Jumat, 03 Mei 2019

Talking About Life Goals and Tools

Beberapa hari ini menemukan konten-konten menarik di berbagai sosial media, Youtube dan Instagram misalnya. Salah satunya adalah salah satu video dari Gita Savitri yang membahas tentang quarter life crisis (videonya bisa dilihat di sini). Di sana, Paul dan Gita menyampaikan kalau semakin dewasa terkadang tujuan hidup kita tidak hanya berfokus di profesi, tapi juga karakter dan value : tentang karakter apa yang ingin kita miliki dan nilai apa yang ingin kita terapkan dalam hidup. Lalu, di channel lain, channel Youtube Hijab Alila, dr. Davrina Rianda yang menjadi narasumber, menyampaikan untuk membedakan goals dan tools dalam hidup (videonya bisa dilihat di sini). Menurutnya, profesi itu termasuk dalam klasifikasi tools. Ketika kita menjadikan tools sebagai goals, kita akan kebingungan jika nanti ada peran-peran yang bertabrakan. Jadi, sebaiknya kita gali lagi apa yang sebenarnya menjadi goals kita. Misalnya goals yang bersifat horizontal seperti ingin bermanfaat untuk orang lain atau yang bersifat vertikal seperti mencari ridha Allah. Ketika nanti ada hal-hal yang datang dan tidak sesuai rencana kita, kita bisa mempertimbangkan untuk mengubah tools kita asalkan goals kita masih bisa tercapai. Dengan berprinsip demikian, rasanya kita bisa lebih tenang dalam menjalani hidup. Kembali lagi, karena kita tahu benar tujuan hidup kita apa. Tidak hanya hal-hal yang mengganggu, namun kita juga tidak akan mudah terdistrak dengan hal-hal yang lebih menyilaukan mata jika hal-hal tersebut tidak sejalan dengan tujuan hidup kita.

Dari input-input yang saya dapat beberapa waktu ini, saya memikirkan kembali tujuan hidup saya. Entah yang sudah saya sadari, maupun yang belum saya sadari. Percaya tidak percaya, ternyata saya punya goals yang sudah dijalani untuk menujunya tapi belum disadari. Lately, I figured that one my life goals is to build a good family, maybe. Terdengar sederhana, namun saya menyadari bahwa keluarga adalah awal dari hampir segalanya, tak hanya yang bersifat duniawi namun juga akhirat. Tentang mengapa saya tertarik pada Psikologi Perkembangan, parenting, anak-anak, mengajar, hubungan antar manusia, dll : ternyata berujung pada satu hal, yaitu keinginan untuk membangun keluarga yang baik, dan saya baru menyadarinya sekarang (selain mungkin karena memang saya menaruh minat di sana). Apa-apa yang ingin saya lakukan pun berujung pada hal-hal yang dapat bermanfaat untuk hal tersebut. Perihal membangun keluarga, saya melihatnya lebih dari sekadar tuntutan sosial. I don't know, but I don't think I want something more than that. Namun sepertinya tujuan tersebut masih perlu diperpanjang menjadi sesuatu yang lebih jauh, baik sesuatu yang bersifat vertikal dan horizontal : dan, saya sedang mencoba untuk mendalaminya.

Tentang berkeluarga, masih jauh mungkin, atau dekat : saya pun tidak tahu. Namun, saya belajar untuk membuatnya tidak memalukan atau tabu dibicarakan, apalagi jika konteksnya adalah untuk mencari ilmu : al 'ilmu qoblal qouli wal 'amali. Selain itu, tidak ada salahnya mengenal hidup dan diri sendiri dengan lebih baik, bukan? Cmiiw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.