Membuat akun Tumblr dan menulis beberapa catatan kecil di sana membuat saya teringat bagaimana saya mulai menulis. Saya bukan tipikal orang yang benar-benar menikmati berbicara di depan umum, dan menulis hadir menjadi penawar bagi hal tersebut. Seperti kata Aan Mansyur, menulis adalah cara kita untuk berbicara kepada orang banyak tanpa harus benar-benar berbicara kepada orang banyak.
Ketertarikan saya dalam menulis diawali dengan ketertarikan saya pada membaca. Saat saya duduk di sekolah dasar, saya sangat senang begitu buku-buku paket baru dibagikan, khususnya buku paket mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sepulang sekolah, saya langsung membaca buku paket tersebut dan menyisir halaman per halaman untuk mencari adakah cerita pendek di setiap babnya. Saya pun langsung meng-khatam-kan cerita pendek-cerita pendek yang ada di buku tersebut hari itu juga. Ketika diingat lagi sekarang, saya pun tidak habis pikir. Selain itu, saya mengikuti les privat Bahasa Inggris ketika saya duduk di kelas empat sekolah dasar, mungkin hal tersebut juga menjadi salah satu faktor yang mau tidak mau membuat saya membaca cerita, mengakrabkan diri dengan kata-kata, dan mempelajarinya.
Orang tua saya bukan tipikal orang tua yang termasuk dengan sengaja menanamkan agar saya senang membaca. Tidak ada dongeng sebelum tidur maupun buku yang bertumpuk di rumah. Namun saat kecil, saya sempat dibelikan beberapa majalah dan komik untuk anak-anak yang biasa dijual di minimarket serta beberapa ensiklopedia. Saya pun jarang melihat orang tua saya dengan terang-terangan membaca buku ketika bersantai. Saat saya duduk di kelas lima sekolah dasar, orang tua saya berlangganan koran. Koran yang dipilih saat itu adalah koran Jawa Pos. Layaknya anak-anak lain, yang saya cari dari sebuah media cetak adalah konten bergambar, yang paling saya sukai adalah rubrik komik strip. Beberapa tahun kemudian, ketika saya duduk di sekolah menengah pertama, saya beralih pada rubrik remaja, yaitu Deteksi. Ditambah lagi, terdapat artikel mengenai pendapat figur publik remaja tentang tema yang di angkat setiap harinya. Semakin besar, saya juga menyukai rubrik cerita pendek yang saat itu dipublikasikan setiap hari Minggu. Ada kebahagiaan tersendiri begitu koran diantar oleh bapak loper dan saya membacanya lebih dahulu dari ayah saya. Saya yang biasanya langsung melompat ke rubrik yang saya suka dan hanya membaca konten tersebut, mulai tertarik untuk membaca berita dan konten-konten lain.
Pada saat saya duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, saya diminta untuk mewakili kelas saya pada sebuah kompetisi menulis esai -yang kalau tidak salah- dalam rangka peringatan Hari Pendidikan. Mungkin, kompetisi tersebut merupakan awal saya menulis -disamping tugas-tugas sekolah yang menuntut untuk menulis. Saat itu, saya diminta untuk menulis sebuah tulisan argumentatif mengenai pendidikan dengan beberapa pilihan tema. Bagian yang tak disangka-sangka adalah saya berhasil menjuarai kompetisi tersebut. Rasanya senang sekali ketika nama saya dibacakan sebagai juara saat upacara pada hari Senin dan maju untuk diberikan sebuah hadiah. Hadiah yang saya dapat adalah sebuah novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban oleh Ginatri S. Noer dengan Revalina S. Temat pada halaman sampulnya. Sedangkan filmnya sendiri baru saya tonton pada saat sata duduk di sekolah menengah atas. Buku tersebut menambah kesukaan saya terhadap membaca. Ditambah lagi, saat itu keluarga saya mulai sering mengunjungi toko buku - meskipun terkadang saya dilarang membeli buku ketika mendekati ujian akhir semester. Nakalnya, saya justru membeli buku pelajaran sebagai kedok agar saya bisa membeli buku bacaan lain.
Sekitar tahun 2010, media sosial Twitter menjadi media sosial yang sangat populer. Saya pun bergabung dan menemukan beberapa akun yang mempublikasikan sajak-sajak dan puisi. Karena sudah mulai suka membaca, bisa dibilang saat itu saya memiliki selera tersendiri terhadap suatu tulisan. Hal yang saya syukuri adalah saya sudah cukup bisa membedakan tulisan mana yang memang indah dan mana yang cheesy -tentu saja berdasarkan selera saya saat itu. Membaca, membaca, dan membaca -pada akhir sekolah menengah pertama, saya tergerak untuk membuat sebuah akun Blogger dan membuat beberapa tulisan -yang juga pada platform ini. Saya sempat mengirimkan sebuah tulisan pada komunitas menulis untuk dimuat di websitenya. Saya pun terkaget-kaget ketika kolom notification Twitter saya dipenuhi oleh orang-orang yang selama ini saya kagumi tulisannya. Saya juga sempat mengirimkan sebuah puisi untuk dibukukan secara terbatas oleh sebuah komunitas yang saya sendiri tidak membeli bukunya.
Bacaan saya mungkin bukan bacaan berat mengenai sosial dan politik atau novel-novel terjemahan. Fluktuasi saya dalam menulis juga tidak drastis, baik dari segi karir maupun jumlah tulisan. Pembaca saya hanya pada kalangan teman-teman saya dan beberapa teman dunia maya. Namun, saya menikmatinya. Saya memiliki media ekspresi yang di dalamnya saya bebas mengungkapkan apapun tanpa saya harus memberikan banyak syarat pada diri saya sendiri. Dari menulis, saya belajar jujur pada diri sendiri. Saya belajar untuk sistematis dalam menyampaikan apa yang saya pikirkan. Selain itu, saya yang enggan untuk menyampaikan pemikiran saya sebelum hal tersebut cukup sempurna untuk disampaikan - belajar memberi ruang untuk diri saya, pada ketidaksempurnaan yang saya miliki. Dari menulis, saya belajar dewasa.
"Aku menulis untuk membaca kehidupan. Aku menulis untuk berkaca. Aku menulis untuk melepaskan air mata. Aku menulis untuk menjadikanku manusia. Aku menulis untuk membunuh malam. Aku menulis untuk memaknai hidup. Aku menulis untuk bersyukur. Aku menulis karena menulis menyembuhkan. Aku menulis untuk merapikan masa lalu. Aku menulis karena kata-kata bisa menguatkan. Aku menulis untuk menggali hati nurani." - Iwan Setyawan.
Di luar banyak atau sedikitnya kebermanfaatan tulisan saya, saya bertanya pada diri saya sendiri. Sudahkah tulisan saya memfasilitasi diri saya untuk menjadi lebih baik? Karena menurut saya, selain berorientasi pada orang lain melalui apa yang kita sampaikan -bila boleh sedikit egois- tulisan kita juga harus berorientasi pada diri kita sendiri. Dalam artian memberi hak-hak pada diri sendiri. Jika memang aspek tersebut sudah terpenuhi, kita bisa berorientasi pada hal-hal di luar diri kita. Jangan sampai penerimaan atau pengakuan orang lain menjadi syarat utama kita menulis.
Jadi, untuk (si)apa kamu menulis?
Semoga bermanfaat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.