di tempatku menyilangkan kaki
sambil menunggu antrian nomor,
enam puluh kilometer menuju pulang
yang sering kutunda menujunya.
Sambil memikirkanmu, aku menimbang;
apakah aku harus pergi atau tidak,
apakah hari ini atau besok saja,
apakah dua hari atau tiga hari,
dan seterusnya, berulang lagi.
Juga pada tawa yang kau bawa
pada kedai-kedai tempat kita
memulai segala kalimat rahasia
dengan kalamullah-Nya,
bersama-sama.
Lalu bagaimana aku bisa pergi
dari hati yang datang setiap hari
dengan kesah dan keluhnya,
juga rekah senyumnya,
— kepadaku.
Mereka; adik-adik kecil dan
teman-teman yang baik,
berangsur tumbuh dewasa,
lalu siap menyemai lembutnya hati
yang lain lagi.
Pada segala kata yang tak sampai,
semoga hari ini juga keesokan hari
kian tumbuh selalu keikhlasanmu
juga aku; dalam membangun cinta
menuju-Nya; senantiasa.
Terima kasih telah mengingatkan,
sebagaimanapun lelahnya, atau
sebagaimanapun aku tidak mengerti
aku tidak pernah ingin pergi
— karena apa.
Kau yang mendengarkanku berkata
pada akhir tahun, dua September lalu
bahwa cinta; yang entah itu apa,
tak hanya perihal dua orang manusia,
tapi juga tentang; kamu tahu kepada siapa.
Kau yang mendengarkanku berkata
pada akhir tahun, dua September lalu
bahwa cinta; yang entah itu apa,
tak hanya perihal dua orang manusia,
tapi juga tentang; kamu tahu kepada siapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.