Rabu, 24 Juli 2019

Teman Baik

Setelah kembali pulang seselesai menyelesaikan kuliah di Malang, saya menjalani semacam long distance relationship dengan teman-teman baik yang saya temui di Malang. Seperti yang saya pelajari di kuliah; semakin kita dewasa, kita akan kehilangan beberapa teman secara kuantitas, namun menjadi semakin dekat dengan teman yang lainnya secara kualitas. Rasanya, kembali pulang ke kota asal membuat seleksi tersebut terasa semakin nyata. Kesibukan yang berbeda membuat kita harus benar-benar berusaha untuk menjaga pertemanan tersebut.

Mayoritas teman-teman baik saya adalah orang-orang yang untuk saya, bisa mengakomodir pikiran saya yang membutuhkan deep conversation, dan mengerti kapan mempersilahkan saya untuk mendominasi pembicaraan, karena saya bukan tipikal orang yang terlalu dominan dalam pembicaraan. Satu frekuensi, kata orang-orang. Alih-alih merasa recharged, berbincang banyak dengan orang yang kurang tepat bisa membuat saya merasa lelah. Bukannya memilih-milih teman untuk berbincang, namun saya rasa, saya adalah tipikal orang yang tidak mudah untuk cocok untuk berteman dekat dengan orang lain, meskipun terkadang orang lain tidak merasa demikian. Pun sebaliknya, tidak banyak orang yang dengan mudahnya merasa cocok untuk berteman dekat dengan saya. Saya hanya memiliki lingkaran pertemanan yang kecil dengan tidak begitu banyak lingkaran, karena menurut saya mereka semua harus diperlakukan sama, dalam hal dihargai, dibagi bahagia dan sedihnya, dipertahankan hubungannya; begitu mereka mendapat predikat teman dekat.

Di kampus, rasanya cukup mudah untuk menemukan teman yang satu frekuensi dari segi pemikiran maupun pembicaraan. Mungkin karena jarak umur antara saya dan teman-teman di kampus termasuk cukup dekat, dan kami memang bertemu di institusi yang sama. Awalnya, saya merasa di tempat tinggal saya pun akan sama mudahnya menemukan teman yang satu frekuensi, namun ternyata usia yang sama pun tidak menjamin sebuah percakapan akan bertemu di titik yang sama. Seringkali saya merasa lelah bersosialisasi, ditambah lagi pemikiran dalam kepala yang tidak dapat tertuangkan. Biasanya, saya menuangkannya pada menulis, atau terkadang terlupakan begitu saja. Pada saat-saat yang memungkinkan, saya akan kembali pada teman-teman baik saya, menghubunginya untuk menanyakan kabar, menceritakan keluh dan bahagia, juga mendengarkan cerita dari mereka. Rasanya seperti pulang setelah sekian lelah berperjalanan.

Saya pun teringat kata seorang kakak tingkat saya, "Kalau kamu punya orang yang tawa dan senyumnya menguatkan hati, dijaga ya.". Rasanya, kalimat itu menjadi benar-benar perlu direalisasikan setelah merasakan betapa berharganya seorang teman yang baik. Bukan karena dia bisa membantu kita di waktu yang sulit, namun karena kehadirannya menguatkan dan mendamaikan hati.  Tak lupa; praying for your friend is so important, because sometimes they'll fight battles they never speak to you about. Make sure they're covered. Mungkin selain waktu, hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seorang teman baik adalah doa-doa terbaik.

Jadi, apakah kamu sudah mendoakan temanmu hari ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.