Jumat, 15 Februari 2019

Makna Produktif, Perempuan, dan Rumah Tangga

Selama kurang lebih dua bulan kembali ke rumah, saya mencoba beradaptasi dengan rutinitas dan lingkungan lama yang kini terasa baru. Rasanya sedikit jetlag. Saya yang sejak dua tahun lalu terbiasa hampir setiap hari berkegiatan di luar tempat tinggal karena tuntutan organisasi, dari pagi hingga sore atau bahkan malam, harus berubah rutinitasnya menjadi lebih banyak tinggal di rumah. Padahal, selama menjadi mahasiswa saya begitu menikmati waktu di mana saya tidak memiliki agenda apapun dalam satu hari. Saya memanfaatkannya untuk benar-benar tidak pergi kemanapun, recharge diri. Namun, kini rutinitas di rumah terasa menjemukan. Mungkin memang benar, kita bisa menghargai waktu sibuk di waktu lapang, dan menghargai waktu lapang di waktu sibuk.

Pada awalnya, saya sedih karena merasa tidak menghabiskan waktu dengan baik, merasa tidak produktif. Saya pun mencoba mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan di rumah ; membereskan rumah hingga ke sudut, blogging, membaca buku, memasak, membuat craft, streaming Youtube, dan lain-lain. Selain itu, saya mencoba mencari komunitas yang ada di kota saya, namun ternyata tidak banyak komunitas yang ada. 

Saya memaknai kembali apa arti kata produktif. Apakah produktif hanya bisa dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan seperti bertemu dengan orang banyak, pergi dari satu tempat ke tempat lain, dan harus terasa melelahkan. Saya membaca salah satu Instastory dari Kurniawan Gunadi yang menyatakan bahwa pemaknaan terhadap produktivitas itu penting, karena di situlah kita bisa memberi apresiasi dan nilai atas aktivitas kita sehari-hari. Kita bisa membuat definisi produktif kita sendiri. Mungkin bagi sebagian orang, definisi produktifnya adalah seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Namun, saya menemukan bahwa produktif adalah ketika kita memanfaatkan waktu kita untuk investasi diri atau orang lain, dan melakukan hal-hal yang menimbulkan perubahan ata kebermanfaatan. Meskipun kita ada di rumah sepanjang hari, bisa saja kita lebih produktif dari orang lain yang rutinitasnya ada di luar rumah, tergantung apa yang kita kerjakan. Hal sesederhana membereskan rumah atau beraktivitas menggunakan handphone pun bisa jadi produktif bila kita bisa mengambil manfaat darinya. Oleh karena itu, memaknai dan mengambil manfaat dari apa yang kita lakukan itu penting. Kita bisa memiliki rutinitas yang sama dengan orang lain, namun tidak semua bisa mengambil manfaat atasnya.

Saya mencoba mengaitkan produktivitas dengan perspektif saya sebagai seorang perempuan dan rumah tangga. Menurut saya, tanggung jawab terbesar perempuan ada pada rumahnya. Di sana, ada hal-hal yang tergantung pada seeorang perempuan akan menjadi besar atau kecil. Bukan berarti semuanya tergantung pada perempuan, namun perempuan memegang peranan penting di sana. Sebut saja pendidikan anak, pengelolaan keuangan, hingga nilai seperti apa yang hendak diciptakan di rumah tersebut. Namun, kita semua tahu bahwa di Indonesia ibu rumah tangga identik dengan perspekif tidak produktif. Kembali lagi, hal ini dikarenakan adanya perbedaan makna produktif bagi sebagian orang. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa ilmu yang telah dimiliki harus benar-benar diterapkan di bidangnya atau potensi yang dianggap tidak terasah jika seorang perempuan hanya tinggal di rumah. Menurut saya, begitu banyak hal yang bisa dikerjakan dirumah selain rutinitas rumah tangga, misalnya  membaca buku, menulis hal yang bermanfaat di media sosial, membangun usaha, menyiapkan metode permainan anak, menginisiasi social project di daerah tempat tinggal, atau apapun yang memanfaatkan keahlian yang dimiliki, dengan beberapa pengecualian. Saya memiliki prinsip bahwa, selain self-healing dan multitasking, salah satu softskill yang sebaiknya dimiliki seorang perempuan adalah bisa menyamankan diri di rumah. Bukan harus nyaman di rumah, karena senyaman apapun suatu tempat pasti ada satu titik jemu, melainkan tahu bagaimana cara menyamankan dirinya dirumah, di tempat yang menjadi tanggung jawabnya.

Produktif, soal manfaatnya bukan lelahnya. Lalu rumah, bukan tempat untuk kita tidur saja. Apapun, kamu bebas memaknainya selama kamu tidak mengganggu hak orang lain untuk memaknai dengan cara mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.