Pada bulan Maret kemarin, saya dan beberapa teman diberi kesempatan untuk berkunjung ke Sapporo. Kami berkunjung ke sana dalam rangka mengikuti HISAS (Hokkaido-Indonesia Student Asscociation Scientific Meeting) setelah sebelumnya mengirimkan paper dan lolos untuk mempresentasikannya di sana. Kegiatan tersebut diadakan oleh PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Hokkaido. Perkenankan saya bercerita sedikit mengenai perjalanan tersebut, khususnya dari sisi religiusnya. Ada beberapa hal yang membuat saya sangat bersyukur menjadi seorang muslim di Indonesia dan diizinkan memaknai beberapa hal. Semoga bisa memberikan manfaat!
Pertama, masjid di Sapporo sedikit jumlahnya. Di sana saya hanya mengunjungi satu masjid, yaitu Masjid Sapporo. Pun masjid tersebut tidak berbentuk masjid seperti pada umumnya di Indonesia, namun seperti flat yang difungsikan sebagai masjid. Lantai satu untuk jamaah laki-laki, dan lantai dua untuk jamaah perempuan. Setiap hari Sabtu, diadakan pertemuan rutin muslim Sapporo di sana. Mereka berasal dari berbagai macam negara, antara lain Jepang, Pakistan, Turki, dan lain-lain. Di sudut Sapporo lain, terdapat satu masjid yang lebih besar, yaitu Masjid Otaru. Bentuknya juga seperti masjid pada umumnya. Untuk shalat di luar penginapan saya hanya melakukan di 4 tempat, yaitu di dekat hall School of Environmental Education Hokkaido University, Masjid Sapporo, prayer room di Tanukikoji dan prayer room di Sapporo Station. Di Sapporo, jumlah prayer room jauh lebih banyak dibandingkan jumlah masjid.
Pernah terbayang kah rasanya ada di antah berantah lalu menemukan rumah Allah dan saudara seiman? Bahkan mendengar salam pun rasanya sangat meneduhkan.
Kedua, di Sapporo Station terdapat prayer room yang bersih dan nyaman. Tempatnya tertutup dan terpisah bersebelahan antara laki-laki dan perempuan. Station di sana tidak hanya berisikan stasiun saja, namun juga terdapat pusat perbelanjaan yang megah seperti mall. Sehingga, prayer room tersebut berada di antara toko-toko. Hal uniknya adalah setiap orang yang shalat di sana harus mengisi daftar jamaah. Daftar tersebut diganti setiap harinya, jumlahnya sebanyak satu lembar A4 dan kurang lebih memuat sekitar 30 nama. Jika jumlah jamaah yang shalat di sana tidak memenuhi daftar tersebut dalam waktu lama, bisa jadi prayer room tersebut ditutup. Jadi kata teman-teman, terkadang jamaah yang shalat di sana harus memalsukan nama untuk memenuhi daftar jamaah tersebut.
Ketiga, di negara minoritas muslim, muslim tidak selalu dipandang negatif. Mungkin pernyataan tersebut dapat dibenarkan di beberapa negara, kota, atau tergantung individunya. Namun tidak dapat digeneralisir. Karena saya berhijab, tentu hal tersebut menunjukkan identitas saya sebagai pemeluk agama Islam. Meskipun beberapa mahasiswa muslim di sana juga memakai jilbab, tentu jilbab bukan menjadi hal yang umum di Sapporo.
Saat saya terpeleset karena tidak biasa berjalan di atas salju, saya ditanyai oleh seorang lelaki paruh baya, "Daijobu desu?" ("Kamu tidak apa-apa?"), yang lalu dijawab oleh teman saya, "Hai, daijobu desu." ("Ya, tidak apa-apa."). Saya sendiri hanya menjawab dengan senyum karena kesakitan, haha. Di saat saya dan teman-teman kebingungan mencari jalan, tidak jarang kami dihampiri dan ditanya oleh warga sekitar apakah kami perlu bantuan, padahal kami tidak bertanya lebih dulu. Namun, rupanya bahasa menjadi kendala utama. Mayoritas warga sekitar yang kami temui tidak menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Jika mereka merasa tidak bisa membuat kami mengerti mengenai arah jalan yang mereka tunjukkan, mereka akan mengantarkan kita mendekati tujuan. Bagi saya, hal tersebut menunjukkan kepedulian mereka terhadap orang lain, khususnya dalam konteks pendatang atau turis.
Keempat, mengenai menjadi minoritas. Dengan menjadi minoritas, kita belajar memposisikan diri untuk menghormati orang lain yang berbeda dengan kita, khususnya dalam hal keyakinan. Namun di saat yang sama, kita juga harus memegang teguh prinsip kita. Misalnya mengenai waktu shalat, makanan yang bisa kita makan, bersalaman dengan lawan jenis, dan lain-lain. Mungkin menjadi hal yang mudah untuk melakukannya apabila kita diposisikan sebagai mayoritas. Namun, apabila kita sedang diposisikan sebagai minoritas, rasanya seperti Allah sedang melakukan tes aqidah kepada kita, haha.
Kelima, dalam hal mengusahakan diri sebelum mengambil rukhsah. Di Sapporo, saya dan teman-teman sempat kesulitan menemukan makanan halal. Sebelum bertemu dengan teman-teman Indonesia yang berkuliah di sana, kami belum banyak mengetahui restoran yang menjual makanan halal karena mereka pun tidak selalu memberikan tanda tertentu di restorannya apabila mereka menjual makanan halal. Sementara seperti yang sudah saya katakan di awal, bahasa cukup menjadi kendala. Pun jika makanan yang ada tidak mengandung babi, kami khawatir makanan tersebut mengandung mirin di dalamnya. Saat kami menemukan sebuah restoran halal, harganya sangat mahal. Sehingga kami memilih untuk memasak atau membeli makanan di minimarket yang menurut kami terjamin kehalalannya. Begitu pula mengenai shalat, apakah kami memilih untuk mengashar shalat atau itmam. Kembali lagi, menyesuaikan kondisi agar tetap bisa menyempurnakan ibadah sekaligus tidak memberatkan diri sendiri. Saya pun teringat satu ayat :
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" - QS. Fusshilat : 53.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri. Tidak cukupkah? Mungkin memang begitu seharusnya. Sejauh apapun kita pergi, untuk apa jika tidak semakin menambah keimanan kita kepada-Nya?
Semoga bisa memberikan manfaat, serta kita diberi kesempatan dan kejernihan hati untuk mengagumi kebesaran Allah melalui ciptaannya agar iman kita semakin kuat. Allahuma aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.