Sudah sekitar satu bulan ini saya pulang ke kota asal setelah menyelesaikan perkuliahan. Benar-benar menetap di rumah. Aneh rasanya ketika harus beradaptasi kembali di tempat yang dulunya kita tinggali setiap hari, mungkin karena saya termasuk mahasiswa yang jarang pulang, jika dibandingkan dengan teman-teman yang jarak tempat tinggal dan kampusnya sama jauhnya dengan saya. Apalagi jarak rumah dan tempat saya berkuliah termasuk dekat, hanya sekitar dua jam berkendara. Mulai dari beradaptasi dengan rutinitas di rumah yang sedikit berbeda dengan ketika masih berkuliah, hingga lingkungan sosial yang juga berbeda.
Sambil menunggu wisuda dan di sela-sela mencoba melamar pekerjaan, —selain beraktivitas di rumah, saya menghabiskan waktu untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama yang jarang saya temui dan teman-teman kuliah yang berdomisili dekat dengan rumah, berbagi perspektif tentang arah hidup yang sudah direncanakan dan saling memberi saran. Dari sana, saya memiliki banyak hal yang ingin saya lakukan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, namun masih terhalang beberapa hal. Aktivitas di rumah yang tidak seberagam di kampus pun saya upayakan agar tidak menjemukan, dengan membaca buku, menulis, dan aktivitas-aktivitas lain yang bisa dikerjakan di rumah atau kota saya.
Dalam beradaptasi dan menemukan tempo rutinitas yang pas, saya banyak bertemu dengan orang-orang baru yang sedikit banyak memperluas perspektif saya, yang kebanyakan adalah mereka yang berusia paruh baya. Sebuah tantangan tersendiri ketika saya harus menyesuaikan diri ketika berinteraksi dengan mereka, yang tentunya sangat berbeda dengan komunikasi kepada mereka yang seusia dengan saya. Baik menyesuaikan gaya bicara, pola pikir, dan sebagainya.
Saya memikirkan dan menata kembali mengenai hidup seperti apa yang saya inginkan serta butuhkan. Dalam jeda ini, saya menemukan satu poin yang rasanya penting untuk selalu diingat, yaitu perihal mengupayakan barakah. Barakah dalam artian agar apa yang kita miliki bisa menambah ketaatan kita kepada-Nya, albarokatu tuziidukum fii thoah. Terkadang, kita mengusahakan sesuatu namun kita lupa bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada manfaatnya untuk iman kita. Paling tidak, apa yang kita miliki bisa kita niatkan untuk Allah, sekecil apapun itu. Dengan begitu, kita bisa memprioritaskan tujuan hidup dan memilah hal-hal yang benar-benar kita butuhkan atau inginkan.
Semoga segala aktivitas kita, apa-apa yang kita miliki, dan hal-hal yang sedang kita usahakan senantiasa barakah.
Jadi, seperti apa hidup yang kamu inginkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.