Kamis, 24 Agustus 2017

Cerita Magang Vol. 1 : Pemahaman Baru Tentang Unconditional Positive Regard

Liburan semester kali ini berbeda dengan liburan semester saya pada tahun-tahun sebelumnya. Liburan yang biasanya berjangka waktu sekitar dua setengah bulan, pada tahun ini sedikit menciut menjadi sekitar tiga minggu. Hal ini dikarenakan saya perlu menyelesaikan kewajiban akademik saya yaitu magang.

Awalnya saya memilih sebuah sekolah dasar Islam sebagai tempat saya magang. Namun karena beberapa hal, saya berpindah dan magang di sebuah SLB. SLB tersebut merupakan bagian dari sebuah yayasan. Jumlah siswa perkelasnya adalah lima orang dengan berbagai keistimewaan, yang paling dominan adalah tuna grahita. Kemudian terdapat pula anak-anak dengan autis, down syndrome, hiperaktif, tuna daksa tuna rungu, dan lain-lain

Sejak hari pertama saya berada di sana, saya menemukan banyak hal baru. Termasuk pemahaman baru mengenai konsep unconditional positive regard yang pernah saya tulis di sini. Seperti yang saya tulis di sana, unconditional positive regard adalah pemberian penghargaan tanpa syarat dari individu ke individu lain. Umumnya, unconditional positive regard dikembangkan sejak masa kanak-kanak oleh keluarga. Apabila, unconditional positive regard ini terpenuhi, anak bisa tetap merasa disayangi oleh keluarganya dalam kondisi apapun. Bagi beberapa orang, memberikan penghargaan tanpa syarat mungkin bukan hal yang mudah, terlebih bagi mereka yang belum memahami : harus mendapat nilai baik, harus duduk diam, harus les piano, harus berani bicara. Namun, bagaimana dengan memberikan penghargaan tanpa syarat kepada mereka yang tidak sempurna? Mereka yang sudah berusia dua belas tahun namun belum mampu membaca, mereka yang seharusnya duduk di bangku SMP namun masih duduk di kelas satu SLB, mereka yang seharusnya belajar perkalian namun dalam sepuluh menit dapat menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali. Menerima mereka tanpa syarat, with all of their imperfections.

Ada hal yang tak kalah menariknya dari murid-murid tempat saya magang. Ada dia yang begitu pandai merangkai bunga, meskipun dalam kemampuan akademik ia sangat kurang. Ada dia yang begitu hormat kepada guru. Ada yang begitu peduli terhadap sesamanya. Semuanya lebih. Lebih dari kita yang mengklaim diri normal ini.

Syarat memang baik : sebagai pelecut, penyemangat, pengingat. Namun, masihkah menjadikan syarat sebagai dinding tinggi untuk bisa menerima orang lain?

Mari berpikir kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.