan banyak hal mengenai apa yang ia butuhkan atau ingin ia lakukan. Seperti apakah ia lelah, lapar, atau ingin ke toilet. Namun saya sudah merasa dekat dengan dia. Mungkin memang benar apa kata Teddy Roosevelt, children do not care how much you know until they know how much you care.

Hal yang paling saya ingat dari Bita adalah hal sederhana. Ia selalu memulai menggunakan sesuatu dari bagian kanan. Seperti memakai pakaian, tas, kaos kaki. Hal yang mungkin sering kita sepelekan. Dari dua pertemuan singkat dengan Bita, saya belajar banyak.

Baik-baik ya, Bita. Sampai ketemu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.