Liburan semester kali ini berbeda dengan liburan semester saya pada
tahun-tahun sebelumnya. Liburan yang biasanya berjangka waktu sekitar
dua setengah bulan, pada tahun ini sedikit menciut menjadi sekitar tiga
minggu. Hal ini dikarenakan saya perlu menyelesaikan kewajiban akademik
saya yaitu magang.
Awalnya saya memilih sebuah sekolah dasar Islam
sebagai tempat saya magang. Namun karena beberapa hal, saya berpindah
dan magang di sebuah SLB. SLB tersebut merupakan bagian dari sebuah
yayasan. Jumlah siswa perkelasnya adalah lima orang dengan berbagai
keistimewaan, yang paling dominan adalah tuna grahita. Kemudian terdapat
pula anak-anak dengan autis, down syndrome, hiperaktif, tuna daksa tuna
rungu, dan lain-lain
Sejak hari pertama saya berada di sana, saya menemukan banyak hal baru. Termasuk pemahaman baru mengenai konsep unconditional positive regard yang pernah saya tulis di sini. Seperti yang saya tulis di sana, unconditional positive regard
adalah pemberian penghargaan tanpa syarat dari
individu ke individu lain. Umumnya, unconditional positive regard
dikembangkan
sejak masa kanak-kanak oleh keluarga. Apabila, unconditional positive
regard
ini terpenuhi, anak bisa tetap merasa disayangi oleh keluarganya dalam
kondisi
apapun. Bagi beberapa orang, memberikan penghargaan tanpa syarat mungkin
bukan hal yang mudah, terlebih bagi mereka yang belum memahami : harus
mendapat nilai baik, harus duduk diam, harus les piano, harus berani
bicara. Namun, bagaimana dengan memberikan penghargaan tanpa syarat
kepada mereka yang tidak sempurna? Mereka yang sudah berusia dua belas
tahun namun belum mampu membaca, mereka yang seharusnya duduk di bangku
SMP namun masih duduk di kelas satu SLB, mereka yang seharusnya belajar
perkalian namun dalam sepuluh menit dapat menanyakan pertanyaan yang
sama berkali-kali. Menerima mereka tanpa syarat, with all of their imperfections.
Ada
hal yang tak kalah menariknya dari murid-murid tempat saya magang. Ada
dia yang begitu pandai merangkai bunga, meskipun dalam kemampuan
akademik ia sangat kurang. Ada dia yang begitu hormat kepada guru. Ada
yang begitu peduli terhadap sesamanya. Semuanya lebih. Lebih dari kita
yang mengklaim diri normal ini.
Syarat memang baik : sebagai
pelecut, penyemangat, pengingat. Namun, masihkah menjadikan syarat
sebagai dinding tinggi untuk bisa menerima orang lain?
Mari berpikir kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.