Senin, 28 Mei 2018

Cerita Magang Vol. 4 : Menjadi Ibu Guru

Saya baru saja membaca tulisan Kak Jamika, salah satu senior saya di SMA, mengenai pengalamannya mengajar di PAUD. Lalu tulisan tersebut mengingatkan saya pada pengalaman saya saat menjalani praktik kerja nyata tahun lalu (tulisannya dapat dibaca di link ini). Saya menjalani praktik kerja nyata di sebuah sekolah luar biasa di Kabupaten Malang. Di sana, terdapat berbagai karakter murid dengan berbagai keistimewaannya : down syndrome, autis, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu, ADHD, dan lain-lain.

Bicara tentang mengajar, saya berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan mengajar di kampus setiap tahunnya. Pada tahun pertama perkuliahan, saya menjadi volunteer pengajar akademik di Brawijaya Mengajar. Lalu pada tahun kedua, saya menjadi pengajar di kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh himpunan jurusan saya, Psychology Schooling Project. Namun, rasanya begitu berbeda dengan praktik kerja nyata, baik dari segi waktu maupun keterlibatan. Di kegiatan volunteering, biasanya kita hanya mengajar sekali dalam seminggu dengan durasi sekitar dua sampai empat jam. Sedangkan di praktik kerja nyata, saya mengajar dari hari Senin sampai Sabtu dengan durasi empat jam. Jika pada kegiatan volunteering kita hadir hanya untuk mengajar, pada praktik kerja nyata biasanya kita dilibatkan pula dalam evaluasi pembelajaran. Seperti pengajar lainnya di sana, mereka memanggil saya dengan sebutan ibu guru. Mungkin ibu guru hanyalah sebuah kata sapaan, namun rasanya begitu berbeda ketika kita dipanggil dengan sebutan ibu dan kakak. Rasanya masih malu menyebut diri dengan panggilan itu.

"Bu, biru muda mana biru muda?"
"Yah, Bu. Kok baca lagi..."
"Bu Ayu, Bu Ayu!"

Rasanya sulit untuk dideskripsikan. Kalau kata Kak Jamika, "Begitu menyenangkan dan menenangkan rasanya. Menjadi seorang yang biasa saja namun pada diri sendiri muncul suatu perasaan yang luar biasa. Seperti bahagia dengan cara yang sederhana, seperti puas dengan diri yang biasa saja.". Kira-kira begitu rasanya. Ya, biasa saja. Kegiatan yang kami lakukan seperti sekolah pada umumnya. Belajar di kelas, senam bersama, istirahat, bercengkrama. Namun rasaya begitu menyenangkan. Menyenangkan yang menenangkan.

Menjadi ibu guru magang, rasanya begitu bahagia. Lalu bagaimana jika menjadi ibu guru sungguhan? Mengajar di sekolah sungguhan, menjadi pendidik sungguhan, dipercaya oleh wali murid sungguhan. Memang, tidak akan mudah. Berpikir rumit untuk sesuatu yang sederhana, dan menyederhanakan sesuatu yang rumit. Namun, semoga bisa berkesempatan merasakannya.

Segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.