Malang, yang katanya enam belas derajat, apa kabar? Pukul enam pagi di tempat kita berjumpa, kau yang berbicara di depan dan aku menyimak di belakang; dengan cerita yang disampaikan padaku lebih dulu, dan kemudian diperdengarkan pada semuanya, entah mengapa. Kita tidak memiliki cerita apapun; memandangi lantai sambil menggoyang-goyangkan kaki. Aku tidak cukup berani untuk menerka apa rencanamu dan apakah kau akan datang sebelum kita kehabisan waktu. Justru sepertinya kau akan berubah pikiran di saat aku mulai bertanya-tanya, kemudian berpikir bahwa aku tidak akan apa-apa. Mungkin memang sebaiknya kita tidak pernah saling bicara, yang padahal kita belum pernah saling bersapa. Jika memang tidak apa-apa dan tidak ada apa-apa, mungkin kita bisa berteman baik. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu —yang jelas, senang bisa berbincang denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.